The Midnight Library (Pertemuan Tengah Malam) - Matt Haig [Review Buku]


Eh.. eh.. eh.. pasti kebanyakan disini sudah pada tahu dong buku The Midnight Library ini. Buku ini merupakan buku yang dikarang oleh seorang pengarang buku yang sangat dikenal melalui buku non-fiksi yang berjudul “Reasons To Stay Alive” bernama Matt Haig.

Nah di tahun 2020 lalu Matt Haig mengeluarkan salah satu buku fiksi seputar kehidupan keluarga yang berjudul The Midnight Library ini serta menjadi best seller dimana-mana. Dan di Indonesia sendiri diterbitkan dalam bentuk terjemahan Bahasa Indonesia oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul terjemahannya adalah “Perpustakaan Tengah Malam” yang dirilis saat bulan Juni 2021 yang lalu.

Aku sebenarnya nggak ingin baca ini dalam waktu dekat-dekat ini. Jadi kan waktu pertama rilis (sebelum diterjemahkan) buku ini sudah sangat hype. Banyak bookstagram yang membeli buku impor dan atau membaca lewat ebook. Pas hype itu pengen banget siyh baca juga tapi dikarenakan baru memulai proyek #whatbtsreads jadi terhalang.

Namun ada satu alasan lagi yang membuatku semakin menundanya yaitu karena tema bukunya yang lumayan agak triggering tentang suicide dan mengarah ke duka. Apalagi pas saat itu aku lagi banyak baca buku yang temanya tentang duka. Jadi lumayan nggak pengen baca buku dengan tema-tema sama terlebih dahulu.

Eh tapi gegara di mention RM di In The Soop season 2 Episode 1 yang baru beberapa minggu rilis, akhirnya aku mengesampingkan membaca buku lainnya dan langsung mengambil buku ini sebagai tema diskusi buku Meet Up ke-5 hari Sabtu 30 Oktober 2021 yang lalu. Sehabis dibaca ternyata ga se-triggering itu buatku walaupun tetap hati-hati siyh.

Aku cukup kagum dengan kecepatan membaca diriku sendiri saat itu. Mungkin karena didorong harus diskusi buku jadi aku “memaksa” diriku menyelesaikan buku ini dalam waktu satu minggu dan amazenya aku yang suka menunda-nunda ini berhasil menamatkan satu buku terjemahan 350an halaman ini hanya kurang dari 24 jam, wkwkwkwkwk. Ada bagusnya juga aku bikin jadwal diskusi buku. Aku yang suka slump karena mager jadi ketrigger untuk lanjut baca dibanding scroll media sosial terus, ehehehehe.

Ohya, bagi yang ingin tahu apa kata teman-teman lain terhadap buku ini, boleh di cek di video ini ya.



Yang Disukai

Okeh sekarang kita masuk review dari aku sendiri terkhususnya hal-hal yang aku sukai dari buku The Midnight Library ini. Pertama, aku sangat suka bagaimana cara Matt Haig menggambarkan informasi tentang Mental Health dalam bentuk kisah narasi fiktif seperti ini (apa siyh sebutannya? Mungkin ada yang tahu bisa komen dibawah ya). Jadi tuh baca ini kayak baca buku self-help tapi dalam bentuk cerita. Aku yang dari dulu pecinta novel, jenis buku seperti ini lebih mudah kuserap.

Kedua, coba deh lihat covernya yang cakep. Kedua cover yaitu cover import dan juga cover terjemahannya amat sangat memukau. Sangat menggambarkan sekali tentang perpustakaan di tengah malam. Cover dan isi ceritanya sejalan seakan mematahkan ungkapan, “don’t judge a book by its cover”, wehehehe. Sorry not sorry though, I’m a big fan of gorgeous cover :D.

Ketiga, pemilihan karakter yang seumuran denganku (jadi ketahuan deh umurku wkwkwkwk) justru membuatku makin relate dengan isi ceritanya. Aku jadi banyak merenung disana-sini pas baca karena kok ya apa yang dialami Nora, si karakter utama, mirip seperti apa yang aku rasakan di beberapa tempat. Jadi ini membuatku lebih mudah memahami karakter Nora itu sendiri dengan segala perasaannya.

Keempat, berhubung aku membaca dalam bentuk terjemahannya aku bisa katakan  jenis terjemahannya tidak kaku. Walaupun aku nggak bisa membandingkannya dengan dalam bentuk Bahasa asli (karena aku tidak membaca dalam Bahasa Inggrisnya sebelumnya) tapi aku tetap merasakan bahwa pembahasannya mengalir dan mudah dimengerti. Aku belum bisa menilai dari segi gaya kepenulisannya Matt Haig di buku ini jika dibandingkan dengan buku terjemahan sebelumnya karena ini buku pertama Matt Haig yang aku baca dan langsung dalam bentuk terjemahannya saja.


Yang Tidak Disukai

Ada satu hal yang tidak kusukai dari buku ini. Diawal cerita hingga pertengahan ada beberapa bagian yang membosankan karena phasenya lambat. Ada juga repetitif atau pengulangan yang dari sudut pandangku aku sudah bisa menangkap maksudnya.

Tapi niyh tapi… aku nggak merasakan ini mengganggu, bahkan aku jadi pengen baca ulang (walaupun itu nggak mungkin terjadi karena aku dipelototin TBR ku yang menggunung) karena buku ini sangat menekankan keindahan dari hal-hal kecil. Mungkin ada yang ingin disampaikan dari pengulangan itu yang belum aku tangkap dalam sekali baca. Kalau menurutmu bagaimana? Mungkin bisa tulis di kolom komentar? 



Quote Favorit

Satu-satunya cara untuk belajar adalah hidup. (P.90) 

Jangan pernah meremehkan arti penting dari hal-hal kecil. (P.117)

Aku bermaksud mengatakan bahwa hal yang keliatannya paling biasa-biasa saja bisa jadi akhirnya akan merupakan hal yang membawamu meraih kemenangan. Kau harus terus bergerak. (P.241)


Kasih Rating Berapa?

Overall aku kasih rating buku ini adalah rating 4 bintang dari 5 bintang. Kelihatan lah ya dari hal-hal yang disukai dan tidak disukai diatas. Tapi aku sangat bersyukur membaca buku ini disaat yang tepat. Walau aku baca buku ini udah lewat dari masa-masa hype nya tapi buatku tidak ada yang terlambat untuk membaca sebuah buku. Pada akhirnya kita akan dipertemukan dengan sebuah buku untuk dibaca pada waktu yang tepat. Intinya siyh buku ini masuk jajaran Must Read!!


Borahae

Sandrine JB

@sanwalibrary - @whatbtsreads


You Might Also Like

0 comments