Sudah Ibu-ibu Kok Suka BTS? (Part 2)

Ok, lanjut!! Jadi di postingan ini aku ingin melanjutkan beberapa alasan kenapa aku memutuskan jadi ARMY dan menyukai BTS dengan karya-karyanya (lihat post sebelumnya jika ingin tahu awal mula aku suka BTS).



Memberikan Dampak Positif

Secara umur mereka jauh dibawah aku. Mereka terlahir di angkatan 90an dan aku 80an akhir (walau begitu aku menganggap masih seangkatan dengan angkatan 90an, menolak tua, ahahahaha). Namun yang membuat aku suka pertama kali dengan mereka bukan visualnya tapi attitude dan prestasinya. 

Kalau ditanya pendapatku, menurutku mereka nggak seganteng boy group Korea lain diluar sana, bahkan di Indonesia, banyak yang jauh lebih ganteng dari mereka menurut pengamatanku. But once again, I saw their talent. Talenta mereka yang membuatku kagum. Aku jadi kebayang seperti apa bangganya kedua orang tua mereka masing-masing terhadap prestasi mereka.

Untuk itulah aku sendiri jadi terdorong untuk berdoa supaya anakku bisa seperti mereka. Bukan masalah prestasi materi atau fisiknya tetapi prestasi mental dan sikapnya yang luar biasa humble. Aku jarang sekali menemukan artis idola yang setransparan sekaligus seramah ini.


Lirik Lagu yang Tidak Seadanya

Secara isi lagunya sendiri ternyata nggak cheesy ala-ala lagu boy group kebanyakan dan nggak melulu tentang percintaan. Kalau ditelisik lebih dalam, lagu-lagunya punya pesan yang luas tentang kehidupan. Bagaimana nggak, kalau ternyata karya-karya yang mereka buat berdasarkan banyak sumber literatur seperti buku-buku psikologi, self-help, bahkan Novel. Anggota BTS ternyata kebanyakan gemar membaca walaupun genre bacaannya berbeda-beda. Hyung line yang sering menciptakan lagu-lagu mereka terlihat sangat senang membaca. Bahkan leader-nya, RM, seorang kutu buku sejak kecil, yang memang sudah menjadi budaya yang diajarkan kedua orang tuanya. Duh panutan nggak siyh mama-papanya… pengen ketemu euy :D


Kampanye dan Donasi

BTS sering mengkampanyekan masalah “Love Yourself” yang sesungguhnya menjadi permasalahan pelik banyak anak muda (bahkan hingga orang dewasa) di seluruh dunia. Ini yang membuatku terpesona walau aku bukan anak muda lagi. Tapi pesan kampanyenya itu sangat universal. Apalagi kalau mereka bisa menjadi perwakilan Unicef. Bahkan sekarang menjadi utusan dari negara-nya sendiri untuk menjadi duta generasi muda yang dipilih langsung oleh Presiden Korea Selatan itu sendiri. Apa itu nggak membanggakan. Ditambah lagi member BTS sangat concern dengan situasi dunia sehingga mereka sering berdonasi. Dan budaya donasi ini jadinya kental di kalangan ARMY yang sering juga berdonasi. Nah loh, kurang keren apa coba?



Visual yang Memukau dan Attitude yang Tidak Dibuat-buat

Bohong besar kalau aku 100% tidak menyukai visual mereka. Makin kesini visual mereka makin meresahkan bahkan bisa memikat ibu-ibu sepertiku. Tapi yang aku paling suka dari visual mereka adalah bagaimana mereka merawat diri mereka sehingga mereka berani tampil apa adanya tanpa make-up di acara reality show mereka sendiri (seperti Bon Voyage, In The Soop, Run BTS, dan lain sebagainya). Walau Jungkook memiliki banyak tato, aku malah makin menyukainya. Well jujur aku nggak suka cowok bertato tapi kalau lihat JK, aku ngeliatnya beda aja gitu. Soalnya sikapnya tetep aja kayak bayi. Ya mudah-mudahan mereka memang tetap se-simple dan se-humble itu ya.


Mengajarkan Kerja Keras dan Kerja Cerdas

Saat tulisan ini ku tulis pas banget BTS habis mendapatkan paspor diplomatik untuk menemani presiden Korea Selatan (Presidential Envoy) dan memberikan speech serta pre-recording performance di Majelis Umum PBB ke-76 tanggal 20 September 2021 kemarin (for information, BTS bersama UNICEF di tahun 2018 dan 2020 memberikan pidato di PBB dengan kampanye Love Yourself, keren banget nggak tuh).

Aku ngelihatnya tuh haru banget. Gimana nggak haru. Kalau ada yang tahu, BTS itu udah kayak lagunya Hercules versi Disney, “From Zero to Hero”. Dulu BTS lahir dari agensi yang hampir bangkrut. Sesudah debut banyak yang memandang anak-anak muda ini sebelah mata. Mulai-mulai di notice dan banyak penggemar eh banyak sering dibilang plagiat (walau tidak terbukti). Bahkan akhir-akhir ini disaat tujuh bujang ini udah mendunia kita niyh ARMY dituding manipulasi chart mereka. Nama mereka pun banyak dipakai orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu sebagai PanSos secara negatif. Tapi BTS nggak terpengaruh dengan itu. Mereka bekerja dengan seluruh yang mereka punya, pakai tenaga, otak, dan hati memberikan yang terbaik.

Disinilah aku belajar banyak. Walau sekarang mereka sulit banget diraih (aset negara maju bok tapi dari dulu juga nggak keraih siyh hahaha), tapi minimal perilaku baiknya bisa ditiru  (yang jelek-jelek nggak usah ditiru). Kalau mereka bisa kerja keras dan cerdas kita pun bisa. Mengenai output, masing-masing orang pasti udah pada punya jalan dan rezekinya sendiri-sendiri lah (You Do You kalau kata koh Ruby). Tapi semangat menuju kesananya bisa banget ditiru. Nggak cuman dari BTS-nya.

Dari sinilah aku sendiri malah jadi introspeksi diri lagi, aku sudah melakukan apa saja dan menghasilkan apa saja. Aku bersyukur karena BTS aku punya klub buku sendiri dan lebih PD dalam menciptakan karya lewat media sosial. Bahkan aku jadi terdorong untuk belajar bahasa baru yaitu bahasa Korea. Intinya mereka mengajarkan arti kerja keras dan kerja cerdas. Nahhh kan banyak yang bisa dipelajari dari mereka sehingga kita sendiri bisa berkarya kan?

Aku selalu melihat ini secara keseluruhan. BTS ini berada di rumah (agensi) yang tepat. Bang PD benar-benar teladan pemimpin yang baik (terlepas dari segala kekurangannya karena setiap manusia pasti ada sisi kurang atau buruknya) yang mau mendukung BTS hingga sejauh ini. Bahkan semua crew-crewnya tidak hanya kreatif tetapi juga sepertinya hangat dan profesional terlihat dari hasil setiap performance yang memukai. Those crews were also giving the very best of them.


Jadi Pengaruh Positif

Well, aku bisa kasih 1001 alasan kenapa aku suka banget sama BTS. Yang pasti yang kuambil tentu yang baik-baiknya saja. Aku pun nggak mengagung-agungkan mereka apalagi sampai menyembah. Tetap hanya Yang Di Atas yang ku sembah. Bahkan aku selalu bersyukur sama Tuhan telah nunjukkin BTS untuk bantu aku menjadi diriku sendiri. Kalaupun aku dah kelewat batas pasti aku ditegur Tuhan supaya aku kembali ke batas wajar.

Walau di medsos aku sering update tentang mereka seperti itu, itu murni aku ingin berbagi kebahagiaan saja. Bahkan yang bikin aku happy, aku jadi punya komunitas klub buku sendiri sejak tahu tentang BTS. See, terbukti kalau kita menyingkapi dengan positif, hasilnya pun positif dan bisa jadi karya.

Sudah banyak contohnya diluar sana yang berkarya terinspirasi artis idola. Untuk BTS sendiri ini banyak kok yang bikin buku best seller, sukses dengan proyek donasi, dan hal-hal positif lainnya. Bahkan tidak sedikit yang keluar dari keterpurukan (bahkan keinginan bunuh diri) sesudah mendengar beberapa lagu BTS.



Why Not?

Alasan yang terakhir adalah, “Kenapa nggak??” Kalau ditanya nggak takut kehilangan followers, aku nggak takut, toh yang memperhatikan aku bukan followers tapi keluarga. Selama aku ada dalam batas wajar, tidak menyia-nyiakan keluarga dan tanggung jawab, kenapa nggak? Bahkan BTS lewat salah satu lagunya yang berjudul “Pied Piper” mengingatkan kita untuk tidak terlalu mengidolakan sesuatu sehingga lupa dengan segala tanggung jawab.

Lagian kan nggak bikin rugi yang lihat juga. Kalau memang nggak suka dengan aku upload tentang BTS kan tinggal unfollow aja. Aku akui dengan perubahan jaman yang sedemikian cepat, informasi juga cepat beredar, kadang bisa bikin kita dalam situasi FOMO, but in the end balik-balik lagi ke yang membuat kita nyaman dan bahagia.

Nggak takut di cap toxic? Lah ARMY kan luas, nggak bisa mengeneralisasikan semua ARMY dengan toxic. Aku juga nggak suka dengan hal-hal yang toxic di fandom atau didalam ARMY. Kalau ada yang begitu ya sudah cukup kuabaikan saja atau sedikit-sedikit kasih postingan untuk ningkatin awareness.

Takut nggak mau pada nemenin lagi kalau toxic? Ya balik lagi ke paragraf-paragraf sebelumnya. Lagian ARMY itu juga luas, di dalam circle ARMY sendiri banyak yang non-toxic sehingga masih bisa dijadikan teman. Contohnya? Ya circle ibu-ibu PKK Bighit yang dimana kita sama-sama buat satu komunitas bernama @btsarmyliterasi.id. Atau mereka-mereka yang suka ikut klub buku ku sudah kuanggap teman.

Gimana kalau BTS pensiun? Ya kan hidup itu dinamis ya ikutin perkembangan aja. Aku juga suka BTS bukan berarti nggak suka yang lain-lainnya kok. Aku dari dulu penggemar Sailor Moon, Westlife, dan Coldplay. Aku juga dengerin lagu-lagu lain. Buku-buku yang kubaca tetap beragam. Toh lagu-lagu BTS juga pasti terkenang terus layaknya musisi-musisi lainnya. Yahh aku hanya berharap supaya BTS terus memberikan hal yang positif aja.


Okelah sekian curhatanku. Tapi kayaknya kurang panjang ya?? Ahahaha.

Kalau ada yang mau ditanyain nggak apa-apa kok colek-colek aku di kolom komentar ataupun di DM instagarmku.

Bye bye…


Borahae

Sandrine JB - @sanwalibrary - @whatbtsreads


All Pictures Credit to BTS on Weverse (Hybe) and on Twitter

You Might Also Like

0 comments