Aku Ingin Pulang, Meski Sudah di Rumah [Review Buku]


Apa yang kamu lakukan kalau kamu sudah pulang dan sampai dirumah? Pernahkah kamu merasa kamu tidak berada "di rumah" padahal kamu sudah pulang ke rumah? Aku? Pernah. Kok bisa? Aku pun baru menyadari kalau aku pernah mengalami hal ini sesudah membaca buku "Aku Ingin Pulang, Meski Sudah di Rumah" sebuah esai dari penulis asal Korea Selatan "Kwon Ra-bin" yang akan diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Haru.

Jadi aku diberikan kesempatan untuk dapat membaca lebih dahulu buku ini sebelum dirilis ke para pembaca dari penerbit Haru (고마워요 penerbit Haru 😊). Buku ini merupakan buku yang dibaca oleh V atau Kim Tae-hyung salah satu personil dari BTS. Buku ini sudah pasti kumasukkan dalam list buku @whatbtsreads karena pernah disebutkan oleh member BTS, walau nggak tahu juga siyh apakah habis dibaca sama V atau memang hanya baca cover atau bagian awalnya saja ehehehe (silahkan cek video dibawah ini pada menit 11:33).

Buku ini memiliki judul asli "집에 있는데도 집에 가고 싶어" yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi "I'm Home But I Still Want to Go Home" walau setahuku siyh belum ada terjemahan bahasa Inggrisnya (kalau salah boleh colek-colek aku di kolom komentar ya). Buku ini termasuk dalam jajaran buku Best Seller di Korea Selatan. Lalu diterbitkan dan menjadi best seller juga di Jepang sesudah wawancara diatas. Dan sekarang kita bisa menikmatinya di Indonesia!!!! Duhh,,, Happy!!!

Buku "Aku Ingin Pulang..." merupakan buku esai yang menceritakan tentang kisah sehari-hari dari penulisnya dan juga orang-orang disekitarnya. Esai ini merupakan tulisan sederhana yang memberi pesan untuk menerima diri sendiri apa adanya dan menjadi bahagia dari hal-hal kecil dan sederhana. Benar seperti yang disebutkan V dalam wawancara Grammy Museum 2020 diatas bahwa didalam buku ini banyak sekali pesan-pesan yang relatable dengan kehidupan sehari-hari bahkan membuat nyaman. Jadi apa yang aku sukai dan tidak kusukai dari buku ini?


Yang Disukai

Apa yang aku sukai dari buku ini?

Pertama lihat deh covernya? Ungunya itu cakepppppppppp bangetttttttt. Kombinasi Ungu muda dan tua ini mirip dengan cover buku aslinya. Ditambah lagi ilustrasinya itu keren-keren banget. Buku ini di ilustrasikan oleh ilustrator bernama "Jeong-oh". Jadi didalam bukunya juga terdapat banyak ilustrasi yang menggambarkan isi bukunya. Biasanya ilustrasi tersebut ada di setiap awal bab dan ada juga terselip ditengah-tengah bab.

Kedua, persis seperti kata V, isi bukunya banyak sekali relate dengan kehidupanku. Tidak memandang usia tapi menjadi lelah bisa dirasakan siapa saja dan kapan saja. Dan menjadi bahagia itu juga bisa dirasakan siapa saja. Apalagi judulnya yang tadi sempat ku singgung diawal. Kan kontra aja gitu di rumah tapi masih pengen pulang. Lah pulang kemana? Kan udah dirumah? Dibagian ini lah aku langsung evaluasi diri, lah iya juga ya,,, aku sering ngalamin begini apalagi kalau memang lagi ngalamin hal-hal hectic bahkan sampai burn out. Udah dirumah pun aku ngerasa berat capek. Tapi dari buku ini aku belajar untuk embrace it karena itu sesuatu yang lumrah karena aku percaya aku pasti bisa keluar dari itu dan menemukan kebahagiaan sesudahnya, seperti pepatah "These Too Shall Pass".

Ketiga, buku esai self-help non-fiksi bukan lah buku yang rumit. Sebagai seorang pecinta buku fiksi fantasi, dulu aku sering menghindari buku-buku non-fiksi karena aku merasa bahwa buku-buku tersebut “berat”atau susah dicerna. Tapi setelah mencoba menjajal beberapa buku self-help akhir-akhir ini, semua asumsi itu terpatahkan (walau balik-balik lagi ke selera masing-masing karena tidak ada yang salah dengan berbagai genre apapun). Banyak buku self-help yang dikemas dengan sangat baik dan mudah dicerna, salah satunya ya buku tipe esai seperti Äku ingin pulang…"

Lagi-lagi aku ingin mengatakan bahwa membaca buku ini merasa seperti membaca memoir seseorang dalam menghadapi hidup, sederhananya tuh kayak lagi baca diari atau blog orang. Kita tuh seperti sedang dipeluk seseorang lewat tulisan. Isinya menenangkan banget gitu. Jadi kalau ada yang merasa takut baca buku ini karena merasa berat, nggak perlu takut. Kamu bisa baca pelan-pelan. Antara sub bab yang satu dengan yang lainnya pun nggak nyambung dalam arti bisa dibaca terpisah. Bahkan sesudah kamu baca nanti, kamu bisa tandain dibagian-bagian yang menginspirasimu lalu bisa di baca ulang pada saat kamu merasa capek hanya dibagian itu saja.

Ohya, terjemahannya juga bagus loh. Mengalir banget. Beneran kayak lagi bacain diary orang gitu. Hangat banget terjemahannya terus memang berasa dari pengarang yang berbeda. Jadi aku kan tuh pernah ikutan kelas penerjemahan (Inggris ke Indonesia siyh). Didalam kelas itu diajarkan kalau sebagai penerjemah kita bisa mendeliver gaya Bahasa yang sama dengan si penulis aslinya dengan isi yang kental dengan budaya sendiri juga sehingga mudah dimengerti atau dipahami yang membacanya.Jadi aku bisa dan berani bilang gaya penerjemahannya tuh ya beda walau dari penerbit (atau mungkin penerjemah yang sama). Penerbit Haru juga nggak perlu diragukan lagi siyh. Keren banget!!

Ini adalah tiga quote favoritku dari buku ini yang masih saja berulang kali aku tertampar karenanya.

"Pasti menyenangkan menjadi siput karena ia dekat dengan rumahnya." 

"Meskipun ada banyak hal yang tidak bisa kaupahami di dunia ini, jangan lupakan orang-orang yang berharga bagimu. Bersikap baiklah kepada mereka atau kau akan menyesal di kemudian hari." 

"Kita tidak bisa selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, itu lebih baik daripada tidak bisa bersama."

 



Yang Tidak Disukai

Oke sekarang yang tidak disukai ya.

Pertama, Ada beberapa bagian di dalam esai ini yang menurutku kurang sesuai dengan pemahaman atau prinsipku. Ehehe tetap aja ada bagian dalam buku yang bukan “cup of tea” untukku. But overall pesannya bagus dan relate seperti yang aku cerita diatas. Kalau ditanya bagian mana nggak usah lah ya. Karena itu kan preferensi pribadi. Bisa jadi di aku kurang sesuai tetapi di kamu sesuai sekali.

Kedua, Kurang panjang bukunya…. Ahahaha. Nagih wkwkwk. Ya basic-nya cuman satu aja siyh hal yang tidak kusukai dari buku ini. Apakah bisa dibilang bias karena aku suka BTS? Ah nggak juga. Sebelum-sebelumnya sama buku bacaan kalau aku memang suka aku beneran suka.


Kasih Rating Berapa?

Jadi untuk buku ini aku kasih rating 4 dari 5. Atas alasan apa? Atas alasan yang diatas itu (dari yang kusukai dan yang tidak kusukai diatas). Jadi buat kamu-kamu yang masih bingung mau baca apa, buku yang kumasukkan dalam list What BTS Reads ini wajib kamu miliki! Eh apalagi berita penerjemahan buku ini masuk ke situs Korea lohhhh (cek aja dari feed Instagram nya penerbit Haru). Masak siyh nggak pengen memiliki buku ini… 


Borahae

Sandrine JB - @sanwalibrary - @whatbtsreads

You Might Also Like

0 comments