12.9.19

September 12, 2019

Glamping Manis Di Legok Kondang


Setelah sekian lama akhirnya saya pernah merasakan glamping yang lagi kekinian dalam beberapa tahun belakangan ini. Tahu kan ya Glamping itu apa? Bagi yang belum tahu, Glamping singkatan dari Glamorous Camping yang merupakan sensasi camping yang lebih mewah. Jelas keliatan lah ya dari namanya. Camping pasti di tenda tapi isinya rasa hotel atau villa. Walau begitu lebih dekat dengan alam. Glamping bisa di dataran tinggi seperti gunung ataupun lembah dan juga bisa di dataran rendah seperti di pinggir pantai.





Nah, sebulan lalu (13-14 Juli 2019) kantor saya mengadakan acara bersama untuk beberapa stafnya di Glamping Legok Kondang Lodge. Menurut panitia, tempat ini bukanlah tujuan awal Glamping ini namun karena satu dan lain hal akhirnya pindah ke Legok Kondang. Belum pernah ada dari kita dari kita yang pernah menginap disana.





Tiga bulan sebelum acara ini, saya dan tim ya sempat ingin ber-Glamping di Ciwidey. Tapi tidak jadi dan digantikan dengan staycation daerah Dago Village. Akhirnya kesampaian juga glamping walau lewat acara yang berbeda. Langsung ke pokoknya aja deh ya. Tempatnya kayak gimana siyh? Terus apa aja yang didapat?





Saat itu paket yang diambil adalah luxury tent, drone foto session, offroad, acara malam, dan paketan makanan serta barbeque. Soal harga boleh langsung aja tanya-tanya ke pihak reservasinya (cek website ataupun instagramnya). Coba kita lihat satu persatu ya.





Glamping Legok Kondang by Kang Jay
Courtesy of Kang Jay




Glamping dengan Luxury Tent





Jenis tenda yang dimiliki glamping ini cukup beragam dari ukuran kecil hingga besar. Dengan beragam ukuran memiliki beragam fasilitas juga. Setiap kamar juga memiliki beragam pemandangan berbeda (lebih lengkapnya ada di website dan IG-nya). Saat itu kami kebagian Luxury Tent yang bisa diisi 7-8 orang. Tent ini dilengkapi dengan akses wifi, free mineral water, sendal, dan TV. Masing-masing tempat tidur dilengkapi dengan selimut yang rapih dan terkesan hangat.





Didalamnya pun terdapat kamar mandi dengan nuansa yang cukup unik dan pastinya memiliki air panas yang selalu menyala. Selayaknya hotel, kita dapat handuk dan toileteries seperti sikat gigi, odol, sabun, dan shampoo.





Tak lupa juga terdapat balkon untuk menikmati udara segar dan matahari pagi. Teh dan kopi pun juga tersedia gratis dan bisa diambil kapan saja walau tidak tersedia didalam tenda. Sayangnya saat itu saya tidak sempat mengabadikan isi tenda dan seluruh fasilitasnya ini. Tapi mungkin bisa cek foto dibawah yang diambil oleh teman saya.





Yang musti diperhatikan adalah saat tidur malam hari suhu bisa mencapai 11 derajat. Bagi yang nggak kuat dingin seperti saya akan tidak bisa menikmati tidur malam kalau tidak memakai penghangat badan yang pas. Disuhu AC ruangan 20 derajat saja saya menggigil. Sayangnya niyh saya tidak mencari tahu lebih dahulu sebelumnya berapa suhu saat tidur malam menjelang pagi. Saya pikir ya seperti di puncak dengan berbekal jaket hangat dan kaos kaki cukup. Intinya kalau mau berpelesir walaupun itu jaraknya dekat dan kata orang biasa aja, banyak-banyakin cari tahu tentang tempatnya lebih mendalam. Takutnya malah kurang menikmati kalau-kalau nggak bawa peralatan yang pas.





My drone, piloted by Rizka




Drone Foto Session





Nama tengah saya adalah udik, karena sesudah bertahun-tahun saya baru tahu ada sesi foto beginian. Saya memang punya drone (yang tidak pernah dipakai) tapi hanya dipakai sebatas untuk foto-foto biasa saja dari ketinggian. Rupanya ada sesi foto (dan video) dengan formasi sehingga menghasilkan ragam gaya dan gerak yang melambangkan kesatuan seluruh peserta.





Gara-gara ini saya jadi cari tahu formasi apa saja yang bisa dibentuk selain untuk foto-foto dari kejauhan. Bahkan saya menemukan formasi drone foto session lentikular yang diikuti oleh ribuan mahasiswa baru di IPB. Ini memecahkan rekor dunia lohhh. Keren pisan!!





Ok, kembali ke topiknya. Berikut hasil foto drone session dengan pilot kang Jay yang juga mengabadikan acara ini dari awal kedatangan hingga akhir. Bagi yang punya drone, boleh dipraktekin niyh ditempat kerja atau komunitasnya masing-masing apalagi kalau bisa bikin lentikular... uuuwwwhhh mantul!!





Courtesy of Kang Jay




Fun Off-road di Rancabali





Bagi saya, acara terseru di glamping kemarin adalah off-road ini. Lagi-lagi keudikan yang kedua, saya nggak tahu seperti apa off-road itu. Cuman pernah liat yang ala-ala Merapi Lava Tour itu walau lewat foto video (kasian deh gue). Intinya ya, off-road itu menggunakan kendaraan diluar jalan raya alias di jalanan berbatu, berlumpur, sungai, pasir, dan lain-lainnya.





Karena lagi musim kemarau, jalur off-roadnya sangat berdebu (musti pakai masker banget). Katanya siyh lebih menantang saat musim hujan karena becek dan lumpurnya tinggi bisa sampai kotor-kotoran peserta yang ikut. Tapi sayangnya jalur off-road yang kita lalui saat itu hanya setengah jalur dikarenakan waktu yang sudah terlampau sore.





Start perjalanan dari Legok Kondang dan kembali lagi menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam dengan half track. Jadi kebayang dong ya kalau full track, bisa menghabiskan 4-5 jam. Totalnya dengan jalur biasa PP Legok Kondang - Rancabali sekitar 1 jam dan fun offroad 2-3 jam, itu juga kalau mulus. Kalau kayak land rover yang saya naiki, yang berhenti ditengah-tengah kemiringan, ya tambah lama lagi pastinya. Pas banget tim saya kedapatan supir land rover yang lagi ospek jadi tambah seruuuuwww :-D.





Ditengah-tengah off-road kita akan berhenti sebentar untuk foto-foto dengan suguhan kebun teh. Saat itu kebun tehnya berkabut tapi tetep terkesan mistis eksotis apalagi sudah menjelang maghrib. Dan beware sama angin dingin! Yesss saya kedinginan karena angin sepanjang perjalanan pergi dan pulang off-road padahal itu sudah pakai lengan panjang. Ini foto-fotonya (credit foto ada di captionnya ya).





Courtesy of Me




Courtesy of Kang Jay




Courtesy of Kang Jay




Barbeque Night





Panitia saat itu menyuguhkan acara malam bertema cowboy night dengan organ tunggal dan pertunjukkan dari peserta secara kelompok. Acaranya sendiri bersifat outdoor dengan meja-meja panjang sambil menikmati makan malam dan steak serta jagung bakar. Berhubung saya sendiri sudah kedinginan dari sesudah off-road jadi agak kurang menikmati acara malamnya (beserta makanannya). Entah kenapa kalau ditempat yang cukup dingin saya kurang bisa menikmati semua makanan (nggak ada bawaan lapar sama sekali). Disana pun dari sampai hingga pulang, saya hanya menyentuh makanan seadanya.





Makin malam cuaca makin dingin hingga 16 derajat. Tidak ada aktifitas yang membuat banyak bergerak alias kebanyakan duduk. Saya pun tidak membawa jaket yang tepat. Sepanjang acara saya hanya bisa kedinginan dan sesekali menggigil. Biasanya saya kedinginan karena faktor tiupan angin dingin. Tapi kali ini benar-benar dingin tanpa angin. Saat berbicara sudah seperti mereka-mereka yang berbicara ditengah musim dingin, dari mulut keluar embun. Meja kursi basah dan barang bawaanpun ikutan dingin.





My drone, piloted by Rizka




Glamping Venue





Secara keseluruhan total venuenya indah sekali. Dengan penginapan yang bisa dibilang berada dilembah namun bisa menikmati pemandangan bukit, gunung, kebun, dan lembah itu sendiri sangatlah menakjubkan. Suasananya terasa segar nan asri. Dibeberapa tempat pun terdapat kolam-kolam kecil untuk menambah tenang suasana.





Untuk masuk ke area glampingnya pun tidak bisa menggunakan bus sedang sekalipun karena jalanan kecil dan cukup berkelok. Kalau menggunakan mobil pribadi tentu masih bisa masuk ke venue. Jika menggunakan bus pariwisata, kita perlu turun di terminal baru dekat legok kondang lalu dijemput mobil odong-odong (fasilitas dari glamping). Dari dalam odong-odong ini kita bisa menikmati perjalanan dengan pemandangan menarik dan rumah warga sekitar kurang lebih 10 menit perjalanan.





Teringat saat bangun di pagi harinya saya langsung keluar kamar untuk mencari spot melihat sunrise yang bagus. Walau dingin tapi lebih baik bergerak supaya badan pun lebih hangat. Disayangkan saya menempati tenda tanpa pemandangan itu. Namun ketika jalan beberapa langkah dari tenda, rupanya terdapat dermaga diatas bukit untuk menyaksikan matahari terbit tanpa halangan. Dan itu luar biasa indahnya!!! Sepanjang menikmati dan mengabadikan sunrise, saya hanya bisa menggemakan dalam hati dan pikiran saya betapa dahsyat dan hebatnya Sang Pencipta.





Sebelum pulang saya dan beberapa kawan sedikit menyusuri tenda dengan kolam renang. Beberapa kawan kami ada yang mendapat tempat di tenda tersebut. Berada diarea kolam tersebut serasa berada di Ubud Bali. Terdapat infinity pool yang langsung dapat menikmati indahnya bukit, lembah, dan pancaran sinar mentari. Saya yakin menikmati sunrise dari spot itu pun pasti sangatlah mengasyikan.





My drone, piloted by Rizka




















Courtesy of Me




Perjalanan Membawa Warna





Sayangnya saya menikmati Glamping hanya sebentar, itupun dipotong perjalanan dari Jakarta ke Ciwidey yang cukup menyiksa dengan kemacetannya. Jika ingin ketempat ini perlu persiapan bagi yang tidak tahan dingin seperti saya agar puas menikmati semua fasilitas yang ditawarkan. Kalau ada kesempatan bisa ketempat ini lagi, pasti akan sangat menyenangkan.





Walau begitu, bagi saya setiap perjalanan sesingkat dan seperti apapun itu perlu dinikmati. Pasti akan memberikan makna dan warna tersendiri dalam hidup. Ada kutipan bagus "Ke mana pun kamu pergi, nantinya akan menjadi bagian dalam dirimu". Kemanapun destinasi perjalanan kita nikmatilah selagi bisa.






https://www.instagram.com/p/Bz7p9F4gWAI/?utm_source=ig_web_copy_link




Bagaimana denganmu? Pernahkah merasakan glamorous camping? Adakah rekomendasi tempat Glamping lain terkhususnya di pulau Jawa? Bagikan dibawah ya.





Regards,









Sandrine Tungka






15.5.19

Mei 15, 2019

Why You Should Listen To an Audiobook?

My library category is finally updated. It's been a long time since I am not posting anything which is related to books. As for my first book related topic after hiatus is about Audiobook.


Has anyone listened to Audiobook?

I have listened to only four audiobook so far. First one was Percy Jackson and The Lightning Thief which I listened around January 2019. Then on February 2019 I listened to Copper of Kingdom. On March 2019 I listened to the Shadow and Bone (which I did not continue 'till finish because the audio book was not good enough, I finished the book with paperback instead) and lastly Daughter of Smoke and Bone - All you can books review by audiobookhoarder.


With my limited experienced on hearing Audiobook, I might say that I fell in love with it after the second book. I thought this was not my thing and second thought that I found that audiobook much more expensive than buy the paperback book. Yeah you know, my native language is not English. So at first I found it hard to concentrate on long narration in English. But then when hearing Copper of Kingdom, I loved it and can concentrate.

 

Here are some tips for you of why you should listen to Audiobook.

 

 

Driving Wild Imagination

By hearing audiobook, I could listen to any different character voices that portrait by a single Narrator. And by hearing different voices I could imagine even more of what the characters did and felt.

 

When hearing Copper of Kingdom I remember how I portrait the first time Ali meet Nahri again which was sweet but full of hatred. I could portrait it well rather than by reading it (I have read this part before hearing the audio book).

 

As for the feeling part, I could easily laugh or cry in any particular scenes. I could easily scared or hollow. When hearing Daughter of Smoke and Bone, especially the ending twist, I was angry and sad (I was a bit crying though).

 

Well it didn't mean that I could not imagine or feel the atmosphere well by just reading it. Yes we can. But for my experienced, I didn't why I was more concentrate and feel them better than reading.

 

By the way a good audio book for us to imagine and feel needs a good narrator also. If the narrator could not portrait them well, the hearing experience would be not good as well (this happened to me when listening to the Shadow and Bone audiobook - check my goodreads for total review of this book).



Doing Multitasking Activities

Since I didn't have so much time to read and also a snail reader, I found that audiobook is less time consuming. I used to read a book only during my commute time from home to work and vice versa or when I had money to take a sip of a coffee in a cafe near my house.

 

But after I found the joy of hearing audio book, I could "Read" them while I commute with motorcycle, tidying up my room, nursing my kid at night, eating (without my family around), playing games, and even while I work on of my book box business (designing and so on). But it was not recommended to do it while doing your office work, typing, browsing specific subject, or any other activities that needs extra concentration.

 

I used to finish my book in a week if I was productive enough. But after knowing audiobook, I could read faster. For example, I could finish Daughter of Smoke and Bones in two days. Yuppp, TWO DAYS which was a progress of me the snail reader. And for your information, I did not use a normal speed mode (1x), but I used 1.5 mode to make it faster. Very less time consuming right?

 


Learning English Even More

I still read a paperback book though especially when I commute. But sometimes while reading it, I was also listening to the same title at the same time. Apparently it made me more concentrate in reading the book (beside a snail reader, sometimes I could lose concentration while reading :-D).

 

Once again, because my native language was not English, I could also learn new words and how they were spoken. Well sometimes I found a bit hard when came to specific names. I need to open the book to make sure I didn't hearing them wrong and it made me learning English even more.

 


That was my experience on listening to the audio books. In the future I will often do so because I already found a cheap legal way to hear them. I know that there are some pro and cons of hearing them.

 

Some of the bookworm doesn't count it as "reading". But to me it was just the same experience especially for us who didn't have a big amount of time due to job load. But every choice is in you whether to read through audio book or not. The most important thing is keep reading and having fun :)


Regards,
Sandrine JB 

 


 


About

authorHello, my name is Sandrine. I'm a working mom who loves to read and wander.
Learn More →



Total Tayangan Halaman