28.1.16

Januari 28, 2016

Berkeliling Jepara dan Semarang [Hari II]

Hari kedua perjalanan ini kami habiskan di Semarang. Walau masih merasa bosan dan kecewa minimal kami lebih ceria dengan destinasi wisata yang di kunjungi. Sebenarnya tidak banyak yang kami lakukan di hari kedua. Pertama kami menikmati hotel tempat kami menginap hingga jam makan siang. Tentu sayang untuk melewatkan setiap fasilitas yang ada di hotel. Masakan sudah membayar cukup mahal untuk satu cottage tapi tidak dapat dinikmati. Sebenarnya siyh hanya menikmati fasilitas kolam renang nya saja. Karena hanya itu yang menggoda. Apalagi saya yang memang kepengen banget ketemu air alias berenang. Nggak jadi snorkeling berenang pun okey. Tapi paling tidak saat bangun pagi kami disuguhkan pemandangan yang menarik dan menyegarkan dari bangku cottage. Hal menarik lainnya dari hotel ini adalah sarapan paginya, prasmanan dengan menu yang menarik di lidah saya secara pribadi. Memang sarapan pagi hotel prasmanan selalu menggoda saya dan selalu saya tunggu-tunggu setiap kali menginap. Berikut ini foto-foto untuk melengkapi cerita saya.



image



image



image



image



image



Sesudah puas menikmati hotel, kami semua berkunjung ke Sam Poo Kong. Kami menghabiskan banyak waktu disana hanya untuk berfoto. Mengenai sejarah tempat ini sama sekali saya tidak mengerti. Saya baru mencari tahunya lewat internet sesudah berkunjung kesana. Yang saya suka dari tempat ini sebenarnya adalah warna merah meriah yang khas. Untuk berfoto sangat ciamik. Memang saat kesana pastilah kita tidak bisa masuk ke beberapa klentengnya karena di khususkan untuk sembahyang. Kita hanya bisa mengabadikan diri di depan setiap klenteng. Lokasi juga tidak terlalu besar jadi tidak akan lama kita menghabiskan waktu di tempat ini. Apalagi kalau cuaca lagi panas, wuihhh gerahnya tak tertahankan. Perlu pakai topi dan bawa air minum. Berikut beberapa foto yang saya abadikan disana.
image



image



image



Sesudah itu karena sudah lewat tengah hari kami mencari makan siang terlebih dahulu di daerah simpang lima yang bisa dibilang jantung kota Semarang. Tempat makan prasmanan yang menjual beraneka ragam makanan
khas Jawa. Tempatnya cukup enak walau tidak ber-AC. Harga makanannya pun pas. Untuk rasa bisa dibilang standar lah ya.



Sedudah makan siang kami langsung mengarah ke Lawang Sewu. Ini tempat yang saya secara pribadi nanti-nanti. Saat tahu tidak bisa ke Karimun Jawa pikiran saya hanya ingin berjelajah Lawang Sewu dan penjara bawah tanah yang terkenal itu. Berkeliling Lawang Sewu kala itu kami menyewa pemandu. Sebenarnya hanya dengan membaca brosur dan papan-papan yang ada disana sudah cukup mengetahui sejarah Lawang Sewu, tapi saya pribadi sangat menyukai setiap berjelajah museum atau tempat-tempat bersejarah tertentu didampingi pemandu karena pasti ada saja hal-hal tidak tertulis yang disampaikannya. Ditambah lagi nilai tambahnya pemandu bisa membantu kami foto secara rombongan tanpa bantuan tongsis yang angle nya terbatas (teteup narsis).



Beberapa hal yang masih saya ingat dari cerita pemandu tersebut:




  1. Lawang Sewu bukan berarti pintunya ada 1000. Sebenarnya jumlahnya hanya sekitar 700an (saya lupa-lupa ingat dengan jumlah pasti yang disebutkan oleh pemandu tersebut, kalau searching di internet pasti ketemu kok). Namun karena jumlahnya banyak ya langsung saja disebut "Sewu".

  2. Bangunan lama dari Lawang Sewu ini justru terdiri dari bebatuan kokoh tanpa semen (campurannya pun saya tidak mencatat apa). Walau sekarang sudah banyak pemugaran dan beberapa sudah dilapisi semen.

  3. Kaca jendela yang ada di Lawang Sewu amatlah kokoh. Memang sudah banyak kaca yang berganti. Namun kita tetap bisa membedakan mana kaca yang lama dengan kaca yang baru. Kaca lama memiliki tekstur bergelombang dan dua lapis sehingga tidak mudah dipecahkan serta kedal suara. Bayangkan kalau rumah kita menggunakan kaca seperti ini. Anak nangis mungkin tak terdengar. Namun sudah pasti modalnya mahal sekali.

  4. Ada beberapa jalur bawah tanah yang dipakai untuk membuang tahanan yang sudah meninggal di penjara bawah tanah ke sungai yang ada di belakang bangunan. Saya melihatnya begidik ngeri.

  5. Oh ya bagi yang belum tahu Lawang Sewu ini pada jaman penjajahan Belanda memang dibangun sebagai kantor perkeretaapian namun saat penjajahan Jepang beralih fungsi jadi markas tentara Jepang sehingga ruang bawah tanah difungsikan menjadi penjara.

  6. Masuk ke Lawang Sewu banyak spot-spot menarik untuk berfoto namun memang suasananya remang-remang walaupun siang hari jadi hasilnya kurang maksimal. Koleksi yang ada di dalamnya pun menarik untuk dilihat seperti bahan bangunan yang dipakai membangun Lawang Sewu, kereta api yang pernah beroperasi disana, bentuk rel, dan lain sebagainya.

  7. Sayangnya waktu kami datang, ruang bawah tanah yang selalu basah itu sedang ditutup karena pemugaran jadilah tidak bisa trip spooky. Saya sebenarnya membenci hal-hal yang menyeramkan (termasuk tidak menyukai nonton film horor) namun yang satu ini saya benar-benar ingin menjelajahinya. Oh ya mengapa ruang bawah tanah itu selalu basah karena itu dipakai sebagai pendingin ruangan di Lawang Sewu. Itu seperti AC alaminya. Jaman dulu kan ya belum ada AC jadi untuk membuat udara lebih segar dan adem dipergunakan tuang bawah tanah yang disirkulasi dengan air.



Mau lihat foto-fotonya?? Ini dia...
image



image



image



image



image



image



image



image



image



image



image



Sesudah dari sama kami langsung beli oleh-oleh khas Semarang seperti bakpia, tahu bakso, dan bandeng presto. Saat itu kami dihantar ke salah satu gerai oleh-oleh besar disana (maaf lagi-lagi saya lupa namanya). Sesudah belanja kami langsung di hantar ke pool bus Bejeu untuk kembali pulang ke Jakarta. Sebenarnya waktu keberangkatannya masih lama sekali tapi nampaknya sudah tidak ada tempat yang bisa kami jelajahi di kota Semarang. Kalau agak sedikit jauh tentu tidak sempat. Kami hanya mampir makan mie jawa yang ada persis di pool bis itu. Memang ya makan mie Jawa langsung di Jawa nya itu beda rasanya. Maknyus banget.



Sekitar jam 9 malam bus yang menghantar kami ke Jakarta sudah tiba. Sayangnya di perjalanan pulang ini kami dapat kursi di belakang. Tapi buat saya pribadi bus ini lebih bagus dan nyaman. Ada colokan untuk ngecharge dan ada wifi gratisnya. Saya bisa tertidur pulas lebih dari 4 jam walau dengan kondisi kebut-kebutan yang sama. Hanya sayang mesin bus sempat mengalami kendala. Di tengah perjalanan AC-nya mati. Lagi enak-enak tidur cukup terganggu karena pengap.



Overall perjalanan ini biasa saja walau lebih ke arahbkecewa. Tapi saya jadi mengambil hikmahnya. Karena sebulan sesudah perjalanan ini saya menemukan saya sudah hamil 2 bulan. Artinya waktu foto narsis di Semarang sambil lompat-lompatan saya tengah hamil 1 bulan. Mungkin ini alasan kenapa nggak bisa nyeberang ke Karimun Jawa. Takut mabok kali ya... Wehehe hanya spekulasi saya siyh.



Regards,



sans-sign20150516_164608_hdr_wm.jpg

27.1.16

Januari 27, 2016

Berkeliling Jepara dan Semarang [Hari I]

Sebagai seorang ibu baru, hal yang paling saya kangenin sejak masa kehamilan adalah traveling. Yup, jalan-jalan yang menjadi hobi saya harus di urungkan dahulu demi sang buah hati. Di tengah kelelahan menjadi ibu baru saya menyempatkan diri melihat foto jalan-jalan yang beberapa kali saya lakukan sejak saya bekerja. Dari photowalking ini folder foto pertama yang tertangkap mata saya adalah perjalanan ke Jepara dan Semarang yang saya dan beberapa teman kerja lakukan sebelum saya mengetahui diri saya hamil. Perjalanan ini kami lakukan di awal bulan Mei 2015.



Sebenarnya niat kami kala itu ingin menghabiskan liburan di Karimun Jawa. Saya sangat merindukan snorkeling dan main-main di pinggir pantai. Namun apa daya, saat kami akan naik ke bus menuju Jepara, pihak travel memberitahu bahwa penyeberangan ke Karimun Jawa di batalkan karena cuaca yang tidak baik di tengah penyeberangan kesana. Kalau kami membatalkan seluruh perjalanan rasanya sayang sekali. Akhirnya kami tetap berangkat ke Jepara dan memutuskan berkeliling Jepara dan Semarang saja. Di perjalanan ke Jepara, kami mencoba booking mobil rental untuk membawa kami berkeliling Jepara dan mengantarkan kami ke Semarang.



Kurang lebih 15 jam perjalanan yang kami tempuh dari Jakarta ke Jepara. Itu sudah perjalanan yang super cepat. Pasalnya bus yang membawa kami selalu ngebut sampai tujuan. Saya sampai susah tidur. Sedikit-sedikit terbangun sanking ngerinya. Ditambah lagi AC-nya kurang dingin, bau yang menyengat dari bangku supir, dan bangku yang tidak nyaman sama sekali. Sampai Jepara kami pun kebingungan mencari penginapan. Pasalnya penginapan pada penuh dan rupanya di Jepara tidak banyak yang bisa kita nikmati. Menghabiskan sepanjang pagi akhirnya kita memutuskan untuk pergi ke Semarang dan menghabiskan semalam di Semarang saja lalu langsung pulang ke Jakarta.
image



image



image



Dalam perjalanan ke Semarang kami sempat mampir ke dua destinasi khas Jepara. Yang pertama kami mampir ke Museum Kartini. Didalam museum itu ya kita melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan R.A. Kartini. Yang pasti kami melihat tulisannya yang mengubah hidup para wanita di Indonesia. Sisanya berisi silsilah keluarga Kartini hingga barang-barang yang ada di dalam rumah keluarga Kartini. Biarlah itu semua di gambarkan melalui beberapa foto dibawah ini.
image



image



image



image



image



image



image



image



Sesudahnya kami menuju air terjun Songgo Langit yang menjadi ciri khas dari Jepara. Saya hanya melihatnya dari brosur yang saya dapat dari museum Kartini sebelumnya. Niat kami sebenarnya ingin basah-basahan selayaknya kita suka main di curug di sekitar Jabodetabek. Namun setelahi sampai ke tempat tersebut ekspektasi kami terpatahkan. Kami cukup kecewa. Tempatnya kecil dan tidak bisa bermain air. Ditambah airnya berwarna cokelat. Intinya kami semua kecewa. Sudah menghabiskan hampir setengah hari tapi perjalanan kami sangat membosankan. Hanya sempat berfoto sebentar kami langsung cabut. Awalnya kami sempat ingin berkunjung ke tempat wisata lain yang ditunjukkan di brosur namun kami takut kecewa. Akhirnya kami memutuskan langsung ke Semarang saja. Oia dibawah ini beberapa foto yang kami abadikan disana.
image



image



image



image



image



Ditengah perjalanan menuju Semarang kami melihat beberapa tempat pengrajin ukiran jepara. Liat lemari, meja, kursi itu membuat saya pengen beli semua. Tapi budgetnya dari mana ya???? Ditambah lagi, mau ditaruh dimana nanti??? Akakakakak. Kami juga melihat beberapa pool bus AKAP Jepara seperti Bejeu dan Haryanto. Menurut supir yang membawa kami saat itu, supir bus Jepara memang yang paling dahsyat cara menyetirnya. Jalanan sudah seperti arena balap. Saya jadi teringat bus yang kami naiki kemarin dan ternyata itu lumrah untuk bus dari dan ke Jepara :D. Saya jadi nggak kebayang pas pulang nanti. Memang pulangnya bakal dari Semarang tapi menggunakan bus Bejeu yang khas Jepara itu.



Di tengah jalan menuju Semarang kami tentu perlu makan siang yang sudah cukup telat. Kami meminta supir membawa kami ke restoran yang di romendasikan di Jepara. Restoran itu bernama Bale Banyu. Tempatnya cukup cozy. Ada lesehan dan juga bangku meja. Kawasannya hijau dan ada kolam renangnya. Rasanya nyaman sekali. Cukup mencengangkan harga makanannya pun tidak mahal padahal pesanan kami sudah segala rupa dengan partai besar untuk 9 orang. Memang bukan makanan khas Jepara. Lebih kepada bakar-bakaran ikan seperti di rumah makan Sunda. Sesudahnya kami lanjutkan perjalanan ke Semarang.
image



image



image



Niat kami, ingin berkeliling Semarang saat sore hari. Namun rupanya niat itu tidak bisa terlaksana. Perjalanan penuh dengan macet dan macet sehingga sampai hotel sudah sekitar jam 8 malam dan sudah tidak ada tenaga untuk jalan-jalan lagi. Jadilah kami hanya berleyeh-leyeh di kamar hotel dan makan mie instan :D.



Sungguh sebenarnya perjalanan hari pertama ini cukup mengecewakan bagi kami semua apalagi saya yang sudah mendambakan bermain air laut. Sampai kami berpikir apakah seharusnya kami batalkan saja seluruh perjalanan saat mengetahui penyeberangan ke Karimun Jawa dibatalkan. Toh kami hanya kehilangan uang tiket bus berangkat. Penyesalan selalu datang belakangan. Yah, minimal ada cerita baru buat saya pribadi yang baru pertama kalinya naik bus eksekutif keluar wilayah Jabodetabek dan tentunya banyak foto-foto dengan teman-teman tersayang :D.



Bagaimana dengan hari kedua? Nantikan di tulisan selanjutnya ya.



Regards,



sans-sign



dsc_0442_wm.jpg

24.1.16

Januari 24, 2016

Informasi Dokter Kandungan dan Rumah Bersalin

Mudah-mudahan penikmat SanWa Journeys nggak bosen karena artikel di beberapa bulan terakhir ini berisi hal-hal yang bernuansa kehamilan dan bersalin. Kali ini, saya ingin berbagi informasi seputar persalinan. Dulu saya pernah berbagi informasi seputar kelas senam hamil, sekarang saya mau berbagi seputar tempat persalinan saya. Mudah-mudahan jadi share informasi yang berguna bagi yang membutuhkannya (tidak ada pesan-pesan sponsor untuk tempat persalinan yang saya ulas ya, semata-mata hanya ingin berbagi sekaligus sebagai ucapan terima kasih). Saya melahirkan di Rumah Sakit Harapan Bunda Jakarta Timur bersama dr. Arman Djajakusli SpOG.



bersalin





Memilih Rumah Bersalin



Sedikit cerita, awalnya saya tidak ingin bersalin di RS ini. Atas cerita beberapa teman dan browsing di internet, sesudah hasil testpack saya menyatakan dua garis merah pekat, saya sangat tertarik untuk bersalin di St. Carolus Salemba. Pasalnya disana sebagai ibu baru di ajarkan banyak hal. Menurut informasi dari teman saya, di St. Carolus kita diajarkan cara menyusui, memandikan bayi, diberikan pelajaran mengenai ASIX, dan lain sebagainya yang harus diketahui ibu baru. Tentu itu yang membuat ibu baru seperti saya sangat tertarik dan membuat saya ingin melahirkan disana. Namun kendala saya adalah mobilitas, jauh dari tempat tinggal dan macet. Kalau untuk kontrol rutin masih bisa ditempuh, tapi misalnya pas mau melahirkan ada hal-hal di luar dugaan pasti akan merepotkan. Di tambah lagi di trimester pertama, saya mabok kendaraan. Naik angkot, motor, mobil pasti bikin saya pusing dan pengen makan terus. Sempat terpikir apakah nanti saja sudah trimester ketiga baru ke St. Carolus namun akhirnya setelah diskusi dengan suami saya mengurungkan niat. Tempatnya sukar dijangkau sehingga pasti merepotkan.



Pilihannya berarti hanya RS Harapan Bunda yang paling dekat dengan tempat tinggal saya sekarang. Tapi saat itu saya masih sangsi. Dengar cerita teman banyak yang kurang nyaman bersalin disitu dengan pilihan dokter yang berbeda dan alasan finansial (apalagi saat saya mengetahui saya hamil, kantor saya resmi memakai full BPJS yang pasti tidak bisa melahirkan secara normal di RS).



Memilih Dokter Kandungan



Saya pun bertanya ke salah satu tante saya yang saat itu baru melahirkan. Ia bersalin di Halim. Tapi dokternya praktek di Taman Mini dan Cililitan. Tante saya pun merekomendasikan satu dokter di daerah Kramat Jati dan kalau memang mau ke RS Harapan Bunda tante saya merekomendasikan ke dr. Arman karena rekomendasi temannya.



Jadilah saya searching mengenai ketiga dokter rekomendasi tersebut. Setelah searching dokter pertama (dokter tante saya) saya tidak mau dengan alasan susah ke tempat praktek nya dan bikin mabok. Saya cenderung ke dokter kedua yang di Kramat Jati. Pasalnya saat itu saya masih setengah-setengah ke RS Harapan Bunda karena pernah nggak sreg sama satu ObGyn disana. Ada siyh satu ObGyn wanita yang kata teman saya bagus dan pro normal, tapi antriannya panjang banget dan praktek hanya dua kali seminggu disana. Ditambah lagi informasi yang saya temukan tentang dr. Arman hanya sedikit. Jadilah saya memutuskan ke ObGyn yang di Kramat Jati saja.



Tapi dasar tangan saya gatel suka browsing terus, saat akan ke dokter di Kramat Jati, saya menemukan beberapa ulasan bahwa dokter tersebut kurang ramah memberikan konsultasi ke pasiennya. Nah, saya jadi bimbang lagi. Saya pun membatalkan kunjungan kesana. Tapi nggak mungkin nggak kontrol kan? Akhirnya saya mencoba searching lebih dalam tentang dr. Arman. Saya menemukan bahwa dr. Arman adalah ObGyn yang menangani persalinan Sheila Marcia. Pikir saya artis saja percaya berarti dokternya baguslah. Oke, saya memutuskan mencoba. Toh kalo pertemuan pertama nggak sreg masih bisa ganti ke ObGyn lain.



Suatu waktu pulang kantor, saya dan suami berkunjung ke dr. Arman. Saya ingat sekali sedang bulan puasa dan pasiennya sedikit. Saya hanya perlu menunggu satu jam. Saat itu saya sempat ciut. Kalau pasiennya sedikit jangan-jangan kurang bagus. Ahaha labil ya saya. Kebanyakan salah, sedikit pun salah. Tapi coba sajalah. Kesan pertama bertemu dr. Arman memang terlihat masih muda untuk ukuran ObGyn dengan gayanya yang cukup casual yaitu kemeja dan jeans tanpa jas dokter yang putih itu. Saat konsultasi pertama, keragu-raguan saya berubah jadi kesan postif. Berkonsultasi dengan dr. Arman enak banget soalnya beliau menanamkan pikiran positif bahwa ibu hamil itu bukan orang sakit jadi jalani hidup biasa saja namun tidak berlebihan. Beliau juga mendukung untuk lahiran secara normal. Waktu konsultasi pun lama banget namun tidak berasa pas ada di dalam ruangan dokter. Pertama konsultasi saya langsung nyaman. Saat pulang berembuk dengan suami, kita memutuskan fix dengan dr. Arman nggak usah cari perbandingan lain.



Pada pertemuan kedua saya baru sadar bahwa dr. Arman ini salah satu the best di RS Harapan Bunda. Rupanya pasiennya buanyakkkkkkk!!! Kalau hari sabtu datang jam setengah 10 pagi saat dokternya baru mulai praktek kita bisa dapat nomor antrian ke 20-an. Itu artinya baru masuk ruang dokter sekitar jam 3 sore. Beliau bisa menangani pasien 3-4 orang per jam-nya. Jadi lebih baik sudah mendaftar dua jam sebelum jam prakteknya dimulai. Intinya hingga pasca melahirkan saya puas dengan beliau. Selama kontrol bulanan, saat melahirkan, hingga pasca melahirkan, konsultasinya selalu menenangkan bahkan mengajarkan. Padahal beliau bukan wanita yang pernah mengalami kehamilan tapi care dengan pasiennya. ObGyn ini pun mau diganggu melalui SMS ataupun WA di tengah jadwal prakteknya yang padat. Memang siyh, dokter itu cocok-cocokkan. Tapi bagi yang masih tur ObGyn, tinggal di sekitaran Jakarta Timur, dan nggak risih dengan dokter pria, saya merekomendasikan dr. Arman Djajakusli. Prakteknya pun nggak cuman di RS Harapan Bunda. Beliau juga praktek di RSIA Evasari Rawamangun dan Kemang Medical Care. Untuk jadwal bisa di cek di masing-masing situs RS nya ya.



Informasi Tambahan Rumah Bersalin



Sekarang mengenai RS nya sendiri. Setelah saya menjalani perawatan di sana, RS Harapan Bunda bagus juga. Mengenai biaya persalinan dan rawat inapnya pun standar, tidak mahal. Bahkan setelah saya bandingkan dengan RS swasta dengan pelayanan serupa justru lebih murah. Hanya RS ini bangunannya tua ditambah lagi sangat crowded. Mungkin karena satu-satunya RS swasta di jangkauan Pasar Rebo dan sekitarnya kali ya. Mungkin ada benarnya bahwa suster dan bidan nya jutek. Tapi nggak juga kok. Selama dirawat saya dapat bidan yang baik-baik. Waktu persalinan pun saya di dampingi bidan yang support juga apalagi pas melihat saya susah mengejan. Ada satu bidan yang saya kangenin. Saya nggak tahu namanya. Saya hanya mengingat muka putihnya dan tubuh gemuknya. Bidan yang satu ini membantu banget saat persalinan. Kaki lemas saya aman di pinggangnya. Ia juga yang membantu ObGyn menjahit luka saya sampai selesai. Orangnya juga supel dan suka bercanda sama ObGyn saya. Jadi suasana saat bersalin agak sedikit mencair. Ahhh... bidannya ngangenin. Tapi saya nggak pernah di kontrol oleh bidan ini selama di kamar perawatan. Cuman pernah sekali, itupun saat saya harus dirawat perihal fleg. Ia yang membantu pemasangan infus.



Yang Penting Nyaman



Ibu hamil bukanlah orang sakit jadi perlu mencari tempat bersalin yang membuat kita aman, nyaman, dan tenteram. Serta banyak berdoa agar saat persalinan kita benar-benar ditangani ObGyn yang sejak awal menangani kita. Ini menyangkut mental. Biar bagaimanapun kita pasti akan merasa aman jika ditangani dokter yang sudah mengetahui record kehamilan kita. Ada beberapa kasus yang memang tidak ditangani oleh ObGyn sendiri karena ObGyn cuti keluar kota atau ada tindakan dadakan di tempat lain. Ada juga beberapa kasus dimana ObGyn datang saat sudah lahiran dan tinggal "menjahit" saja. Tidak perlu menyalahkan ObGyn tersebut, hanya waktunya yang tidak tepat. Jadi perlu berdoa untuk waktu yang benar-benar tepat :).



Pada akhirnya semua kembali ke nyamannya masing-masing kita. Kalau sudah merasa cocok ya lanjutkan saja dan tetap berpikir positif.



Regards,



sans-sign



blog-spog

22.1.16

Januari 22, 2016

Menjadi Ibu

Menjadi ibu baru itu tidak mudah. Saya yakin semua ibu diluar sana akan berkata yang sama. Bahkan terus merawat, membimbing, menjaga, dan mengasuh anak hingga besar pun bukanlah perkara yang mudah. Saya mulai merasakannya. Hal yang saya rasakan paling berat sejak dua minggu menjadi ibu adalah mengambil keputusan. Apalagi yang dihadapi adalah seorang bayi yang belum bisa berkomunikasi secara verbal. Komunikasinya hanyalah melalui satu cara yaitu menangis. Semua yang diinginkannya hanyalah lewat tangisan. Lapar, buang air, kepanasan, kedinginan, tidak nyaman, sakit, bosan, ingin main, dan lain-lain pasti dikomunikasikannya melalui tangisan. Tangisan inilah yang membuat saya bingung menginterpretasikannya. Saya masih belum terlalu peka. Mengambil keputusan di tempat kerja jauh lebih gampang. Berhadapan dengan bos killer malah ngangenin di banding berhadapan dengan tangisan bayi yang belum sepenuhnya saya mengerti.



Namun sungguh saya tidak menyangka sampai kepada posisi ini, seorang ibu. Suatu hal yang luar biasa kompleks namun indah. Setiap kali menyusui saya hanya memandang wajah mungilnya dengan tersenyum. Tidak jarang setiap begadang saya berharap satu bulan pertama ini segera lewat. Tapi setiap melihat muka imutnya, saya tidak ingin waktu segera berlalu. Saya jadi teringat mama. Waktu saya kecil dahulu pasti mama juga merasakan tidak ingin anaknya cepat besar. Eh, tahu-tahu mama sekarang sudah punya cucu. Jadi kangen mama...



Dua minggu saya lalui, saya rasa cukup berat. Saya pernah menangis hanya karena melihat dedek menangis jejeritan tiap malam dan tiap dimandikan. Saya sangat khawatir terjadi apa-apa (ahhhh blame my sensitive side, i'm over sensitive). Saya pernah menangis hanya karena rewel dedek tidak kunjung reda saat ia menangis. Bahkan setiap kali melihat tanda-tanda akan menangis saya sampai deg-degan sendiri takut ia tidak nyaman dengan saya. Jujur pengalaman persalinan dan mengurus dedek di minggu-minggu pertamanya ini membuat saya sedikit trauma dan tidak ingin punya anak kedua dahulu dalam tiga tahun kedepan (bukan ingin mendahului Tuhan, tapi saat baru mau menikah dahulu, saya mempertimbangkan untuk punya dua anak dengan selang usia tiga tahun). Namun, jika nanti Tuhan berkehendak lebih cepat, saya hanya bisa berserah. Karena pasti semua berlalu atas pemeliharaan-Nya.



Sebenarnya saya cukup beruntung. Saya masih tinggal bersama mertua. Sejak melahirkan saya sangat diperhatikan dengan baik. Pasti banyak yang menyangka saya enak banget pasca persalinan. Pasalnya yang saya lakukan dirumah tidak banyak yaitu, memperhatikan dedek, cuci baju pakai mesin cuci (ibu mertua saya yang menjemur karena letak jemuran di lantai 2, saya belum diijinkan naik turun tangga sampai masa nifas berlalu), makan, mandi, beres-beres kamar, dan leyeh-leyeh. Tapi jujur dua minggu ini rasanya penuh. Saya nggak sempat ngeblog, baca buku, dan blogwalking. Apalagi dengan frekuensi ASI dedek yang makin sering dan lama membuat waktu sehari cepat berlalu. Leyeh-leyeh saya pakai untuk tidur persiapan begadang. Itupun tidak bisa nyenyak karena saya sensitif dengan suara dedek. Ada sedikit suara dari dedek, saya spontan terbangun. Kalau bangun spontan seperti itu pasti kepala saya pusing. Awal-awalnya siyh. Kesini mulai biasa, walau masih suka sedikit pusing.



Kalau siang hari saat si dedek bobo, saya ikut bobo. Tapi emang dasar nggak pernah tidur siang jadilah saya malah susah bobo. Kalau sudah susah bobo cantik siang-siang, saya browsing apa saja seputar bayi dan parenting. Bahkan saya jadi mengetahui beberapa perlengkapan bayi yang kekinian sepeti bedong instan, cup feeder, cloth diaper, bantal menyusui, dan lain-lain. Untuk browsing semua itu saja rasanya seharian nggak cukup. Apalagi hari ini. Sepertinya dedek saya sedang memasuki masa Growth Spurts. Dari kemarin malam rewel terus minta susu hampir setengah jam sekali sesudah mimik. Itupun menghasilkan popok yang harus diganti setiap saat. Baru sore ini dedeknya anteng (dan mamanya bisa melanjutkan postingan ini yang sudah dibuat sejak begadang semalam).



Saya sangat merasakan betapa lelahnya ibu-ibu diluar sana dari yang baru memiliki anak hingga yang sudah beranjak dewasa. Tapi kalau sudah menggendongnya rasanya semua lelah itu hilang. Saya masih suka mengingat-ingat momen dimana dedek lahir ke dunia. Momen itu yang selalu menguatkan saya saat merasa lelah karena kurang istirahat. Tidak jarang saya menyusui dedek sambil mengantuk. Namun saya berusaha keras agar saya selalu terjaga untuk dedek. Jujur adakalanya saya merasa kesepian (padahal banyak orang di rumah). Mungkin karena biasanya selalu berada di luar rumah dan tiba-tiba selama 40 hari masa nifas ini saya hanya harus berada di rumah (bahkan mungkin sampai cuti saya berakhir). Tapi balik lagi, melihat muka cantik dedek dan mengingat 5 Januari 2016 serta tentunya dibungkus dengan doa yang tidak putus-putusnya kepada yang Maha Kuasa menjadi kekuatan saya, walau kadang bercampur dengan tangisan.



Beberapa hari yang lalu saya menemukan gambar ini di share di FB ObGyn saya. Saya cukup dikuatkan dengan tulisan yang ada di dalamnya. Mudah-mudahan ini menguatkan untuk kita semua yang membacanya.



[caption id="" align="aligncenter" width="480"] Pic. Courtesy of Facebook Madrasatun Nisa[/caption]

Regards,



sans-sign



img_2723

12.1.16

Januari 12, 2016

Awal yang Indah: Cerita Melahirkan

Dear all, apa kabarnya? Saya teringat postingan terakhir saya ada di awal tahun 2016. Isinya adalah kilas balik tahun 2015 dan resolusi tahun 2016. Sesudah 10 hari kemudian saya mengumumkan 5 hari sesudah postingan awal tahun, resolusi nomor 1 terpenuhi. Welcome to the world baby JOE!!! Saya sudah melahirkan dunia!!! Ini suatu awal yang indah buat saya sekeluarga. :)



Setelah penantian selama 9 bulan, baby JOE, seorang bayi perempuan, hadir kedunia sebagai anugerah dari Tuhan. Tangisan bayi perempuan memenuhi setiap sudut rumah kami. Ini berarti baby JOE sudah berumur satu minggu saat postingan ini diluncurkan. By the way "JOE" adalah singkatan dari nama anak perempuan kami dan bukan nama panggilannya. Saya menggunakannya untuk keperluan posting saja.



Kalau mengingat peristiwa satu minggu yang lalu rasanya semua terjadi dengan begitu cepatnya. Sedikit saya ingin menceritakan proses persalinan saya yang semata-mata untuk saling berbagi momen bahagia sebagai media sharing informasi bagi yang membutuhkannya.



Tanggal 2 Januari 2016 yang lalu saya sempat masuk ke rumah sakit karena saya mengalami flek. ObGyn saya, yang saat itu sedang cuti, mengharuskan saya dirawat walau belum ada pembukaan. Ini tidak menyenangkan buat saya. Saya meminta rawat jalan namun tidak boleh. Lucunya tiba-tiba saya malah terserang flu saat mulai dirawat. Dikarenakan usia kandungan masih 36 minggu, paru-paru bayi baru akan matang. Jadi saya harus stay di RS untuk bed rest dan di kasih penyuntik paru buat dedek bayi bila sewaktu-waktu melahirkan. Menurut obgyn--yang akhirnya visit juga di tanggal 3 Januari 2016 walaupun cuti dengan menggunakan kaos dan jeans di hari minggu--pada minggu 36 bisa saja melahirkan karena itu usia minimum persalinan, namun ada baiknya tunggu sampai benar-benar matang. Jadilah saya masih harus stay semalam lagi di RS.



Tanggal 4 Januari 2016 setelah visit dokter dan USG, rupanya saya sudah masuk minggu 37. Walau saat cek pembukaan belum ada tanda-tanda pembukaan, ObGyn mengatakan saya sewaktu-waktu bisa melahirkan karena flek masih keluar. Namun tetap harus diperhatikan kadar fleknya. Saya diharuskan kontrol satu minggu kemudian tapi kalau flek bertambah banyak harus segera konsultasi langsung. Jadilah saya sudah diperbolehkan keluar dari RS. Niat saya untuk sekaligus periksa mata tidak tersampaikan karena sudah terlalu sore. Jadilah saya pulang dan beristirahat. Apalagi flu saya makin menjadi, makin meringkuk lah saya sesudah makan malam. Namun sekitar pukul 9 malam saya mulai merasakan kontraksi ringan. Saya masih bingung ini kontraksi palsu atau bukan. Namun lama-lama kontraksinya memiliki ritme yang konstan. Setiap 10 menit pasti kontraksi sekitar 1 menit. Untuk menghitungnya saya sampai menginstall aplikasi khusus menghitung dan menganalisa kontraksi.



Tanggal 5 Januari 2016 pagi saya beritahukan kontraksi yang masih terus berlanjut ke suami saya. Saya bingung perlukah kembali ke poli kebidanan RS atau tidak. Setelah dipertimbangkan, saya akan memeriksa ke kebidanan sesudah periksa mata. Periksa mata ini dilakukan untuk mengetahui apakah mata saya yang menggunakan kacamata minus besar mampu lahir secara normal. Saya merupakan wanita dengan mata minus 5 dan silider 1 untuk kedua mata. Setelah 5 jam, seluruh rangkaian proses pemeriksaan mata selesai. Selama periksa mata ini saya terus merasakan kontraksi beraturan. Dari poli mata saya langsung ke poli kebidanan. Saya di CTG dan dilakukan pemeriksaan pembukaan oleh bidan. Hasilnya, ternyata saya sudah pembukaan satu jalan dua. Bidan langsung laporan ke ObGyn via telepon yang pas banget di hari itu bukan jadwal prakteknya di RS tempat saya melakukan pemeriksaan. Hasilnya saya sudah harus masuk ruang perawatan hanya ditemani ibu mertua saya untuk menanti proses persalinan yang bisa terjadi kapan saja. Sekitar pukul setengah 4 sore saya resmi masuk RS lagi dengan kondisi saya sendiri bolak-balik mengurus administrasi RS dengan perut kontraksi. Namun ini kegiatan yang baik. Saat pembukaan awal sangat dianjurkan berjalan-jalan untuk mempercepat dan memperlancar persalinan.



Saat waktu menunjukkan pukul 5 sore, ObGyn saya datang visit. Ia melakukan periksa pembukaan dan menurutnya saya di pembukaan dua tipis. Artinya di malam hari yang sama saya bisa melahirkan. Ia meminta suami saya untuk sudah stand by di RS jam 7 malam. Saya pun tetap dianjurkan untuk berjalan-jalan seputar kamar perawatan. Secara teori untuk anak pertama jeda pembukaan terjadi setiap 1-2 jam, kira-kira pukul 3 dini hari keesokan harinya saya lahiran. Tapi menurut ObGyn dengan pembukaan tipis saya, saya bisa melahirkan jauh lebih cepat dari itu.



Prediksi ObGyn benar. Pukul 8 malam kontraksi sudah mulai hebat. Saya memanggil bidan dan saat dilakukan cek pembukaan, saya sudah pembukaan 6 masuk 7. Yang mengagetkan lagi rupanya air ketuban saya sudah pecah, bidan sudah langsung merasakan rambut di mulut rahim saya. Kemungkinan saat ke toilet saya tidak sadar air ketuban pun ikut keluar karena di kasur saya tidak basah. Segeralah bidan menghubungi ObGyn dan saya langsung dibawa ke kamar bersalin dengan kursi roda. Saat itu saya hanya berharap ibu mertua saya menghubungi si mamas.



Rupanya saya masih harus menanti. Saya harus merasakan bagaimana sakitnya kontraksi sampai ObGyn datang dan itu harus ditahan dalam waktu kurang lebih satu setengah jam. ObGyn saya rupanya sedang praktek di Rawamangun. Bayangkan saja perjalanan pulang kantor dari Rawamangun ke Pasar Rebo. Pasti lamaaa. Untuk saya yang sedang menunggu, raaasssaaanyaaaa amboyyyyy nano-nano bikin kapok. Tenaga saya terkuras untuk menahan agar tidak mengejan terlebih dahulu. Tangan ibu mertua saya habis di remas-remas oleh saya. Yang membuat tambah menyiksa adalah flu saya yang belum sembuh. Hidung saya mampet sebelah sehingga sangat sulit untuk menarik dan membuang nafas guna menahan sakit kontraksi seperti yang diajarkan saat senam hamil. Berkali-kali saya setengah berteriak tidak kuat untuk dikeluarkan secepat mungkin kepada bidan yang berjaga disitu. Berkali-kali pula bidan mengingatkan saya untuk tidak mengejan sebelum waktunya karena bisa bengkak. Jadi saya terus diingatkan caranya bernafas saat kontraksi. Tapi sungguh ya, baru menarik nafas saja sudah bikin saya ingin mengejan terus ditambah lagi hidung mampet terus-terusan. Rasanya saya ingin memaki-maki bidan yang ada disitu.



Akhirnya penantian yang serasa berjam-jam itu datang juga. ObGyn saya datang. Ia sempat kaget karena si mamas belum datang juga. Tapi sudah tidak bisa menunggu lagi, dengan cepat saya langsung disuruh mengejan. Saya sudah tidak berpikir kapan suami saya datang. Saya hanya ingin kesakitan itu cepat berlalu. Sekitar dua kali mengejan belum berhasil. Metode saya salah. Jujur apa yang diajarkan saat senam hamil sama sekali hilang. Apalagi saya masih flu. Saya merasakan nafas saya pendek. Berulang kali ObGyn mengkoreksi teknik mengejan saya. Namun saya tidak bisa terlalu konsentrasi dengan perintahnya. Sebisanya saya mengejan sesuai yang diajarkan ObGyn. Lalu, tidak berapa lama kemudian si mamas datang. Sambil dibantu para bidan mendorong perut, instruksi dokter untuk mengejan dengan benar, dan yang paling penting doa si mamas dari telinga kiri saya, setelah kurang lebih tiga kali mengejan, pukul 21.45 tanggal 5 Januari 2016 saya mendengar ObGyn berkata, "ini dia sudah lahir." dan terdengar tangisan bayi yang kencang. Kontraksi pun hilang sudah. Saya langsung menangis sambil dipeluk si mamas. Rasanya lega sekali. Plong..... Si mamas pun langsung disuruh ObGyn untuk memotong tali pusar baby JOE. Tambah sukacita hati ini.



Sisanya saya hanya bisa menangis menunggu bayi saya di bersihkan untuk IMD. Rasa-rasa dijahit tidak berasa sama sekali, kaki rasanya lemas. Tapi tangan dan badan saya memegang baby JOE dengan tegap dan sukacita luar biasa!!!! Tak henti-hentinya saya mengucapkan syukur kepada yang Maha Kuasa sembari terus-terusan mencium kening baby JOE. Ini suatu anugerah awal tahun yang luar biasa indah. Saya hanya bisa berdoa dalam hati mengucap syukur dan tak hentinya menghaturkan terima kasih kepada ObGyn dan para bidan yang membantu dari mulai kehamilan hingga pasca persalinan melalui ucapan dan doa saya.



 
Sampai hari ini saya masih merasa tidak percaya. Dua minggu yang lalu saya masih membawa perut besar, tapi sekarang yang didalam perut itu sudah diluar. Apalagi kelahiran ini tergolong maju dua minggu. Jujur saya masih ringkih dan kaku memegangnya. Saya merasa bersyukur ibu mertua mau membantu meredakan rewel baby JOE. Sungguh, saya masih belum mampu begadang ditambah flu yang masih belum kunjung sembuh. Namun perlahan tapi pasti, semua akan menjadi biasa. Saya juga mungkin mengalami baby blues, masih merasa deg-degan bingung apa yang harus dilakukan setiap baby JOE nangis kejer tapi mudah-mudahan teratasi dengan baik.



Bagaimana dengan awal tahunmu?



Regards,



sans-sign



Ditulis disela-sela istirahat siang mengumpulkan tenaga untuk begadang di malam hari nanti :D






About

authorHello, my name is Sandrine. I'm a working mom who loves to read and wander.
Learn More →



Total Tayangan Halaman