26.11.15

November 26, 2015

Balada si Ibu Hamil SanWa

Selama kehamilan setiap calon ibu pasti menghadapi berbagai macam balada. Maklum, menurut beberapa artikel yang saya baca dan menurut obgyn saya, ada perubahan hormon yang terjadi selama masa-masa kehamilan sehingga wanita akan cenderung lebih sensitif dalam beberapa hal dalam hidupnya. Sekarang, ceritanya ini saya pengen curhat balada apa yang saya alami selama masa kehamilan ini. Hahaha boleh dong!! Berhubung ini kehamilan pertama saya, saya ingin meninggalkan jejak disini siapa tahu bisa menjadi cerita buat anak cucu saya kelak dan saling berbagi dengan yang lain :) :)



 bumil




  1. Si bumil dan gatal-gatal
    Semua ibu hamil pasti menderita hal ini (eh bener semua kan ya?? Ada yang tidak??). Pasalnya menurut cerita ilmiah obgyn saya, gatal-gatal ini terjadi karena ada peregangan otot kulit perut karena didalamnya ada si dedek bayi. Jadilah kalau gerah dikit saya pasti merasa gatal-gatal. Tidak kegerahan aja gatal, apalagi kepanasan wuihh gatalnya rrruuuaaarrrr biasaaaa. Kalau udah gatal-gatal begini pasti saya merasa tidak tahan untuk segera menggaruknya dan hasilnya langsung saja garuk pakai kuku. Rupanya itu tidak boleh dilakukan karena sesudah melahirkan nanti yang ada kulit perut akan timbul selulit (begitu kata ibu mertua saya). Jika gatal sebaiknya diusap-usap saja atau gunakan bedak (anjuran obgyn saya pun bukan digaruk namun dioles dengan bedak). Tapi ya namanya tidak tahan kadang saya suka langsung saja garuk-garuk tanpa sadar. Ujung-ujungnya diomelin suami deh :D
    .

  2. Si bumil dan thesis
    Ini sesungguhnya faktor kemalasan saya pribadi. Tepat sebelum saya menikah saya memang sedang melanjutkan studi magister di semester terakhir. Seharusnya sesudah menikah saya langsung mengerjakan thesis. Namun karena faktor M ini akhirnya ketunda terus sampai akhirnya sekarang saya sudah hamil tua. Giliran sudah mendekati due date begini baru saya sadar harus selesai secepatnya sehingga tidak mengganggu saat proses menyusui di tiga bulan pertama. Namun perjalanannya itu tidak mungkin sampai saat ini saya hanya berhasil menyelesaikan bab 1. Dosen pembimbing saya pun yang melihat kondisi saya juga merasa tidak mungkin bisa sidang dibulan Desember. Jadi beliau menyarankan di bulan Februari atau Maret. Tapi ya kebayang dong nanti repotnya, lagi nyusuin eh kepikiran thesis. Intinya saya lagi kalut. Thesis saya stagnan!!! *horor
    .

  3. Si bumil dan susah tidur
    Mmmm sebenarnya tidak susah-susah amat siyh buat saya. Ketika tidur saya tidak seperti cerita ibu kebanyakan yang sering terbangun karena faktor bayi yang menendang-nendang. Kalau saya justru bayinya ikutan tidur *dedek yang pengertian :). Kalau saya lebih kepada terbangun jauhhhhh lebih pagi dan sesudahnya tidak bisa tidur lagi. Ini dikarenakan badan yang pegal-pegal karena posisi tidur yang tidak nyaman. Hamil besar seperti ini membuat tidak bisa tidur terlentang karena membuat nafas tertahan, membuat sakit pinggang jika tidur menyamping ke kiri ataupun ke kanan. Serba salah memang tapi saya bersyukur kalau malam jadi gampang ketiduran. Saya tidak lagi tidur diatas jam 11. Jam setengah 10 kalau sudah selonjoran di tempat tidur pasti ketiduran. Dampak baiknya lagi saya bisa bangun pagi!!!!! :D (okey, i was not a morning person).
    .

  4. Si bumil dan kemanjaan
    Sekali-kali boleh dong manja (mencari pembenaran banget ini siyh). Yap, saya jadi gampang manja sama suami. Apa-apa minta dianterin, apa-apa minta diambilin, apa-apa minta dibeliin :D. Sudah sekian saja ceritanya. Intinya ya saya jadi manja ... hwehehehehe
    .

  5. Si bumil dan kelelahan
    Karena saya bekerja diruangan yang berada dilantai dasar jadilah tidak pernah naik turun tangga. Ini memang nilai positif karena sebaiknya ibu hamil jangan terlalu sering naik turun tangga di awal-awal kehamilan (bukan berarti tidak boleh lowh). Namun ini dia balik ke nomor 4, otot-otot kaki saya jadi manja. Naik tangga sedikit saya lelah ngos-ngosan. Jalan kaki dari tempat turun angkutan umum hingga keruangan saya pun rasanya seperti abis lari 5K. Apalagi kalau saya lihat-lihat niyh kenaikan berat badan saya justru cenderung berat di kaki. Badan saya dari perut keatas nampak tidak naik sesignifikan sebelum hamil (itu berarti 15kg larinya di perut ke kaki semuaaaa *bergidik). Jadilah kalau jalan atau berdiri sebentar saja saya kelelahan.
    .

  6. Si bumil dan doyan belanja
    Nah ini dia, selain saya doyan baca, saya jadi doyan belanja apa saja dimulai dari jajan-jajan cemilan hingga beli-beli barang keperluan dirumah. Pulang kantor itu rasanya pengen mampir melulu ke mana saja yang bisa mengeluarkan uang. Ada untungnya juga saya memiliki balada poin nomor 5. Rasa ingin mampir itu pasti kalah karena saya malas berjalan lama-lama. Tapi ya tangan tetap saja browsing untuk belanja online, mulai dari snack-snack, selai, alat menjahit, ATK, tas, dompet, sampai perlengkapan untuk si dedek bayi nantinya. Intinya, kalau tiap hari tidak ada yang belanjaan yang saya browsing rasanya hari saya kurang lengkap. Ahahaha, cuman untungnya saya tidak gampang kalap. Pasti saya lirik pundi-pundi saya dulu, cukup atau tidak sampai akhir bulan. Kalau pundi-pundi teriak tidak okey saya cukup cuci mata saja sekadar memuaskan keinginan doyan belanja ini.
    .

  7. Si bumil dan rasa waswas
    Rasa waswas adalah balada saya yang paling besar saat ini. Sebagai ibu muda dengan kehamilan pertama pastilah saya waswas menghadapi proses persalinan nantinya. Kalau lagi tidak ada kerjaan saya langsung deg-degan memikirkan proses persalinan nantinya. Bukan hanya itu saja, saya jadi kepikiran nanti sesudah cuti 3 bulan bayi saya bagaimana? Udah gitu tambah lagi waswas gimana kalau bayi saya nantinya hanya dekat dengan eyang-eyangnya dibanding oma-opanya karena faktor ketemu yang jarang (pastilah sesudah kembali bekerja saya akan menitipkan anak dirumah mertua saya). Kata orang biasanya cucu pertama dari kedua belah pihak (suami-istri) itu jadi rebutan. Dan masih ada lagi rasa was-was lainnya. Padahal ini tidak bagus buat ibu dan dedek bayi. Dedek bayi ini bisa merasakan apa yang ibunya rasakan dari dalam perut. Untuk itulah saya lagi getol-getolnya cari kelas senam hamil dan kalau bisa yang ada kelas hypnobirthingnya. Saya tergolong terlambat melakukan ini soalnya ini akhir tahun, saya takut banyak bolongnya karena keasikan liburan dan banyak undangan pernikahan di akhir mingg (*cari-cari alasan wae). Intinya sekarang ini saya sedang banyak meditasi untuk menenangkan diri dari rasa waswas dan terus "sibuk" sehingga saya tidak lagi terngiang-ngiang rasa waswas tersebut.



Pada akhirnya setiap habis mengalami balada tersebut saya mengucap syukur karena saya bisa dianugerahi kehamilan ini. Sampai minggu ke 33 kehamilan saya ini saya terkagum-kagum sendiri bahwa didalam perut saya ini berkembang seorang bayi yang menunggu dipersiapkan untuk melihat dunia. Ahhhh mama jadi nggak sabar ngelihat kamu dek. Sampai kita bertemu di awal tahun ya. Mudah-mudahan tepat pada waktunya :)



Regards,



sans-sign



bumil



25.11.15

November 25, 2015

Jelajah Dunia Buku

Dalam satu minggu belakangan ini saya sedang menikmati sebuah buku seri The Land of Stories yang ke-empat dengan judul Beyond The Kingdoms. Buku ini adalah karangan seorang pemain tv series barat "Glee" yang bernama Chris Colfer (if you are a glee fan like me you should know who he is and yup, he is a writer). Secara singkat seluruh kisah Land of Stories adalah kisah tentang sepasang anak kembar yang setengahnya merupakan keturunan peri dari dunia dongeng. Di dalam buku ini menceritakan bahwa dunia dongeng itu nyata dan kisah-kisah seperti Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty, dan kisah dongeng lainnya memang terjadi di dunia lain dan dibawa ke dunia manusia oleh para peri sehingga dijadikan cerita-cerita best seller oleh pengarang terkenal seperti Grimm bersaudara, Hans Chrisitian Andersen, dan lain sebagainya.



The Land of StoriesSaya tidak ingin berpanjang lebar tentang keseluruhan kisahnya, namun saya ingin menyoroti salah satu kisahnya dibuku yang ke-empat. Dikisahkan bahwa di buku ini sepasang anak kembar tersebut sedang ingin menyelamatkan pamannya yang selalu menggunakan topeng (atau disebut masked man) yang terobsesi untuk menguasai negeri dongeng dan juga negeri manusia dengan mengumpulkan sekelompok pasukan yang terjahat dari semua yang jahat. Namun pasukan ini bukan diambil dari negeri dongeng ataupun manusia. Pasukan ini ingin diambilnya dari para tokoh jahat yang dibacanya dari buku-buku cerita yang diterbitkan di dunia manusia. Sebut saja The Wicked Witch dalam cerita The Wizard of Oz, atau Frankenstein si monster, dan lain sebagainya. Paman ini percaya jika dengan berkumpulnya para tokoh jahat ini akan membuatnya berkuasa di dua dunia tersebut. Dan untuk mencapai tujuannya ia harus masuk kedalam setiap buku dengan meneteskan ramuan ajaib yang akan membentuk buku yang dibacanya menjadi sebuah portal untuk masuk ke dunia buku tersebut yang hidup.



Dipertengahan cerita paman ini berhasil memasuki dunia buku dari Wizard of Oz. Sepasang anak kembar yang ingin menyelamatkan pamannya ini pun ikut masuk kedalamnya demi mengembalikan pamannya ke jalannya yang benar. Sepasang anak kembar ini kemudian menjalani hari-hari hampir sama seperti yang dilalui oleh Dorothy si pemeran utama buku Wizard of Oz.



Walau saya belum selesai membacanya, namun saya jadi bertanya-tanya juga, apa rasanya kalau kita bisa masuk dan melihat langsung bahkan merasakan langsung kisah-kisah yang kita baca dalam buku yang kita gemari?



Sebagai seorang book addict sejak masih kecil, saya sangat menggemari kisah-kisah yang berbau dongeng atau science fiction. Kisah-kisah yang jarang atau bahkan tidak bisa ditemui di dunia nyata. Sehingga ketika membacanya saya menempatkan diri sebagai sang pemeran utama wanita dan membentuk perspektif sendiri akan buku yang saya baca. Untuk zaman sekarang ini memang telah banyak film yang diadaptasi dari buku-buku best seller sehingga pembaca akan dengan lebih mudah melihat proyeksi dari buku yang kita baca. Namun bagi saya pribadi kebanyakan film yang diadaptasi dari buku tersebut tidak bisa memuaskan khayalan proyeksi buku ciptaan saya sendiri.



Jikalau ramuan itu memang benar ada (namun saya tidak mengharapkannya karena itu pasti akan spooky berat - let the world be like it is), saya ingin melihat dan menyaksikan kisah dari buku serial The Land of Stories 1 ~ 4. Mengapa? Karena semua karakter dongeng yang saya kenal dari kanak-kanak hingga dewasa seperti ini ada didalamnya. Apalagi ada dunia peri yang identik dengan wanita dan pria berkilauan diliputi beraneka ragam warna yang dapat terbang kesana kemari dan melakukan magic. Pasti rasanya wow!!! Ditambah lagi kalau bisa berfoto bersama :D (narsisnya tetap dibawa). Tapi saya tidak ingin mengalami kisah-kisah adventurous yang ada didalamnya :D. Saya jadi teringat ketika mimpi saya untuk mengunjungi Disneyland terkabulkan (baca kisahnya disini). Saat itu hasrat saya ingin berfoto dengan semua tokoh kartun Disney dan para wanita dari negeri dongeng tersebut namun saya terlalu malu bersaing dengan anak-anak kecil saat ingin berfoto dengan Cinderella dan Belle (tokoh Beauty and the Beast). Jadilah saya hanya berhasil berfoto dengan karakter yang tidak berwujud manusia yaitu Goofy dan Pluto.



Bagaimana dengan kamu, jika ramuan itu ada, buku apa yang ingin kamu jelajahi?



Regards,



sans-sign



IMG_0609



24.11.15

November 24, 2015

Cave Tubing di Goa Pindul

Sebagai ibu hamil yang sedang hamil tua, saya memendam hasrat dan keinginan saya untuk melakukan perjalanan kemanapun. Bukan berarti tidak boleh, namun saya lebih berjaga-jaga dan berhati-hati menjaga kandungan dan si buah hati yang kami nanti-nanti sejak menikah. Ditambah lagi memang tidak nyaman juga berpergian apalagi yang jauh. Saya pengennya di rumah terus supaya bisa tidur dan selonjoran. Untuk memuaskan keinginan, saya teringat oleh beberapa cerita perjalanan yang belum pernah saya bagikan padahal perjalanan ini sudah berlangsung bertahun-tahun yang lalu.



Saya teringat pengalaman pertama saya melakukan Cave Tubing. Dulu, tahun itu, melakukan Cave Tubing di Goa Pindul memang sedang ngetrend-ngetrend-nya. Sekarang pun saya masih suka melihat beberapa cerita perjalanan kesana. Saya bersama suami saya (yang kala itu masih menjabat sebagai pacar)-- kita sebut saja dia si mamas, dan kedua teman kerja kami ingin menghabiskan awal tahun dengan menyusuri Jogja dan Dieng (baca kisah menyusuri Dieng disini). Tepat di hari Kamis, 2 Januari 2014, kami berempat menjejaki stasiun Tugu Yogyakarta pada pukul 5.30 pagi. Rasa lelah dan gairah bercampur jadi satu. Dimulailah perjalanan kami menyusuri Jogja dan Dieng ini selama 3 hari kedepan. Hari pertama kami habiskan dengan menikmati wisata yang ada di daerah Gunung Kidul.



Saat sedang menunggu mobil yang akan menjemput kami, kami bertanya-tanya tentang Goa Pindul kepada pemilik Munajat Backpacker di Malioboro tempat kami menginap. Ia bercerita banyak dan persis seperti yang kami lakukan sesudahnya bahkan memberikan nomor telepon PIC wisata di Goa Pindul yang terpercaya sehingga kami tidak salah langkah. Pukul 8 pagi perjalananpun dimulai. Ditemani dengan bapak Duloh, driver yang kami sewa untuk perjalanan kami selama di Jogjakarta, kami pergi ke Goa Pindul. Jangan tanya apa yang kami lakukan selama perjalanan, karena yang kami lakukan hanya tertidur, menyantap kudapan, turun mencari toilet, lalu kembali tertidur.



Memang wisata ke Goa Pindul ini banyak ”perangkap” nya kalau saya bisa bilang begitu. Mengapa? Saya sering kali tertipu dengan billboard ”jasa antar Goa Pindul” ditengah jalan menuju Desa Bejiharjo. Berulang kali saya bertanya pada pak Duloh apakah kita sudah sampai atau belum. Dengan tenang, singkat, dan logatnya yang khas beliau selalu menjawab, ”belum, masih jauh banget”. Setiap bertanya seperti itu dan mendengar jawabannya saya selalu bingung tidak puas dengan jawabannya. Kok ya bisa jauh banget tapi billboardnya sudah dimana-mana. Namun memang kok perjalanannya terkesan tiada akhir. Kok, tidak sampai-sampai.



Akhirnya jawaban saya temukan bahwa itu hanyalah tempat untuk menghantar ke agen-agen wisata di Goa Pindul dan mereka akan mencharge kita mahal hanya untuk mengantar kita ke agen-agen tersebut. Apalagi kalau jaraknya jauh. Pak Duloh dengan PD-nya berkata, ”Saya sudah tau kok dan sudah sering kesana, ngapain pakai jasa seperti itu. Akan bikin mahal mas-mas dan mba-mba nya saja. Cuman ya ngga enaknya ngikutin kita dari belakang kalo ketika kita dicegat dan kitanya nggak mau. Suka bikin kagok.” Dan benar saja terjadi, mobil kami sempat diikuti sehingga membuat pak Duloh kagok dan terlewat di salah satu persimpangan. Tak lama kemudian sampailah kami di Agen Wira Wisata milik bapak Haris.



Kami turun dari mobil, berjalan ke bagian pendaftaran, diberi pengenalan wisata secara singkat dan memutuskan mengambil dua perjalan yaitu Cave Tubing di Goa Pindul dan Rafting di Sungai Oyo. Saat itu kami membayar Rp. 85000,- untuk menyusuri dua dari tiga wisata yang disediakan. Kami mengganti baju senyaman mungkin dan menunggu untuk dipanggil.



Tak lama kemudian perjalanan dimulai, ditemani pak Yus pemandu kami, kami menyusuri Goa Pindul dengan menggunakan ban bulat (ya pasti bulat ya). Sebelum memulai perjalanan kami di breifing dan melakukan doa bersama. Wew saya cukup tegang sesungguhnya... :D



Memasuki pintu masuk Goa Pindul ternyata antrian ban sudah mengular. Ya memang siyh itu karena kita memilih tanggal yang memang merupakan tanggal liburan panjang awal tahun. Otomatis banyak yang berwisata kesana. Owh dan satu lagi, air sungainya berwarna cokelat. Itu karena kami datang dimusim penghujan sehingga tanah-tanah disekitar pada becek dan tentunya mempengaruhi air sungai tersebut.



Tanpa berpanjang lebar, sedikit foto-foto selama kami di Goa Pindul.





 



  







Fakta menarik dari Goa Pindul:




  1. Saat mau memulai perjalanan, akan disuguhkan nyanyian dangdut oleh organ tunggal dan penyanyinya lengkap dengan panggung dangdutannya. Kesannya lagi ada konser mini dan para penyanyi ini menunggu di sawer. Saya bertanya-tanya adakah yang saweran dulu sebelum nyebur ke sungai?? ^^

  2. Goa Pindul memiliki 3 zona yaitu Zona Terang, Zona Gelap, dan Zona Gelap abadi. Awalnya ketika di briefing pemandu kami bilang bahwa kita akan benar-benar gelap-gelapan tanpa sedikit cahayapun. Tapi ternyata kenyataannya senter yang dibawa pemandu tetap saja dinyalakan. Apalagi antrian yang mengular itu tentu banyak yang bawa senter juga.

  3. Stalaktit di Goa tersebut banyak yang masih aktif. Bahkan ada (saya lupa namanya apa) yang mengeluarkan tetesan air yang konon dapat membuat wanita yang ditetesinya awet muda. Saat itu saya terkena tetesannya ditangan kanan. Apakah artinya hanya tangan kanan saya saja yang awet muda??? ^^

  4. Tidak mau kalah, disana pun ada batu yang jika disentuh oleh pria akan membuat pria tersebut makin perkasa. Si mamas dan kawan saya menyentuh batu tersebut. Lalu??? Hmmm... No comment lah ya.

  5. Di tengah-tengah kawasan goa ada tangga. Katanya itu tempat penjagaan. Namun banyak burung yang mengarah kesana. Rupanya itu burung-burung walet dan mereka bersarang di tempat penjagaan tersebut.

  6. Tidak hanya ada burung walet disana. Kampret alias kelelawar pun banyak. Tapi seperti yang kita ketahui, kalau siang hari justru mereka tertidur jadi bisa melihat rupanya yang bergelantungan disinari sinar senter. Okey, melihatnya saja membuat saya merinding seakan-akan para kampret tersebut kalau dilihat lama-lama akan berubah jadi drakula.

  7. Bagi pencinta foto narsis kayaknya perlu bawa kamera yang anti air namun dengan resolusi tinggi dan pencahayaan yang bagus dari kameranya soalnya gelap, mau foto-foto apa. Saya pun hanya mengandalkan kamera smartphone biasa dan yap hasilnya gelap-gelap ngeblur.



Terus kesan saya apa dong? Jujur sedikit membosankan siyh buat saya karena gelap. Hahahaha. Kalau gelap-gelap gitu justru membuat saya ngantuk :D. Udah gitu airnya pun bikin sekujur badan saya gatel-gatel karena cokelatnya. Saya tidak tahu sekarang goa pindul seperti apa. Apakah masih seperti yang saya tuliskan diatas?

Ahhhh, biarpun begitu, perjalanan ini ngangenin... Sedikit-sedikit berfoto... Sedikit-sedikit narsis. Pastinya selalu meminta tolong pak pemandu yang mengambil gambar. Maklum waktu itu tongsis belum in. Beruntungnya pak pemandu ini bagus mengambil gambarnya.



Regards,

sans-sign

NB: Sedikit melakukan sensor karena satu dan lain hal dengan yang gambarnya ikut diambil :)



20.11.15

November 20, 2015

Membaca vs Menonton

Kalau seandainya kita 'dikurung 1 minggu' dalam satu kamar yang hanya berisi tempat tidur dan toilet lalu kita hanya diizinkan untuk memilih salah satu dari kedua jenis barang ini yaitu antara satu rak penuh berisi buku dan satu televisi lengkap dengan pemancarnya, manakah yang akan kita pilih? Serak Buku atau Seset TV? Membaca atau menonton?



Kalau saya sudah pasti akan memilih satu rak penuh buku. Mengapa? Karena lebih suka membaca ketimbang menonton. Eit, bukan berarti saya anti film-film bagus. Biarpun saya suka membaca, saya termasuk seorang movie freak. Sedikit saya flashback kehidupan saya ke belakang, kalau saya petakan ada musim saat saya hanya menyukai kegiatan membaca saja, kemudian dimusim berikutnya menyenangi kegiatan menonton, lalu berikutnya berulang lagi.



 membaca



Musim pertama saya dimulai sejak saya SMP. Ini pertama kali saya sangat senang dengan salah satu kegiatan diatas, yaitu membaca (kalau zaman SD yang saya senangi hanya bermain bersama tetangga, saya belum senang dengan yang namanya membaca ataupun menonton). Semasa SMP saya senang dengan yang namanya perpustakaan. Itu karena pengaruh teman saya yang selalu meminta saya untuk menemaninya pergi ke perpustakaan sekolah. Saya tidak menolak untuk menemaninya karena perpustakaan itu adalah tempat yang paling tidak bising dan paling adem karena sedikit orang didalamnya. Lama kelamaan saya tertarik melihat buku-buku yang dipinjam teman saya yang selalu meminjam novel dan mulai merasa 'kepo' seperti apa rasanya membaca.



Lama kelamaan saya mengikuti jejak teman saya dengan meminjam novel serial Malory Tower karangan Enyd Blyton dalam bahasa Indonesia. Awalnya memang membosankan karena kegiatan membaca itu lama, namun jenis ceritanya yang menarik membuat saya terus membaca walau perlahan. Lama kelamaan saya malah membaca, membaca, dan membaca terus. Semua buku novel di perpustakaan saya pinjam tanpa jeda. Bahkan di kelas dua saya mulai berani meminjam novel berbahasa Inggris karena stok novel bahasa Indonesia sudah habis (selain itu memang saat itu saya sedang les bahasa Inggris dan dituntut membaca yang banyak untuk latihan). Dikala itu juga teman saya yang lain memperkenalkan saya dengan komik dan saya jatuh cinta dengan segala jenis komik yang direkomendasikannya dan dipinjamkannya.



Masuk bangku SMA, kecintaan saya akan membaca masih sama semangatnya. Pertama kali masuk kelas (seusai MOS tentunya) yang saya cari pertama kali adalah perpustakaannya. Namun saya sedikit kecewa, tidak banyak pilihan novel (apalagi komik) disana. Saya pun bisa katakan saya belum menjadi penggemar buku-buku motivasi ataupun autobiografi, apalagi buku pelajaran sekolah, hehehe. Dengan sedikit kekecewaan tidak lama kemudian saya 'bertemu' dengan tempat rental yang penuh dengan novel dan komik sejalan pulang ke rumah. Dengan berbekal tabungan dari uang jajan harian saya, paling nggak saya bisa meminjam minimal satu~dua novel atau beberapa seri komik untuk dibaca dalam seminggu.



Bagaimana dengan menonton kala SMP? Nah, disini saya mulai menyenangi kegiatan menonton (walaupun tidak terlalu) karena terpengaruh teman-teman sekelas yang kala itu gemar dengan anime dan film-film dorama Jepang. Berhubung saya getol baca komik-komik terjemahan jepang jadilah saya suka pantengin TV (biasanya di hari Minggu pagi) untuk nonton anime. Lalu dikala SMA mulai merambah ke dorama Jepang yang kala itu sedang semarak di layar kaca. Kalau masalah nonton bioskop saat itu belum terlalu saya gemari karena tidak pernah ada yang mengajak, maklum belum punya pacar :D. Cuman dulu bela-belain harus nonton film yang diadaptasi dari novel yang sedang in. Siapa yang ingat "Eiffel I'm In Love" dan "Dealova"?? :D



Masuk Kuliah, kegiatan membaca saya justru merosot baik itu novel ataupun komik. Saya makin menyenangi kegiatan menonton apalagi seri drama korea. Zaman itu lagi yang lagi "in" adalah kdrama Full House dan Princess Hours. Jadi yang saya lakukan saya hunting DVD dari nyelengin uang jajan saya atau tukar-tukaran sama teman kuliah. Saya pun makin menyenangi dan mencari kdrama lainnya termasuk kmovie. Seiring berjalannya waktu karena suka mampir toko DVD, saya sering ditawari film-film movie dan serial barat yang berbau-bau remaja. Ehhhh malah keterusan sampai saya lulus. Saya masih jarang nonton bioskop tapi kalau sudah hunting DVD bisa kalap setengah mati.



Ketika sudah menginjak dunia perkantoran, di tahun-tahun pertama saya bekerja, saya masih menyenangi kegiatan menonton ini seakan-akan saya lupa bahwa saya dulu pernah punya hobi membaca. Saya jarang sekali beli buku dan sekalinya beli itupun karena terpengaruh film adaptasi yang ngetop saat itu yaitu "Twilight". Sebagai pekerja kantoran baru, gaji saya kebanyakan dipakai untuk beli film-film baru dan bela-belain beli modem internet supaya bisa download serial korea terbaru dengan cepat tanpa menunggu lama. Semalam-malaman saya biarkan laptop dan modem saya menyala demi tontonan baru setiap harinya. Kerjaan pulang kantor ya langsung ngendon dalam kamar dan putar film. Atau bisa ngendon di kamar tetangga kos untuk menikmati kdrama bersama. Dengan teman kantor pun kerjaannya tukar-tukaran DVD korea baru :D :D. Intinya saya beneran "kdrama freak" banget saat.



Namun, semenjak saya--akhirnya--memiliki pacar lagi, kegiatan nonton kdrama ataupun film-film remaja mulai berkurang karena pasangan saya itu tidak suka film-film seperti itu. Cheesy dan melow katanya, cengeng (ya, namanya juga pria). Namun film-film action barat terus ditonton karena hanya itu kesamaan kami. Kami lebih sering nonton bioskop dan saya jadi lebih sering mengunduh action movie terbaru. Saya hanya mempertahankan beberapa serial barat untuk sesekali saya tonton di tengah perjalanan ke tempat kerja lewat MP4 abal-abal saya. Selebihnya saya terbuai dengan manisnya masa pacaran, ehehehehe. Uniknya ditengah masa pacaran ini, saya kembali menyenangi kegiatan membaca namun tidak terlalu sering. Saya mulai menyenangi buku-buku self motivation dan beberapa jenis buku non-fiksi. Saya mulai kembali mengunjungi perpustakaan umum untuk menyewa komik ataupun novel (beruntungnya saat itu saya nge-kost di daerah yang dekat sekali dengan rental buku besar di Margonda Depok).



Sesudah menikah, rupanya kegiatan menonton film ini mulai tergerus. Saya dan pasangan hanya sesekali menonton kalau ada film yang bagus. Justru malah saya mulai semangat lagi untuk membaca. Tapi namanya juga sudah lama tidak menyentuh buku, ritme membaca saya kembali pelan layaknya orang yang baru mulai hobi membaca. Saya pun sudah tidak suka lagi baca komik. Lama kelamaan saya sering membeli e-book dan sesekali membeli buku (okey, harga buku-buku ini semakin mahal saja... -__-) namun seringnya saya tumpuk buku-buku tersebut karena saya terlalu lelah untuk membaca setelah melalui hari-hari melelahkan di tempat kerja.



Akhirnya sesudah saya mengandung (bisa baca di artikel ini), kecepatan membaca saya meningkat pesat, apalagi semakin banyak film-film yang diadaptasi dari sebuah buku. Itu membuat saya semakin ingin melahap buku dengan cepat sebelum menikmati film-nya. Namun, kegiatan menonton saya yang sebaliknya merosot. Ini karena film-film box office tidak setiap saat keluar. Acara di televisi pun membuat saya semakin ilfil dengan kegiatan ini. Bukan ingin menjelek-jelekkan tayangan TV (entah itu entertainment ataupun berita-berita politik) tapi kok makin kesini makin kayak dagelan yang jayus buat saya. Saya seperti tidak mendapat manfaat apa-apa, tidak seperti saya kecil dahulu yang masih banyak acara cerdas cermat di TV, kuis-kuis yang membangun pengetahuan tentang negara ataupun dunia, ataupun film-film pendek yang mendidik keluarga. Saya pun bertekad



Jadi fix, sesudah cerita panjang lebar diatas, saya pasti akan memilih satu rak buku penuh untuk menemani saya terkurung dalam kamar selama seminggu. Ya, kalau tidak lagi membaca palingan saya tidur :D :D. Kalau kamu, pilih yang mana hayo??



Regards,



sans-sign



membaca



18.11.15

November 18, 2015

Perubahan Saat Kehamilan

Setiap orang yang baru menikah, mayoritas, pasti mendambakan seorang keturunan sesegera mungkin. Namun tidak dengan saya. Sesungguhnya saya pribadi ingin hamil sesudah 6 bulan pernikahan karena saya ingin menikmati kebersamaan bersama suami sedikit lebih lama sesudah menikah. Kelihatannya egois ya?? :D



Kenyataannya keinginan saya ini dikabulkan Yang Maha Kuasa. Saya diizinkan-Nya untuk mengandung sesudah memasuki bulan ke 8 umur pernikahan saya. Namun sepanjang 8 bulan tersebut ada saja perasaan waswas dari diri saya, takut tidak bisa mengandung padahal selama 8 bulan tersebut saya tidak menggunakan pengaman sama sekali. Ditambah lagi teman- teman yang menikah tidak jauh dari bulan pernikahan saya justru hamil lebih dulu. Saat itu keinginan saya beubah jadi kegalauan. Tapi waktu Tuhan tidak ada yang tahu.



Saya sadar memang baru sekarang lah waktu yang tepat karena selama 8 bulan sebelumnya saya bisa menikmati kebersamaan dengan suami lebih lama. Ditambah lagi ada satu berkat tambahan yang mempersiapkan kelahiran calon dedek bayi ini. Suami saya dipindah tugaskan dengan kondisi pemasukan yang jauh lebih baik. Disitu saya sangat bersyukur sekali. Paradigma saya berubah bahwa memiliki keturunan adalah 100% kuasa Yang Diatas. Saatnya yang tepat akan datang dari-Nya dicukupkan dengan persiapan-persiapan yang menunjang untuk Yang Maha Kuasa dapat menitipkan dan mempercayakan anugerah-Nya yang tak terkira itu.



Menurut perhitungan, kandungan saya ini mulai terbentuk sejak April 2015 dan hasil perhitungan dokter saat ini, saya memasuki usia kandungan 32 minggu. Selama hamil ini ada beberapa perubahan yang terjadi dalam diri saya. Ada yang signifikan ada yang tidak. Bahasa ilmiah-nya perubahan itu dipengaruhi hormon dalam tubuh saya. Namun saya selalu menganggap ini adalah anugerah tambahan.



[caption id="attachment_4022" align="aligncenter" width="3072"]Evolusi Numpang narsis yang gede ya :D[/caption]

Perubahan yang pertama, pola makan saya berubah. Hehehe, ini pastilah ya setiap ibu hamil biasanya berubah pola makan, ada yang berubah makin tidak senang makan, ada yang malah makin nafsu. Saya ada di nomor 2. Bukan hanya makin nafsu tapi makin senang sama yang namanya COKELAT. Sebelum mengandung, kadar makan cokelat saya hanya sesekali saja. Saya lebih menyenangi keju atau yang gurih-gurih (cenderung asin banget malahan). Saya tidak menolak di beri cokelat tapi pilihan utama saya pasti jatuhnya ke keju lagi keju lagi. Namun saat mengandung ini ampun deh setiap hari harus makan cokelat walau sedikit. Dikit-dikit ke supermarket beli cokelat. Abis makan nasi maunya makan kue cokelat. Ini membuat saya langsung naik drastis 10kg dalam dua bulan dengan pipi chubby. Tapiiiiiiii saya senang!!!! Akhirnya saya tidak terlihat kurus kerontang. Setiap orang bilang pipi saya tembem dan segar dilihat. Apalagi suami saya yang dulu suka komplain karena saya kurus malah terus memanggil saya 'ndut' :D. Saya berharap 'chubby' yang saya dapatkan selama hamil ini akan terus bertahan hingga pasca kehamilan (karena yang saya dengar justru pasca melahirkan pola makan perlu diperketat demi kelancaran ASI).



Picture2Perubahan yang kedua, saya semakin kreatif. Bukan berarti saya kreatif sebelumnya. Namun entah kenapa semenjak memasuki trimester kedua saya keranjingan beberapa tips DIY. Awal mulanya dikarenakan saya butuh planner yang tipis. Kalau beli kebanyakan tebal-tebal dan berat dibawa. Sehingga saya memutuskan untuk membuat sendiri dan yup jadilah saya membeli berbagai peralatan crafting yang mendukung kreatifitas saya untuk membuat planner yang sesuai keinginan saya. Namun hasilnya tetap saja tak terpakai :D. Akhirnya saya memanfaatkan yang sudah saya punya dengan print sana-sini. Eh tapi, sedikit bocoran saya lagi mencoba-coba bikin isi planner sendiri, hehehehe. Dulu saya anti banget yang namanya bikin-bikin kayak begini. Bukan bagaimana-bagaimana, tapi saya ogah repot. Namun adanya dedek dalam kandungan kok malah maunya repot. Bisa jadi nanti dedek udah keluar dari kandungan balik lagi jadi ibu-ibu yang ogah repot siyh kayaknya. Hehehe...



Perubahan yang ketiga, S-E-N-S-I-T-I-F. Yuppp, sama saja seperti wanita yang sedang kedatangan tamu dan kebanyakan para ibu-ibu hamil diluar sana, semakin hari saya semakin sensian. Apalagi sama bos sendiri *uuppss. Untungnya tidak sampai temperamental tinggi namun gampang kesel kalau yang saya inginkan tidak kesampean. Kalau yang ini saya tidak berharap ada lama-lama. Saya yakin sehabis melahirkan juga sudah tidak. Iya tidak se-sensitif sekarang tapi lebih sensitif lagi,, wkwkwkwkw (mudah-mudahan tidak).



Perubahan yang keempat, lebih rajin membaca. Selama kehamilan saya bisa menghabiskan target membaca 20 buku sebelum Desember ini bahkan sudah melampaui target. Masa-masa mengandung membuat saya tidak berhenti menatap segala jenis tulisan dan berimajinasi dengan cerita. Sudah ada 20 buku yang sudah selesai saya baca sejak bulan April 2015 itu. Semua buku yang telah saya baca bergenre fiksi YA ataupun travelog. Sekarang pun ada satu buku YA yang sedang saya baca dan ditargetkan untuk selesai minggu ini. Tapi ada buku yang belum kesampaian saya baca, yaitu buku-buku tentang parenting.  Target saya minggu depan sudah harus mulai membeli dan melahap buku parenting... Yossshhh semangat.



Kurang lebih ada empat perubahan signifikan yang saya rasakan selama saya hamil. Kalau para bumil diluar sana mungkin bisa share apa saja perubahan signifikan saat kehamilan?



Regards,



sans-sign



Picture1



17.11.15

November 17, 2015

Hal Baru dari Blogging

Kembalinya SanWa ke dunia blog atau blogging ini membuat SanWa kembali mencari-cari inspirasi seperti apa blogging yang baik. Menurut saya blogging yang benar tidak ada karena masing-masing blogger memiliki gayanya sendiri-sendiri. Namun tetap ada koridor yang harus diikuti, arahan yang harus dipatuhi, agar kegiatan ini tidak malah menjadi serangan bagi orang lain atau boomerang bagi diri sendiri. Tentunya kita tidak mau kan kehilangan segala kebebasan berekspresi kita karena terjerat pasal undang-undang ITE atau di bully seantero jagat raya?



Akhir-akhir ini saya lagi senang-senangnya mainan Pinterest. Dari pinterest saya banyak menemukan link dan infografis terkait dengan blogging. Saya yakin banyak dari kita yang sering memantau pinterest untuk mencari infografis baru dan inspirasi unik. Dari situlah saya menemukan satu yang bagi saya unik karena saya baru mengetahuinya. Judulnya adalah "13 Blogging Statistics That Show Why You Should Blog" seperti gambar dibawah ini. Pin ini menuju ke satu situs khusus yaitu link ini.



[caption id="" align="aligncenter" width="600"]blogging Courtesy of http://www.rightmixmarketing.com/right-mix-blog/blogging-statistics-2015/[/caption]

Saya sedang tidak ingin membahas poin-poin tersebut satu per satu namun ada beberapa sorotan yang saya sendiri ingin atau kembali terapkan secara konsisten.





  1. 5x More Visits


    Dengan melakukan posting harian sangat memungkinkan mendapat traffic 5x lebih besar dibandingkan blog dengan postingan seminggu sekali ataupun kurang. Saya kurang mengerti mengapa hasil surveynya bisa seperti ini (penjelasannya sebenarnya ada disalah satu link di bagian bawah infografik tersebut tapi saya belum membacanya satupun). Namun pengertian saya ketika kita melakukan posting lebih sering akan ada banyak visitor yang sering berkunjung pula. Terbukti ketika saya baru-baru ini hiatus. Sebelum hiatus saya rajin posting beberapa post perminggunya. Itu menuai traffic tinggi. Namun ketika tidak lagi ada satupun postingan, membuat traffic stagnan. Perlu saya coba lagi untuk melakukan posting lebih sering.
    .


  2. Length Matters and Images Matter Too


    Menurut gambar tersebut panjangnya suatu postingan dan banyaknya gambar akan menarik banyak backlink. Bahkan minimum 1500 kata. Wah kalau ini saya agak bingung juga. Saya pribadi kesulitan membuat suatu artikel yang panjangnya hingga 1000 kata. Bahkan saya cenderung bosan dengan postingan yang terlalu panjang. Walaupun saya suka membaca tapi tulisan yang hadir dalam bentuk blog, menurut kenyamanan saya, lebih baik dituliskan dalam beberapa paragraf yang proporsional dan tidak menimbulkan kebosanan ditengah-tengah membaca. Namun ada tekad dari diri saya mungkin saya perlu mencoba membuat artikel sepanjang minimum 1500 kata dan melihat hasilnya.
    .
    Kalau berkaitan dengan gambar, saya sangat setuju bahwa setidaknya dengan hadirnya gambar secara visual akan membuat postingan semakin menarik untuk dibaca dan mudah untuk dimengerti. Untuk urusan ini saya masih gagal. Membuat gambar yang, kalo kata orang jaman sekarang itu, "instagramable" itu susah. Emang tidak harus square siyh tapi karena fenomena foto-foto menarik lewat instagram itu membuat saya akhir-akhir ini menyenangi untuk embed gambar 1:1. Bagi saya, tulisan dengan ukuran gambar 1:1 menarik untuk dibaca. Walau tidak semua post bagus dengan gambar 1:1 ya (jangan tanya saya alasannya kenapa, saya hanya penikmat saja, menikmati apa yang saya pandang nikmat :D).
    .


  3. Top Credibility Factors


    Ini sudah umum dimana-mana tapi ini dua faktor yang paling menjebak untuk seorang blogger yang ingin "profesional", Quality Content dan Good Design. Kita sama-sama mengenal istilah "Content is King" dan ini tepat sekali. Konten yang tidak menarik tentu menurunkan minat baca. Sama saja seperti kita membeli buku. Kalau jalan ceritanya tidak menarik biasanya tidak akan dinikmati walaupun kita sudah terlanjur membelinya. Membuat konten yang menarik itu bukan hal yang mudah. Untuk saya pribadi perlu brainstorm. Tapi kalau kelamaan brainstorm dan tidak menulis juga itu sama aja nihil. Konten postingan akan semakin berkualitas kalau semakin dipraktekkan seperti pisau yang semakin tajam kalau diasah. Saya yakin setiap top blogger diluar sana tidak ada yang memulai dunia bloggingnya dengan kualitas konten yang sempurna. Semuanya pasti merangkak dari bawah dan meraba-raba apakah konten sudah berkualitas.
    .
    Tapi kalau sudah memiliki konten yang bagus, desain blog kita pun harus bagus. Bukan berarti harus meriah, penuh warna. Desain blog yang bagus menurut saya berarti mudah untuk diakses atau dibuka (tidak lola), penempatan menu-menu yang pas dan mudah di klik, serta komposisi tulisan dan warna yang tidak bikin sakit mata saat membacanya. Nah urusan kecepatan yang tidak lola ini belum berhasil saya terapkan di blog saya ini. Hasil dari cek speed halaman blog saya rupanya masih merah. Saya musti banyak belajar lagi bagaimana mendesain web yang tepat. Namun kita tidak boleh terpaku kepada desain terus menerus sehingga melalaikan tugas utama yaitu posting (kecuali pekerjaan kita memang seorang web designer atau developer).
    .


  4. Monday Morning Rush


    Nah ini saya benar-benar baru tahu. Hari Senin pagi rupanya mentrigger traffic tinggi ya. Nampaknya orang-orang masih belum bisa move-on dengan akhir pekannya sehingga pelampiasannya ada pada gadget dan dunia maya :D. Jadilah saya mulai bertekad mulai minggu depan sudah harus ada postingan yang di draft saat akhir pekan sehingga di Senin pagi langsung di publish. Well, mudah-mudahan nggak tergerus dengan indahnya akhir pekan :D :D.
    .


  5. Generous Thursdays


    Sama dengan yang di nomor empat saya baru tahu tentang hal ini. Rupanya orang-orang sering share artikel di hari Kamis. Namun mengapa kamis? Ada yang bisa share? Kok kayak sistem ganti film di Bioskop ya?? Hehehe. Tapi patut kita coba lowh. Perlu sering share postingan kita di hari Kamis tapi jangan sampai spamming.



Kalau kamu, dari nomor 1-13, mana yang belum diketahui? Atau mungkin ada yang mau ditambahkan?

Regards,

sans-sign



16.11.15

November 16, 2015

Apa Siyh Produktif Itu?

Sehabis blog walking beberapa hari terakhir ini tetiba saya jadi ingin menulis mengenai Produktifitas. Dari salah satu post blogwalking saya, saya dapat link yang mengarah ke post lama (post di awal tahun) dari mba Alodita. Post ini membuat saya sangat tertampar. Mengapa? Karena justru saya merasa diperbudak aktifitas tapi kok tidak produktif sama sekali sebagai seorang pekerja ataupun sebagai seorang istri. Saya selalu ngerasa kehabisan waktu tapi mencapai hasil apa-apa, tidak menikmati apa-apa, tidak merasakan kualitasnya di hal terkecil yang saya lakukan sekalipun.



Membaca artikel mba Alodita tadi saya jadi tersadar bahwa saya terlalu banyak mau ini dan itu, semua-mua ingin dilakukan tapi nyatanya tidak ada yang beres hanya kecapean aja ditambah banyak printil-printil yang harusnya tidak saya lakukan. Apalagi niyh saya jadi ngebayangin aktifitas tiada henti yang akan saya lakukan sesudah punya anak nantinya. Saya tidak ingin mempunyai kehidupan yang hanya rutinitas belaka tapi tidak produktif. Bagi saya kurangnya produktifitas itu sama saja dengan tidak mensyukuri dan menikmati hidup.



Menurut kamus besar bahasa Indonesia:




"produktif/pro·duk·tif/ a 1 bersifat atau mampu menghasilkan (dalam jumlah besar): perkebunan itu sangat --; 2 mendatangkan (memberi hasil, manfaat, dan sebagainya); menguntungkan: tabungan masyarakat dapat dipinjamkan kembali untuk keperluan --; 3 Ling mampu menghasilkan terus dan dipakai secara teratur untuk membentuk unsur-unsur baru: prefiks meng- merupakan prefiks yang --;"




Dari pengertian itu jelas bahwa menjadi produktif berarti bisa memberikan manfaat entah buat diri sendiri ataupun buat orang lain dan dilakukan secara terus-menerus. Untuk itulah saya jadi menyadari bahwa menjadi produktif berarti butuh pengaturan diri kearah yang lebih disiplin. Untuk mengarah ke kehidupan yang produktif saya mulai bertekad mengorganisir hidup saya dengan sebuah Planner. Yup, yup... P-L-A-N-N-E-R alias buku agenda!!! Kalau bahasa zaman saya SMP dulu itu sama dengan organizer itu lowh... Sebenarnya sebagai seorang pekerja saya sudah bergonta-ganti buku agenda, dari yang tebal kemudian yang tipis kemudian mulai digital hingga balik lagi ke yang tradisional. Kali ini saya bertekad memiliki buku agenda setipis mungkin dikombinasikan dengan penggunaan gadget.



New PictureNah ini adalah bagian yang tricky. Kenapa tetap pakai gadget? Karena untuk beberapa hal saya masih perlu yang mobilitas. Contohnya kalau mau transfer uang lewat ATM, akan lebih menyulitkan jika saya harus membuka buku agenda saya ketimbang membuka gadget. Namun ini yang perlu diperhatikan, saat membuka gadget perlu batasan. Seperti kata mba Alodita perlu ada batasan bahkan untuk memeriksa email sekalipun. Kalau mba Alodita bertekad untuk mengurangi penggunaan gadget saat weekend demi quality time bersama keluarga, saya yakin saya pun bisa asalkan saya punya tekad untuk mematuhi isi agenda saya sendiri.



Eitsss.. jangan berpikir kalau ini artinya hidup terlalu diatur-atur dan membatasi ruang gerak ya. Bagi orang seperti saya, pengaturan yang baik justru bikin saya tidak stres atau mumet sendiri. Justru kalau tidak ada koridor pengaturan tersebut saya cenderung jadi reckless. Namun tidak juga saya jadi saklek dengan aturan yang saya buat sendiri. Saya hanya ingin lebih disiplin dan produktif untuk masa depan saya dan keluarga. Saya belum tahu seberapa riwehnya nanti saat punya anak. Mudah-mudahan agenda saya dapat berjalan sampai seterusnya dan membantu saya mencapai seluruh cita-cita saya dan keluarga kearah yang lebih bermanfaat.



Bagaimana denganmu? Seperti apa produktifitas untukmu?



Regards,



sans-sign



New Picture



11.11.15

November 11, 2015

Persiapan SanWa Si Calon Ibu

Hey world, I'm a mom-to-be!!! Hehehehe, ini terkesan seperti informasi ringan meng-gembirakan, namun jujur dari hati yang terdalam, saya nervous berat... :D. Terhitung dari hari ini, kalo dihitung mundur paling nggak tinggal 10 minggu lagi sampai HPL. Nggak berasa banget!! Perasaan baru kemarin ketahuan saya hamil eh tau-tau perut udah maju ber senti-senti meter. Walaupun deg-degan, saya berusaha menenangkan diri dengan memulai segala bentuk persiapan menjelang melahirkan dan pasca melahirkan.



Dikesempatan kali ini saya ingin berbagi sedikit atas persiapan-persiapan yang sudah dan sedang saya lakukan di beberapa minggu terakhir ini. Berikut hal-hal yang saya lakukan:




  1. Membuat Checklist Kehamilan
    Inilah langkah pertama saya. Saya sudah mulai membuat checklist sejak memasuki bulan kelima yang lalu. Saya mulai searching-searching contoh checklist kehamilan dan akhirnya memutuskan nggak bikin sendiri melainkan langsung saya pakai beberapa checklist kehamilan tersebut. Ternyata susah juga cari yang memang sudah berupa list seperti list yang harus dibeli dan dilakukan setiap bulan menjelang dan sesudah melahirkan. Belakangan baru saya tahu bahwa kalau kita pergi ke salah satu toko yang menjual perlengkapan bayi mereka sudah mempersiapkan list yang harus dibeli. Tapi kelihatannya cuman list untuk pasca melahirkan siyh. Intinya bagi orang-orang yang pelupa dan sedikit cuek seperti saya, checklist ini perlu sebagai reminder.
    .

  2. Membeli Keperluan Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Baby
    Sudah sejak beberapa bulan lalu (saat mencari-cari checklist) saya sudah mulai mencicil barang-barang dimulai dari baju hamil yang bisa terus dipakai sampai menyusui nanti. Saya mulai searching barang-barang apa saja yang perlu dibeli untuk si baby nantinya. Bahkan mulai mencari referensi apa saja isi tas baby nantinya. Berhubung saya bekerja dan doyan jalan-jalan pastinya baby harus dipersiapkan supaya doyan jalan-jalan juga dong :D :D. Satu hal yang pasti, baju menyusui dan tas baby nanti harus nyaman, ringkas, dan lengkap namun trendy!!! Jadi saya nggak perlu kerepotan dengan penampilan saya dan bawa-bawa dua tas kemana-mana. Praktis namun tetap stylish (dasar wanita!!).
    .

  3. Mengatur Jadwal Pasca Kehamilan
    Nah ini yang getol banget saya lakukan akhir-akhir ini. Kenapa? Karena saya adalah ibu bekerja yang penuh kekalutan seperti apa akan mengasuh anak saat sudah kembali bekerja nanti tanpa asisten rumah tangga. Ya, saya sempat berpikir tidak ingin memiliki ART nantinya. Entah mengapa saya sangat tertantang dengan kondisi working mom di luar negeri sana. Saya tahu pekerjaan mereka memang fleksibel, saya juga mengerti bahwa menyewa ART disana sangat mahal. Tapi saya beranggapan kalau mereka bisa kenapa saya tidak. Jadilah saya mulai mencari tahu gaya working mom di negara barat sana dan ketemu aja lowh beberapa blog yang membagi cara para working mom ini mengatur jadwalnya. Walau sampai saat ini belum ada yang jadi pegangan saya, minimal saya sudah simpan link-link tersebut dalam pocket saya. Oh iya saya juga sempat cari-cari printable planner yang berhubungan dengan birth plan lowh. Duh lucu-lucu banget dan bisa jadi jurnal buat para ibu-ibu yang baru memiliki anak karena didalamnya ada list milestone baby kita nantinya... Xixixi jadi nggak sabar mengisinya satu persatu.
    .

  4. Mengubah Pola Makan
    Ini terlihat aneh memang tapi seminggu yang lalu saya baru saja kontrol ke dokter dan diketahui saya sudah naik 10 kg dalam dua bulan terakhir ini. Sesungguhnya menurut dokter berat badan saya sampai saat ini normal-normal saja, namun pola makan yang saya lakukan dua bulan ini cukup memprihatinkan. Padahal dari beberapa video dan referensi yang saya tonton, kenaikan berat badan pada ibu hamil bisa mencapai 20kg dan itu normal-normal aja. Kalau saya sendiri total-total sampai saat ini sudah naik 15kg. Memang nggak lucu siyh kalau dalam dua bulan saya naik dua kali lipat lagi. Dokter menyarankan untuk mengubah pola makan yang sudah terlalu banyak cemilan cokelat ini supaya di sisa dua bulan kedepan tidaklah lagi naik 10kg dan tidak menyulitkan persalinan normal. Intinya makan yang sehat-sehat, banyak Zat Besi, banyakin buah dan sayur-sayuran hijau. Tapi beneran deh, nggak makan cokelat sekali aja bibirnya pahit banget ini dok!!! :D
    .

  5. Memulai Senam Hamil
    Ini belumlah saya lakukan, tapi karena saya sudah memasuki usia 7 bulan, obgyn saya sudah merekomendasikan saya untuk ikut kelas senam hamil. Menjadi tekad saya juga untuk bisa ikut kelas hamil tanpa bolong-bolong. Maklum ini adalah kehamilan pertama yang cukup bikin nervous (pada dasarnya saya suka deg-degan menghadapi segala sesuatu yang berhubungan dengan 'pertama kalinya') dan yang saya tahu Senam Hamil ini bisa menjadi hypnotherapy tersendiri menghadapi persalinan nanti. Tapi dasar saya aja yang males niyh, sampe saat ini belum nanya-nanya ke rumah sakit perihal kelas hamil tersebut. Moga-moga minggu depan kesampean dah bisa mulai.
    .

  6. Pijat Laktasi
    Sebagai calon ibu tentunya saya bertekad untuk memberikan full ASI bagi anak saya nanti demi perkembangan dan pertumbuhannya. Nggak perlu lah ya saya membeberkan pentingnya ASI disini karena sudah banyak banget diulas di berbagai situs mengenai ASI ataupun ibu menyusui. Memang siyh saya belum memulai ritual ini, namun saya sudah mencari-cari bahan dimulai dari video sampai artikel-artikel di internet perihal ini. Kalau dilihat-lihat sekarang sudah banyak jasa pijat laktasi ini. Namun saya memutuskan melakukannya sendiri saja. Selain perihal penghematan, saya ini terlalu risih untuk dipijat-pijat orang lain sekalipun itu perempuan :D.
    .

  7. Rajin Minum Susu dan Vitamin
    Sebagai ibu hamil beruntungnya saya nggak ada mabok-maboknya terhadap hal-hal yang masuk ke perut. Segala jenis makanan dan minuman saya nggak menolak apalagi yang manis-manis. Ini juga membuat saya tidak kesusahan untuk menghabiskan segelas susu sehari sejak awal kehamilan. Akhir-akhir ini saya sudah mulai minum dua gelas susu perhari. Harusnya siyh ya dari awal kehamilan saya sudah harus minum dua gelas perhari tapi emang dasarnya saya ini bandel. Vitamin pun lancar dan beruntungnya juga saya cuman dikasih satu jenis vitamin setiap kali kontrol dan tidak ada obat-obatan lain yang masuk kecuali pernah selama 7 hari saat memasuki bulan ketiga saya ditopang penguat karena fleg. Tapi cuman itu saja. Mudah-mudahan para calon ibu yang lain pun dimudahkan ya... Amin...
    .

  8. Persiapan Tenaga
    Kenapa saya bilang persiapan tenaga, karena ibu hamil itu cepet banget lelahnya. Sebenarnya bisa aja gesit kayak biasanya, tapi saya cenderung was-was aja takut si baby kenapa-kenapa. Apalagi ibu-ibu bekerja yang terbiasa bekerja di kantor ataupun yang tugasnya seabrek dirumah, kan udah biasa gesit sana gesit sini serta biasa tidur tengah malam. Jadilah saya sendiri mulai tidur lebih cepat dari sebelum hamil. Tapi namanya kehamilan makin gede malah makin susah tidur. Biasanya si baby ngajak main bola didalam perut saat jam tidur. Belum lagi saya sebagai bumil jadi gampang gerah, sering gatel, dan sakit punggung serta pinggang. Walau begitu, sisi positifnya saya nggak kesusahan bangun subuh-subuh lagi. Badan udah kayak ada alarm otomatis yang bisa bangun pagi-pagi banget tanpa harus pusing atau sakit kepala. Memang kayaknya kondisi seperti ini untuk mempersiapkan bumil saat awal-awal menyusui nanti yang perlu banyak begadang.
    .



Picture1



Panjang juga ya tulisannya. Tapi pasti persiapannya jauh lebih panjang dari tulisan ini. Kalo dibikin jurnal minimal satu minggu satu otomatis ada kurang lebih 38 ~ 40 jurnal per kehamilan. Ya namanya juga ibu hamil, perjalanannya ya selama kurang lebih 9 bulan. Namun nggak terasa memang saya ini sudah hampir memasuki usia 8 bulan kehamilan. Kayaknya baru kemarin saya test pack.



Untuk para ibu-ibu hamil, semangat menjalani hari-hari penuh takjub dengan perubahan-perubahan yang ada. Untuk yang masih menunggu prospek, jangan berkecil hati. Intinya hidup ini indah jika kita selalu memandang dari sudut yang positif. ^^



Regards,

sans-sign

About

authorHello, my name is Sandrine. I'm a working mom who loves to read and wander.
Learn More →



Total Tayangan Halaman