28.12.15

Desember 28, 2015

[Review] In A Blue Moon





Penulis: Ilana Tan


Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Tahun Terbit: April 2015


Tebal Buku: 320 Halaman


ISBN13: 9786020314624


Rating SanWa: 5 of 5


Tanggal Mulai: 13 December 2015


Tanggal Selesai: 18 December 2015



Sinopsis buku:


"Apakah kau masih membenciku?"
"Aku heran kau merasa perlu bertanya."

Lucas Ford pertama kali bertemu dengan Sophie Wilson bulan Desember pada tahun terakhir SMA-nya. Gadis itu membencinya. Lucas kembali bertemu dengan Sophie di bulan Desember sepuluh tahun kemudian di kota New York. Gadis it masih membencinya. Masalah utamanya bukan itu--oh, bukan!--melainkan kenyataan bahwa gadis yang membencinya itu kini ditetapkan sebagai tunangan Lucas oleh kakeknya yang suka ikut campur.

Lucas mendekati Sophie bukan karena perintah kakenya. Ia mendekati Sophie karena ining mengubah pendapat Sophie tentang dirinya. Juga karena ia ingin Sophie menyukainya sebesar ia menyukai gadis itu. Dan, kadang-kadang--ini sangat jarang terjadi, tentu saja--kakeknya bisa mengambil keputusan yang sangat tepat. 



Okelah ya... Gimana kalau kita habiskan dulu ini sampai nanti sore ... #buku #membaca #metime pic.twitter.com/PsPAQE0qYq
— SanWa Journeys (@sandrinetungka) December 13, 2015


"Aku sudah menemukan tunanganmu!" (hlm. 11)



Bagi penggemar yang menyukai karya-karya Ilana Tan pasti tidak asing lagi dengan buku yang diterbitkannya di awal tahun 2015 ini. Saya termasuk penggemar karya-karyanya. Di buku terbarunya ini Ilana Tan hadir dengan kisah fiksi percintaan lainnya yang -- lagi-lagi -- mengambil settingan tempat bukan di Indonesia. Masih bertemakan cinta, Ilana Tan menyuguhkan dua tokoh dengan kisah cinta yang sebenarnya biasa dialami semua manusia namun dengan gaya yang berbeda.



"Katakan padaku, bagaimana tunanganku mendadak bisa berubah menjadi kekasih orang lain?" (hlm. 88)



In a Blue Moon merupakan kisah roman yang menceritakan bagaimana dua insan yang pernah bersinggungan dengan tidak cukup baik dimasa lalu "dipaksa" bertunangan oleh sang kakek dari si tokoh utama pria. Maksudnya memang bukan berarti dipaksakan siyh ya. Tapi layaknya cerita jaman dahulu, sang kakek ingin sekali menjodohkan cucu lelaki satu-satunya dengan cucu dari sahabat baik kakek tersebut. Namun tidak disangka-sangka setelah pertemuan awal mereka, baru sama-sama tahu bahwa Lucas Ford--tokoh utama pria--adalah orang yang sangat dibenci Sophie Wilson--tokoh utama wanita--sejak masih duduk dibangku SMA.

Sepanjang perjalanan dari cerita dikisahkan bagaimana Lucas Ford justru tidak menyerah. Pantang menyerah nya pada awalnya didorong hanya karena ia ingin dimaafkan dan ia ingin menunjukkan bahwa ia bukan lagi pria SMA ingusan yang pernah menyakiti wanita. Ia ingin menunjukkan bahwa ia sudah berubah. Namun rasa itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih. Sebagai pria dewasa ia ingin menjadi pilihan masa depan Sophie Wilson seperti yang menjadi keinginan kakek Lucas. Akankah Lucas berhasil?

"Baiklah. Tidak apa-apa. Aku tidak takut mendapat saingan, asalkan aku mendapat kesempatan yang sama seperti yang dia dapatkan." (hlm. 179)

Hhhh... Gaya penuturan Ilana Tan selalu membuat saya jatuh cinta dengan pemeran tokoh utama pria. Saat membaca buku ini saya merasa sedang menjadi Sophie Wilson!!! Hahahaha terlihat sangat lebay namun saya mempunya habit seperti itu. Ketika terhanyut oleh cerita yang saya beri nilai 5 pastilah itu ketika saya merasa diri saya si pemeran utama itu sendiri. Ilana Tan salah satu yang membuat saya selalu memberikan nilai 5 pada cerita-ceritanya. Sebenarnya kisah ini kisah cinta biasa--seperti yang sudah saya tuliskan diatas--namun hey, it can happen to us.

"Kau mungkin tidak sempurna, tapi kau sempurna untukku." (hlm. 231)

Kita memang bukan sedang berada di jaman siti nurbaya dimana banyak kisah-kisah perjodohan yang dipaksakan harus terjadi (jaman sekarang ini pun di beberapa daerah terpencil masih ada saja kisah-kisah perjodohan yang bahkan memilukan), namun masih ada saja orang tua yang mempunyai keinginan menikahkan keturunannya dengan orang yang dekat dengan mereka, sama seperti dalam buku ini. Tapi buku ini tidak mengisahkan pilunya perjodohan. Buku ini mau memberikan gambaran bahwa tidak selamanya perjodohan itu berakhir pilu. Ia bisa berakhir sempurna layaknya Bulan Biru.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam kisah ini pun tidak terlalu banyak. Namun yang pasti memakan ruang tempat kisah selain kedua tokoh utama adalah sang kakek dari tokoh utama pria dan beberapa sosok yang menjadi peran "kedua" atau penghambat bagi kisah cinta tokoh utama. Pastilah ya, biasanya konflik-konflik percintaan justru hadir dari orang-orang terdekat tokoh utama yang menjadi penghambat. Saya tidak bilang pengganggu karena di kisah ini menurut saya mereka bukanlah pengganggu sama sekali. Justru itu lumrah terjadi pada kisah cinta manapun misalnya seperti mantan yang selalu membayangi pasangan kita.... eyaaaaaaa.

"Aku bersedia melakukan apa pun agar kau tetap berada di sisiku, bersamaku, selama kau juga menginginkan hal yang sama." (hlm. 289)

Mengenai Ilana Tan itu sendiri, ia benar-benar novelis yang misterius. Saya tidak menemukan biografi singkatnya di dalam bukunya sekalipun. Mencari-cari di beberapa situs pun nihil. Saya pun tidak yakin akun-akun sosial media yang bernama dirinya itu merupakan akun asli dari sang pengarang. Intinya pengarang ini misterius. Tidak ada yang tahu apakah ia seorang wanita atau pria. Tebakan saya siyh dari gaya bertuturnya adalah wanita. Yang membuat ini bertambah misterius adalah cerita-ceritanya rata-rata memiliki settingan di luar negeri tapi tetap meninggalkan ciri khas Indonesia.

Saat membaca bukunya pun saya seperti merasa membaca buku-buku terjemahan. Pemilihan kata-katanya selalu apik dan dengan ejaan yang benar, tidak ada pemilihan kata-kata slang Indonesia. Intinya siyh ya sampai sekarang saya belum pernah tahu seperti apa sosok Ilana Tan ini. Bahkan di film adaptasi dari buku pertama nya sendiri pun saya tidak menemukan "jejak" biografi sang novelis misterius ini. Siapapun dia, saya tetap terinsipirasi dengan semua tulisan-tulisannya. Bagaimana denganmu? Apakah menyukai juga kisah-kisah Ilana Tan?

"Aku hanya ingin ketika aku mengatakannya, dia adalah orang pertama yang mendengarnya." (hlm. 311)

Regards,
Desember 28, 2015

Gerakan-gerakan Senam Hamil [Part 2]

Saya balik lagi untuk bagian kedua dari gerakan senam hamil. Kalau kemarin gerakannya susah. Sekarang tetap aja siyh susah juga :D. Ada juga sedikit tips tambahan menjelang persalinan (walaupun saat menulis ini saya belum melewatinya tapi menjadi pengingat buat saya dan mudah-mudahan berguna untuk yang membutuhkannya).




Baca Juga: Gerakan-gerakan Senam Hamil [PART 2]




Berikut ini latihan bagian kedua.



:)



Melatih Otot Kaki
Supaya kaki tidak terlalu bengkak (sudah lumrah ya kalau ibu hamil itu bengkak-bengkak, tapi kalau terlalu bengkak juga berbahaya lowh, kata bidannya) otot telapak kaki kita harus sering dilatih. Bisa dilakukan saat ditempat tidur misalnya saat bangun tidur atau menjelang tidur. Tapi tidak boleh terlalu tiba-tiba saat melakukannya karena akan menyebabkan kram (ibu hamil sangat rentan kram kaki apalagi pagi-pagi secara nggak sadar suka ngulet, dan saya yang tergolong sering kram kaki ini).




  1. Duduk selonjoran (bisa senderan di tembok).

  2. Posisi awal telapak kaki tegak lurus dengan matras.

  3. Telapak kaki diluruskan sejajar dengan matras secara perlahan.

  4. Angkat telapak kaki seperti posisi awal dan lakukan berkali-kali.

  5. Lalu putar telapak kaki sejauh mungkin kekiri dan kekanan secara perlahan dan lakukan berkali-kali.



:)



Merangkak
Gerakan dalam posisi merangkak ini menurut saya perlu pengawasan ekstra. Pasalnya, cukup sulit karena membawa perut yang sudah sangat memberatkan.



Gerakan I:




  1. Posisikan tubuh kita seperti merangkak. Punggung harus rata. Dari pundak sampai bokong tidak ada yang lebih tinggi (Artinya kalau tidak rata, berarti tangan kita harus ditekuk atau kaki kita harus dilebarkan sedikit). Kepala menunduk.

  2. Mengempiskan perut dibawah pusar dengan cara membuang nafas.

  3. Mengunci bokong.

  4. Pundak dan punggung kita naikkan dengan kepala semakin menunduk.

  5. Kembali ke posisi semula dan kepala terangkat.

  6. Ulangi beberapa kali



Gerakan II:




  1. Posisikan tubuh kita seperti merangkak. Punggung harus rata. Dari pundak sampai bokong tidak ada yang lebih tinggi (Artinya kalau tidak rata, berarti tangan kita harus ditekuk atau kaki kita harus dilebarkan sedikit). Kepala menunduk.

  2. Peluk badan dengan tangan kanan (tangan kanan seolah-olah memegang payudara sebelah kiri).

  3. Naikkan tangan kanan setinggi mungkin seperti gerakan mengayun.

  4. Arah mata kita mengikuti telapak tangan yang dinaikkan tersebut.

  5. Kembalikan ke posisi semula.

  6. Ulangi beberapa kali, lalu ganti dengan tangan kiri.



Gerakan III: Nah ini buat saya paling menguras tenaga.




  1. Posisikan tubuh kita seperti merangkak. Punggung harus rata. Dari pundak sampai bokong tidak ada yang lebih tinggi (Artinya kalau tidak rata, berarti tangan kita harus ditekuk atau kaki kita harus dilebarkan sedikit). Kepala menunduk.

  2. Tarik kaki kanan ke depan dan tidak boleh menyentuh matras dan posisi kepala melihat ke belakang ke arah kaki yang ditarik tersebut.

  3. Lalu dorong kaki yang ditarik sehingga lurus kebelakang tanpa menyentuh matras dan posisi kepala kembali melihat kedepan.

  4. Ulangi beberapa kali, lalu ganti dengan kaki kiri.



:)



Latihan Mengejan
Ditempat saya berlatih, mengejan ini dipraktekan untuk yang usia kandungannya sudah 37 minggu keatas, namun yang usianya dibawah itu dapat mempraktekan gerakan sebelum mengejannya. Kurang lebih seperti ini gerakannya.




  1. Posisi tubuh setengah duduk setengah tertidur. Artinya posisi kepala harus berada diatas perut kita namun tidak sampai terduduk.

  2. Saat sudah pembukaan lengkap (biasanya ada yang menyebutkan pembukaan 10), perut akan terasa mulas sekali. Saat itulah kedua paha kita harus diangkat dan ditopang oleh kedua tangan kiri dan kanan kita (posisinya benar-benar mengangkang) namun kedua siku yang menopang paha tersebut tidak boleh menyentuh kasur.

  3. Tarik nafas yang panjang, kempiskan perut dan kemudian mengejan sepenuh tenaga.

  4. Jika nafas terasa sudah habis namun masih terasa mulas, segera tarik nafas yang panjang, kempiskan perut dan mengejan lagi.



:)



Tips Tambahan
Ada beberapa tips tambahan yang diberitahukan oleh ibu bidan seputar melahirkan:




  1. Saat masih berada di bukaan 1 ~ 5, sangat dianjurkan untuk ibu hamil berjalan-jalan keliling kamar atau seputar rumah sakit. Memang rasanya tidak nyaman namun membantu pembukaan lebih cepat.

  2. Saat sudah berada di bukaan 6 keatas rasa mulas menjadi tidak karuan. Jika tidak kuat berjalan atau berkeliling, ibu hamil dapat tiduran miring kiri sambil mengunci bokong. Yang dimaksud miring kiri adalah badan di miringkan kea rah kanan sehingga tangan kiri yang berada di atas pinggang kita dan kaki kiri kita ditekuk diatas kaki kanan kita.

  3. Sangat dianjurkan untuk terus berlatih pernapasan karena itu sumber kekuatan saat mengejan.

  4. Jangan mau kalah dengan rasa mulas. Saat masih tunggu pembukaan sebaiknya banyak makan sebagai penambah tenaga.



:)



Inilah gerakan-gerakan senam hamil yang saya pelajari. Mohon maaf karena tidak ada foto atau video yang menunjukkan gerakan-gerakan tersebut. Jika waktu memungkinkan dan ada yang bisa bantu mengabadikan, akan saya update kemudian. Semoga bermanfaat.



Regards,



sans-sign



IMG_0762



24.12.15

Desember 24, 2015

Teruntukmu Mama

Setahun yang lalu, tepatnya dibulan Agustus 2014, mama melepas masa lajang saya dengan tangisan yang tiada henti. Beliau terlihat tegar saat memberangkatkan anaknya untuk diberkati dalam sebuah ikatan pernikahan kudus. Namun ketika janji pernikahan selesai diucapkan ia tak kuasa menahan tangisnya lagi. Begitu pula saya.



untuk mama



Seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya sendiri tidak menyangka bahwa akan membina keluarga sendiri. Sejak kecil tidak terpikirkan oleh saya untuk berganti status dari "anak gadisnya mama" menjadi "istri". Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa saya akan keluar dari rumah untuk diboyong tinggal bersama suami. Memang sejak kuliah saya sudah terbiasa tinggal sendiri karena saya harus ngekos. Tapi pasti setiap akhir minggu saya pulang ke pelukan mama kembali menjadi gadis manja di hadapannya.



Mama adalah sosok yang perfeksionis buat saya. Saya mensyukurinya. Hingga saya dipinang, segala kebutuhan saya dipenuhi olehnya padahal saya sudah bekerja dan tidak meminta. Bahkan dengan tersenyum haru saya selalu mengingat bagaimana ia selalu mengatur cara saya berpakaian dari ujung kepala hingga ke ujung kaki didalam segala kegiatan apapun. Setiap ingin belanja baju atau sepatu baru, pastilah harus dengan persetujuan mama terlebih dahulu. Tidak jarang ia membelikan saya seluruh kebutuhan itu sehingga yang bertengger dalam lemari saya sampai saat ini adalah pemberian mama semua. Hanya buku saja yang saya selalu beli dari kerja keras saya sendiri :D. Jadilah hingga saya menikah saya selalu meminta persetujuan mama dahulu baju apa yang cocok untuk dipakai di pesta ini atau itu. Kegiatan ini saya rindukan hingga saya sudah akan memiliki anak seperti ini.



Walau kami sekarang tinggal terpisah dan agak berjauhan, hati saya tetap terpaut kepadanya. Sebisa mungkin minimum sebulan sekali saya mengunjunginya hanya sekadar untuk melepas kangen. Tidak perlu pergi kemana-mana, hanya dengan menonton TV bersama dan bercerita seputar kehidupan masing-masing sudah cukup mengobati kerinduan yang mendalam ini setiap harinya.



Saya juga sangat yakin, walau tak pernah terutarakan olehnya, mama selalu rindu untuk bercengkerama dengan saya dan ingin mengetahui perkembangan bayi yang ada dalam kandungan saya saat ini. Saya yakin ia ingin sekali memberikan segala petuahnya seputar kehamilan, persalinan, dan mengasuh dedek bayi. Untuk itulah di momen tahun baru ini saya ingin menghadiahkan mama kelahiran cucu yang sangat dinantikannya dengan sehat dan normal tanpa kekurangan suatu apapun. Saya ingin menghadiahinya melalui dedek bayi yang akan lahir kedunia ini dengan cinta dan kasih sayang yang sama yang sejak lahir ia berikan kepada saya.



Saya sangat sadar, saya mungkin tidak akan bisa sepenuhnya menjadi sosok ibu yang penyabar dan tegar menghadapi pahitnya kehidupan seperti yang mama alami. Namun saya terus berdoa agar kebijaksanaan yang sama, bahkan lebih, yang diberikan Yang Maha Kuasa kepadanya pun ada dalam diri saya untuk mengasuh bayi ini. Pada akhirnya, seperti post saya di facebook kemarin, cinta ini kepada mama tak akan tergantikan begitupun cintanya pada saya.




TERUNTUKMU MAMA


Seperti lagu sejak ku kecil
Di doa ibuku, namaku disebut
Di doaku, namamu kusebut


Cinta yang tak tergantikan
Walau jarang bercengkerama
Doalah yang menghubungkan kita

Teringat tangisanmu satu tahun silam
Biarlah itu menjadi pengingat
Bahwa aku adalah gadis kecilmu
Dimanapun dan kemanapun ku berada


Regards,



sans-sign



Tulisan ini diikutsertakan dalam
Special New Year Gift for Mom Blog Competition


moxy indonesia

23.12.15

Desember 23, 2015

Gerakan-gerakan Senam Hamil [PART 1]

Seperti janji saya seminggu yang lalu. Sekarang saya ingin berbagi beberapa gerakan senam hamil yang saya dapatkan melalui kelasnya selama tiga minggu berturut-turut terakhir ini. Gerakannya sederhana dan bisa kita lakukan sendiri dirumah di atas tempat tidur (kalau nggak malas). Tapi ada siyh gerakan-gerakan yang perlu pengawasan. Untuk gerakan seperti ini, kita bisa minta bantuan kepada suami atau orang yang ada disekitar kita. Sebenarnya agak susah jika hanya dituliskan dengan kata-kata. Saya pun tidak punya foto atau bahkan video yang mewakili setiap gerakan tersebut. Namun saya butuh media pengingat untuk melakukan gerakan senam hamil sendiri. Jadilah saya memilih menuliskannya disini sekaligus berbagi. Ah ya, berhubung cukup panjang juga dituliskan dalam kata-kata, post ini saya bagi dua ya.



Baca Juga: Pengalaman Senam Hamil


:)



Latihan Pernapasan Dada
Untuk latihan pernapasan ini yang saya dapatkan ada dua jenis yang berbeda (dalam tiga kali pertemuan saya diajarkan oleh dua bidan yang berbeda). Namun saya memilih latihan pernapasan oleh salah satu bidan saja karena saya anggap paling gampang diingat, paling mudah dilakukan, dan paling masuk akal karena ada alasan medisnya.



Untuk melakukan pernapasan ini posisi awalnya haruslah Duduk bersila dengan kaki yang tidak saling bertumpu satu sama lain (untuk mencegah kaki kram) dan paha terbuka selebar mungkin (membantu pembukaan posisi panggul), posisi tubuh harus tegak tidak boleh bungkuk (agar tulang punggung kita normal). Setiap sebelum melakukan pernapasan, kita harus buang napas terlebih dahulu (baik saat latihan maupun saat persalinan).




  1. Pernapasan panjang: Pernapasan jenis ini membantu ibu saat sedang kontraksi menunggu pembukaan lengkap. Ini merupakan jenis pernapasan yang paling baik. Jika kita sering melakukan pernapasan jenis ini dari sekarang, kekuatan napas kita pun akan semakin panjang untuk membantu saat persalinan nanti.

    • Tarik napas panjang dari hidung (sepanjangnya)

    • Buang napas dari mulut (sepanjangnya)

    • Ulang berkali-kali



  2. Pernapasan panjang pendek: Jika saat kontraksi jenis a tidak mempan, gunakan jenis b ini.

    • Tarik napas panjang dari hidung (sepanjangnya)

    • Langsung buang keseluruhan napas dari mulut (pendek)

    • Ulang berkali-kali



  3. Pernapasan pendek: Biasanya pernapasan ini dipakai kalau jenis a dan b juga sudah tidak mempan. Seringnya dipakai saat kontraksi di pembukaan 7 ke atas karena sudah semakin sakit. Juga dipakai saat sedang bersalin.

    • Tarik napas pendek

    • Buang napas pendek

    • Ulang berkali-kali secepat mungkin



  4. Pernapasan bertahap (nah ini bidannya sendiri nggak tahu namanya apa ya saya tulis seperti ini aja ya): Kalau a, b, dan c nggak mempan juga baru deh pakai pernapasan ini.

    • Tarik napas panjang

    • Buang secara bertahap seperti orang bersiul, 3 atau 4 kali siulan

    • Ulang berkali-kali





:)



Pijat Payudara
Banyak sekali ragam pijat payudara yang bisa dilakukan terutama untuk memperlancar asi. Di kelas senam hamil saya diajarkan hanya dua selebihnya saya perlu mencari sendiri.



Gerakan I:




  1. Kedua tangan diletakkan di pundak kemudian putar siku kebawah sampai mengenai payudara (seperti memijat dengan sikut) hingga lengan tegak lurus dengan badan kita lalu kembali ke posisi semula sambil memijat payudara lagi.

  2. Lakukan berulang kali.



Gerakan II:




  1. Kedua tangan diletakkan didepan dada dengan posisi telapak tangan kanan menggenggam bagian hampir kena siku tangan kiri dan telapak tangan kiri menggenggam bagian hampir kena siku tangan kanan. Posisi tangan kanan ada didepan menghadap keluar dan tangan kiri yang menghadap ke dada (okey yang ini saya susah menggambarkannya, nanti akan saya coba foto saja).

  2. Hentakan kedua telapak tangan (yang menggenggam tadi) ke arah luar hingga kita merasakan payudara bergetar.

  3. Hentakan kembali kedua telapak tangan (yang menggenggam tadi) ke arah dalam hingga merasakan payudara bergetar.

  4. Lakukan berulang kali.



:)



Latihan Otot Panggul
Untuk melatih otot panggul kita lakukan sambil tidur terlentang. Ini cukup sulit mengingat sebagai ibu hamil tidur terlentang itu sangatlah tidak nyaman. Namun melatih otot panggul berguna saat kelahiran nanti sekaligus bisa dipakai saat senam nifas. Ada beberapa gerakan untuk melatih otot panggul:



Gerakan I:




  1. Duduk bersila (seperti posisi pernapasan diatas).

  2. Tumpukan kedua tangan kita diatas lutut.

  3. Lalu naikkan bokong dengan tumpuan kedua tangan tersebut sehingga hanya kaki yang bersila yang ada di matras.

  4. Tegakan badan dan posisi kepala lurus kedepan.

  5. Kembalikan ke posisi semula secara perlahan.

  6. Ulangi beberapa kali.



Gerakan II:




  1. Tidur terlentang dengan kedua kaki ditekuk dan posisi kedua paha rapat dan tangan berada disamping kiri / kanan kita.

  2. Mengempiskan perut dibawah pusar dengan cara membuang nafas.

  3. Mengunci bokong dengan cara menarik otot betis dan paha hingga terasa bokong terkunci (dengan kaki masih tertekuk dan telapak kaki memijak matras).

  4. Naikkan bokong dari atas matras.

  5. Naikkan kedua pundak sehingga tulang punggung terangkat dan hanya kepala yang berada dimatras atau bantal.

  6. Kembalikan ke posisi semula, buka paha hingga menyentuh matras (mengangkang).

  7. Ulangi beberapa kali.



Gerakan III:




  1. Tidur terlentang dengan kaki sebelah kiri ditekuk (telapak kaki kiri menginjak matras) dan kaki kanan diluruskan. Posisi tangan berada disamping kiri / kanan kita.

  2. Tarik kaki kanan ke arah pinggang dengan tidak memindahkan bokong. Posisi yang benar, saat menarik kaki kanan, posisi pundak kanan justru turun kebawah.

  3. Dorong kaki kanan kembali ke posisi semula dan posisi pundak kanan pun naik ke posisi semula.

  4. Ulangi beberapa kali, lalu ganti ke kaki kiri dan ikuti pola diatas.



Gerakan IV:




  1. Tidur terlentang dengan kaki sebelah kiri ditekuk (telapak kaki kiri menginjak matras) dan kaki kanan diluruskan. Posisi tangan kiri berada disamping kiri dan tangan kanan ditekuk dibawah kepala kita (atau dibawah bantal).

  2. Angkat tumit kaki kiri (hanya jari-jarinya saja yang berada di matras).

  3. Miringkan kaki kiri hingga pinggang kesebelah kanan sampai penuh sehingga hanya ada jempol kaki kiri saja yang tertinggal. Tangan kiri dan pundak kiri tetap berada di matras (atau hanya miring sedikit).

  4. Tahan sebentar lalu kembalikan posisi kaki kiri ke semula sampai paha menyentuh matras (mengangkang).

  5. Ulangi beberapa kali, lalu ganti dengan kaki kanan dan ikuti pola diatas.



Gerakan V:




  1. Posisi badan miring ke kiri dengan kaki lurus bertumpu satu dengan yang lain.

  2. Lalu naikkan kaki kanan setinggi mungkin (sebisanya) kemudian turunkan.

  3. Ulangi beberapa kali, lalu ganti dengan kaki kiri dan ikuti pola diatas.



:)



Okey kira-kira segini dulu ya untuk bagian pertama. Nantikan bagian keduanya dan mudah-mudahan bermanfaat.

 

Regards,

sans-sign

IMG_0762

21.12.15

Desember 21, 2015

Merah Meriah di Borobudur

Januari 2014



Melanjutkan kisah perjalanan rekan sekerja menyusuri Jogja dan Dieng, teman dalam rombongan saya ingin sekali pergi ke Candi Borobudur. Saya pribadi sebenarnya tidak ingin, berhubung saya sudah pernah kesana sebelumnya. Bukan karena saya tidak suka, namun saya ingin sekali merasakan tempat-tempat wisata menarik lainnya di Jogjakarta yang belum pernah saya kunjungi. Namun, demi teman kami ini yang katanya, "belum ke Jogja kalo belum ke Candi Borobudur," akhirnya saya mengalah. Ya hitung-hitung, itu kali pertama saya menikmati Borobudur bersama pacar :D.






Baca Juga: Menyepi di Pinggir Pantai Ngandong




Di hari kedua perjalanan kami, pagi-pagi kami langsung check-out dari tempat kami menginap. Hari kedua ini akan kami habiskan di Candi Borobudur dan langsung melanjutkan perjalanan ke Dieng. Saya dan mamas sepakat memakai baju couple yang baru saja kami beli malamnya bernuansa merah. Biarlah dikata alay tapi kami happy, pasalnya kalau buat berfoto dan doyan narsis, menggunakan pakaian berwarna terang akan membuat foto terlihat berwarna, ahahahaha *alesan.



DSC_0040_3





Niat kami untuk mencapai Borobodur pagi hari agar terhindar teriknya matahari, tapi tetap aja ya matahari bersinar mengacaukan sistem-sistem saraf di kepala, alias puciiinngggg pala balllbbbiieee. Sudah pakai topi pun tak mempan. Mau pakai payung kok ya ribet banget bawa-bawanya. Sampai disana saya langsung terbuai dengan emosi jiwa. Benar ya darah sensitif saya naik, dan mamas lah sasarannya.  Mana kita itu kan pakai merah-merah juga, ughhh kayaknya saya tambah emosian aja. Dikit-dikit ngomel, dikit-dikit ngomel. Rupanya mamas pun sama. Itu kan panasnya terik banget yes, mamas itu juga akhirnya kayak orang malas-malasan. Pengennya berteduh mulu. Intinya siyh baru sampai sana, saya udah drama aja sama siyh mamas. Ngider-ngiderin candi tapi nggak ada yang konsentrasi. Sudah gitu, stupa-stupa yang diatas di puncaknya Borobudur itu lagi dari dalam tahap pemugaran. Jadi kita nggak bisa foto-foto disana. Ya, tambah emosi lah saya. Udah jauh-jauh lah nggak bisa narsis juga. Kalau kedua teman saya yang lain mah udah nggak tahu dimana itu. Pada ngider sendiri-sendiri dan cari spot asyik sendiri-sendiri :D



DSC_0020_8



Akhirnya setelah setengah jam emosi jiwa, saya berhasil berteduh. Jiwa saya pun ikutan teduh. Saya sama mamas maaf-maafan karena saling ngomel satu dengan yang lain. Ahahaha, kalau diinget itu konyol lah ya. Niat mau foto-foto asyik eh malah berantem. Memang efek kemeriahan si merah kali ya. Menutup edisi perjalanan di Candi Borobodur, saya dan mamas kemudian mencari spot asyik untuk berfoto-foto lagi. Rugi lah ya, udah pakai merah-merah eh terus nggak ada foto-foto seru gitu. Kami memang tidak berniat mencari tahu tentang sejarah Borobudur dan plis jangan tanya apapun tentang sejarah candi tersebut. Yup, saya hanya tertarik untuk foto-foto disana terus di posting di social media biar dikata exist (walau akhirnya saya nggak jadi posting juga, sayang kuota, hahahaha). Kan jaman itu lagi booming-boomingnya update foto traveling.



Beberapa spot foto asyik di Borobudur, walaupun dibawah panas terik, mau selfie, wefie, atau sekadar foto tempatnya saja (saya yakin ini siyh sudah pada tahu semua lah ya, anggap saja sebagai pengingat):




  1. Foto dekat stupa
    DSC_0038_5  DSC_0036_4
    .

  2. Foto pemandangan kehijauan
    DSC_0023_7
    .

  3. Loncat-loncatan di padang hijau
    DSC_0056_2
    .

  4. Foto batu peresmian
    DSC_0032_6   DSC_0034_3
    .

  5. Foto tempat wisata beserta keramaiannya
    DSC_0013_6
    .

  6. Foto pakai pakaian atau aksesoris warna-warni cerah meriah seperti payung rainbow
    Saya tidak berfoto dengan properti ini karena seperti yang saya bilang sebelumnya, ribet banget bawa-bawa payung. Tapi di perjalanan ke Borobudur pertama yang saya pernah lakukan kurang lebih 4 tahun silam, saya sempat berpose menggunakan payung warna-warni ala pelangi. Dan itu menambah kecerahan dan keceriaan foto. Apalagi jaman dulu itu belum ada smartphone canggih dengan filter-filter foto yang menarik. Jadi cuman pakai kamera biasa saja membuat hasil foto menggunakan aksesoris warna-warni menjadi hidup



Cara foto asyik saya kayaknya standar banget ya?? Saya memang kurang kreatif (:D) dan tidak fotogenik. Namun foto-foto seperti itu saja sudah membuat saya bahagia. Intinya pakai merah juga bisa bikin meriah di sana. Kalau kamu, foto asyik seperti apa yang selalu dilakukan saat traveling?

Regards,

sans-sign

DSC_0043_4

18.12.15

Desember 18, 2015

Rencana Liburan dan Cuti

Menjelang akhir tahun seperti ini berarti mendekati jadwal liburan dan cuti saya. Tidak bakal terasa bahwa dalam 4 hari kerja kedepan saya akan libur panjang dari kegiatan yang berhubungan dengan kertas kerja. Saya terlalu excited sehingga tidak bisa membayangkan apa rasanya akan libur dari kerjaan atau rutinitas di kantor selama lebih dari tiga bulan.



Sejak saya lulus kuliah dahulu saya hanya diberi liburan selama dua minggu lalu langsung bekerja. Puji Tuhan saat itu memang saya diberikan kemudahan dalam mencari kerja. Sesudah masuk pun saya belum pernah resign sehingga tidak pernah merasakan yang namanya ‘liburan’ selain libur panjang lebaran dan akhir tahun. Sebenarnya setahun yang lalu saya dapat jatah cuti panjang selama satu bulan penuh karena saya sudah bekerja selama 6 tahun. Namun saya lebih memilih menukarnya dengan uang cuti karena keperluan mendesak.



  



Memang sebagai ibu baru saya yakin selama tiga bulan dihabiskan dirumah ini bukan untuk berleha-leha seakan-akan liburan. Perjuangan justru akan semakin berat dengan adanya tanggung jawab baru. Penyesuaian-penyesuaian pasti terjadi dengan kehadiran si buah hati. Saya belum terbayangkan seperti apa. Namun saya tetap menyiapkan beberapa buku bacaan, film, ataupun kegiatan lain yang bisa dinikmati selama saya dirumah. Pasti saya yakin akan susah pergi kemana-mana minimal nonton bioskop bersama suami nantinya :D. Lagian pasti daftar ini berguna saat saya juga menunggu masa-masa persalinan. Berikut ini daftarnya, siapa tahu ada yang tertarik juga…




  1. Daftar Bacaan: asumsinya satu buku saya habiskan dalam dua minggu

    • An Ember in the Ashes oleh Sabaa Tahir
      Ini termasuk buku yang belum ada terjemahannya. Kalau menurut resensinya, buku ini merupakan buku fiksi fantasi cocok untuk pecinta kisah Harry Potter dan Hunger Games. Saya adalah pecinta cerita genre ini. Jadilah melihat pertama kali ebook ini dirilis langsung saya beli.
      .

    • All the Bright Places oleh Jenniver Niven
      Buku yang ini tergolong buku yang lebih lama dari yang diatas. Namun masuk jajaran buku yang diperhitungkan di tahun 2015. Sinopsis nya siyh bercerita tentang kisah cinta dua anak manusia dimana sang lelaki memiliki umur yang tidak panjang. Jadi penasaran seperti apa kisahnya. Apakah tipikal dengan kisah-kisah lainnya?
      .

    • Girl Online oleh Zoe Sugg
      Kalau buku yang satu ini berkisah tentang remaja wanita yang mencintai dunia blogging, dan curhat tentang semua drama kehidupannya di dunia maya dengan nama samaran. Namun suatu ketika bertemu dengan seorang pria yang dikaguminya namun justru mengancam penyamarannya. Para blogger diluar sana kayaknya perlu membaca buku ini.
      .

    • Eleanor and Park oleh Rainbow Rowell
      Ini tergolong buku lama ya. Percaya atau tidak, sudah 2 tahun lebih buku ini ngendon di ebook reader saya tanpa tersentuh. Yup sejak pertama kali buku ini rilis. Sebenarnya saya sangat, sangat, sangat tertarik membaca ini. Namun tiap habis satu buku saya tergoda buku baru yang tiba-tiba booming. Jadi buku ini ketinggalan terus. Mudah-mudahan saat liburan ini kesampaian.
      .

    • Somewhere Only We Know oleh Alexander Thian
      Buku karangan penulis muda Indonesia sudah saya tunggu sejak lama dan akhirnya kebeli juga walau belum terbaca. Mengutip sinopsisnya inti dari buku ini bercerita bagaimana dengan memaafkan masa lalu akan merasakan kebahagiaan baru dimasa yang mendatang terutama dalam hal cinta. Ahhhh, kalau berbau-bau cinta saya senang lah ini.
      .

    • My Wedding Dress oleh Dy Lunaly
      Buku ini baru saja terbit dan saya juga baru saja membelinya kemarin. Saya tertarik karena baru saja selesai diadakan blogtour dan promosi besar-besaran di twitter. Menurut sinopsisnya kisah ini bercerita tentang seorang wanita yang gagal menikah dan memutuskan untuk berkeliling dunia menggunakan pakaian pernikahannya sendiri. Nah loh, kayak apa ya?
      .

    • Under the Southern Stars oleh Anida Dyah
      Ini merupakan sebuah kisah nyata dari penulisnya sendiri ketika harus merantau di negeri Kangguru demi menggapai cita-citanya. Ini juga tergolong buku yang sudah sejak setahun lalu saya miliki tapi belum saya baca. Saya memang tidak tertarik dengan biografi atau autobiografi seseorang karena dikisahkan dengan begitu formal. Namun jika dibahasakan layaknya bahasa blog atau didalamnya terdapat kisah manis perjalanan orang itu, pasti bukunya saya buru.
      .



  2. Daftar Film / TV Series: saya sudah punya sejak lama tinggal tonton saja

    • New Girl
      Tau dong serial TV barat yang satu ini. Cerita tentang seorang wanita yang putus dari pacarnya dan harus pindah apartemen. Akhirnya pilihan jatuh kepada apartemen yang berisi tiga orang lelaki dengan kepribadian yang berbeda-beda serta konyol. Serial TV ini masuk kategori sitcom. Saya suka kisah-kisah seperti ini layaknya serial Friends dahulu ataupun seperti How I met Your Mother. Sampai detik ini sudah ada 4 seasons, dan akan tayang season 5 pada January mendatang. Namun saya baru tonton hingga season 2. Itupun belum selesai. Jadi kalau nanti ada waktu saya akan lanjutkan.
      .

    • The Time We Were Not In Love
      Film ini merupakan K-movie dan rekomendasi dari blog tetangga. Saya sudah lama tidak menikmati K-movie ataupun K-drama serta tidak juga mencari-cari tahu lagi. Namun karena pemeran wanitanya adalah kesukaan saya, jadi saat liburan nanti saya akan hunting film ini. Mudah-mudahan tertonton dan tidak kalah sama list bacaan diatas :D.
      .



  3. Kegiatan lainnya

    • Mengerjakan thesis
      Ini sudah pasti karena saya harus lulus segera sebelum Juni 2016. Saya pun sudah sering berkoar-koar tentang ini. Doakan lancar ya.
      .

    • Blogging, Social Media, dan Blogwalking
      Saya sudah memiliki banyak ide untuk dituliskan dalam blog saya. Mudah-mudahan semua yang telah saya list tertuang dengan rutin secara harian di blog saya (khusus weekday). Target saya 5 postingan dalam seminggu (berat yakkkk) lalu langsung post di media sosial. Ya sekadar posting aja siyh belum sampai live tweet atau sejenisnya. Yang penting promosi. Sesudahnya so pasti harus blogwalking. Menjalin pertemanan itu penting!!
      .

    • Belanja online & Browsing
      Berhubung pasti akan menghabiskan banyak waktu dirumah (karena dedek masih sangat kecil), pasti saya akan sering beli keperluan rumah tangga secara online. Yup, saya sendiri sejak hamil sudah sering belanja keperluan seperti baju, tas, bahkan buku sekalipun secara online. Soalnya menghemat tenaga. Kalau menghemat waktu belum terlalu, karena saya keasikan browsing harga yang paling murah seantero dunia maya (tetap ya naluri emak-emak :D).





Akkk rupanya banyak juga ya. Ya intinya siyh sebisanya aja. Kalau dari kegiatan diatas yang saya prioritaskan (prioritas utama pasti ngurusin dedek dan rumah tentunya), adalah mengerjakan thesis, blogging, dan membaca sedapatnya. Lainnya, ya kalau ada waktu sajalah :D.



Kalau kamu, minimal di liburan akhir tahun ini apa yang sedang direncanakan?



Regards,



sans-sign



liburan



15.12.15

Desember 15, 2015

Pengalaman Senam Hamil

Sebagai ibu hamil yang mempunyai keinginan kuat untuk lahir normal pasti bela-belain untuk melakukan senam hamil, entah ingin dilakukan sendiri dirumah ataupun ikut kelas khusus. Tidak terkecuali saya. Sejak awal kehamilan, saya ingin sekali ikutan senam hamil karena doa saya, saya harus bisa lahiran secara normal. Ini yang membuat saya searching berbagai kelas yang ada di sekitar tempat tinggal saya. Namun rupanya hanya ada satu rumah sakit terdekat yang menyediakannya yaitu Rumah Sakit Harapan Bunda, Pasar Rebo tempat saya kontrol kehamilan.



Berikut sedikit informasi mengenai kelas senam hamil di RS Harapan Bunda, Pasar Rebo:




Jadwal: Kamis dan Sabtu
Waktu : Pk. 10.00 ~ 12.00
Biaya   : Paket 5 kali pertemuan Rp.120.000
               Per kedatangan Rp. 25.000,- (kecuali kedatangan pertama Rp. 40.000,- kena biaya registrasi)
Benefit : Konsultasi gratis dengan bidan
                Snack sesudah kelas senam hamil
Kontak: 8400257 ext 123 / 124



Saran dari saya, kalau ingin mengambil kelas di hari Sabtu lebih baik datang dibawah jam 9 untuk pendaftaran agar masih kebagian kelas. Pengalaman pertama saya, saya datang hampir menjelang jam 10. Saya pikir masih kebagian, rupanya tidak sama sekali karena saya harus mendaftar dulu di bagian pendaftaran RS di lantai dasar yang cukup memakan waktu karena sangat antre (Rumah Sakit ini kalau hari Sabtu ampun deh ramainya nggak ketulungan). Saya tidak bisa mendaftar via telepon. Bahkan untuk yang mengambil paketpun sama, harus mendaftar di tempat yang sama. Tepat Sabtu yang lalu saya nyaris hopeless karena saya datang menjelang jam 10 dan melihat antrean di bagian pendaftaran cukup panjang. Namun rupanya sudah banyak ibu-ibu yang melahirkan jadilah saya kebagian bahkan kelas agak sedikit sepi tidak seperti biasanya.




Saya sendiri sudah mencari disekitar tempat tinggal (oh ya, saya tinggal di kelurahan Gedong, Pasar Rebo) seperti Rumah Bersalin Anny Rahardjo dan Klinik Budhi Pratama tidak menyediakan kelas senam hamil. Hanya di RS Anny Rahardjo ketika kita kontrol ke sana, kita akan diajarkan senam hamil untuk dilakukan sendiri dirumah (informasi ini saya dapatkan saat menelepon ke RS Anny Rahardjo).




Sampai dengan hari ini sudah terhitung tiga kali saya mengikuti kelas senam hamil dan menemui ibu-ibu hamil yang berbeda-beda pula. Rasanya senang-senang gimana gitu melihat banyak ibu-ibu disekitar saya yang sedang menunggu kelahiran si buah hati. Kebanyakan dari mereka pun sama-sama baru mau mempunyai anak pertama seperti saya. Jadinya secara mental saya merasa saya tidak sendirian. Inilah yang membuat saya bertekad terus untuk secara rutin, diusahakan seminggu sekali, mengikuti senam hamil. Karena buat saya pribadi, kalau dilakukan dirumah gerakan yang saya lakukan bisa asal-asalan dan terkesan nggak ada motivasi untuk melanjutkan senam hamil tersebut (hehehe sedikit beralasan siyh).



Eh tapi sebagai ibu hamil, rajin mengulang senam dirumah adalah sangat baik. Bahkan harusnya diusahakan untuk dilakukan setiap dua hari sekali. Tentunya bukan gerakan-gerakan yang memberatkan yang butuh pengawasan lebih lanjut. Ini kata bidannya lowh. Sayangnya bagian pengulangan dirumah ini belum saya lakukan sampai sekarang. Keluar deh rasa malasnya, hahahaha.



Menurut bidan yang mengajar di kelas ini, kegunaan senam hamil bukanlah semata-mata untuk persalinan normal. Senam hamil sangat berguna untuk semua ibu hamil dalam menguatkan Fisik dan Psikis menjelang persalinan. Jadi buat ibu-ibu yang sudah berniat ataupun prediksi lahirannya adalah cesar, alangkah baiknya tetap melakukan senam hamil. Memang secara khasiatnya lebih terasa pada ibu yang bertekad lahiran secara normal karena didalamnya banyak gerakan yang melatih pernapasan dan kekuatan panggul sebagai modal kekuatan persalinan. Namun kegiatan ini tetap menjaga semua ibu hamil untuk tetap sehat dan nggak malas. Ada satu peserta senam hamil yang memang sudah berniat untuk cesar. Ketika saya tanya apa alasannya ikut senam hamil, ia menjawab supaya ia merasa fit dan nggak malas. Kalau-kalau kita salah melakukannya, kita akan dipandu benar-benar sampai kita bisa seorang-perseorangan.



Secara psikis senam hamil ini menguatkan karena saling mendukung antara ibu hamil yang satu dengan ibu hamil yang lain. Jadi kita merasa tidak sendirian. Apalagi bagi yang bertekad untuk lahiran normal. Untuk ibu dengan kehamilan pertama seperti ini kan pasti nervous banget kalau sudah menjelang due date. Ditambah lagi tidak bisa dipungkiri, proses bersalin itu pasti sakit mau itu lahiran normal ataupun lahiran cesar (bidannya sendiri yang bilang seperti ini). Tapi kalau orang lain bisa mengapa kita nggak bisa. Jadi dengan mengikuti senam hamil ini justru saling menguatkan antara satu ibu dengan ibu lainnya. Seakan-akan mereka berkata, “Ayo, kita bisa!!!”



[caption width="360" id="attachment_4367" align="aligncenter"] Kelihatan bengkak-bengkak ya :D[/caption]

Memang ya, senam hamil ini walau gerakannya tidak begitu susah, cukup menguras tenaga ibu-ibu yang membawa perut besar ini. Apalagi yang sebelum kehamilan jarang berolah raga (hahaha seperti saya). Pertama kali senam hamil pulang ke rumah saya langsung kelaparan, melahap makan siang dengan cepat, dan segera tertidur. Rasanya lelah sekali. Memang tidak mengeluarkan keringat, secara ruang kelasnya saja pakai AC yang super adem dengan matras yang empuk. Udah gitu banyak ibu-ibu yang saat mengikuti kelas justru menggunakan celana jeans dan blouse karena sesudahnya ingin langsung kontrol kehamilan ke dokter. Saya malah hampir mau beli sepatu olahraga dan baju khusus senam hamil awalnya, hehehehe. Tapi yakinlah, kegiatan ini tetap melelahkan, at least for me :D.



Terus gerakan-gerakan senam hamil itu seperti apa aja dong? Tunggu tutorial (ala SanWa) di post berikutnya ya.



Regards,



sans-sign



14.12.15

Desember 14, 2015

Menyepi di Pinggir Pantai Ngandong

Januari 2014



Update: Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya melakukan salah sebut. Pantai ini bukanlah pantai Indrayanti melainkan pantai Ngandong. Entah mengapa yang saya ingat ini adalah pantai Indrayanti. Sekali lagi saya mohon maaf terutama para commenters dibawah. Saya akan lebih berhati-hati lagi untuk berbagi.


Sesudah asyik bermain air di kawasan Goa Pindul saya dan rombongan meluncur untuk mencari makan. Awalnya bapak supir memiliki rekomendasi tempat makan di sekitar kawasan wisata Goa Pindul namun kami ingin sekali menikmati salah satu pantai di Yogya sekalian menghabiskan sore hari. Pasalnya kami pun mendapat rekomendasi dari pemilik tempat kami menginap yaitu The Munajat Backpacker bahwa akan sangat menyenangkan bila bisa menikmati santap siang dengan ikan bakar di pinggir pantai. Kami pun sebelum berangkat ke Goa Pindul diberikan nama tempat makan yang paling laris di pinggir pantai yang paling sepi yaitu pantai Ngandong.





Akhirnya cus lah kami mencari pantai Ngandong dengan keadaan lapar. Tentu saja lapar karena kami berangkat dari Goa Pindul sudah melewati jam makan siang. Menurut perhitungan, menuju ke pantai yang kami cari ini kurang lebih menghabiskan waktu hampir satu jam. Jadilah kami sempat memakan beragam cemilan yang kami bawa sebelumnya.




Baca Juga: River Tubing di Kali Oyo




Benar saja perjalanan kami habiskan hampir satu setengah jam. Kami hampir menyerah ditengah perjalanan akibat kelaparan karena kami seakan tidak menemukan pantai ini. Sebagai informasi, Pantai Ngandong ini terletak sederetan dengan pantai-pantai indah di kawasan selatan Yogyakarta. Sebut saja pantai Parangtritis atau pantai Baron yang sudah terkenal sebagai tempat wisata pinggir laut yang amat sangat ramai.



Rupanya kesabaran kami membuahkan hasil. Akhirnya kami sampai ke Pantai Ngandong. Kawasannya sepi dan pasirnya pun masih tergolong putih dan bersih. Suasana tidak terlalu terik namun tenang. Walaupun ada beberapa anak-anak yang tengah bermain-main air di pinggir pantai namun tidak bising seperti pantai lain yang saya sebutkan diatas. Ya saya pernah ke Parangtritis persis menjelang maghrib beberapa tahun sebelumnya dan itu pun sudah begitu ramai dengan jualan dan pantainya kurang bersih.



Sambil menunggu pemesanan makanan di restoran terbesar yang di pantai tersebut, saya dan rombongan bergantian bermain pasir sambil mencari spot-spot untuk berfoto. Tidak banyak siyh foto-foto saya berhubung perut saya sangat lapar dan juga kawasannya tidak terlalu besar sehingga tidak banyak yang bisa dibidik. Maklum saya hanyalah turis local dengan kemampuan berfoto dan kamera ala kadarnya :D.



Berhubung saya terlalu lelah dan juga pakaian yang saya gunakan pun tidak terlalu merepresentasikan untuk bermain air jadilah saya tidak menceburkan diri ke dalam air laut tersebut seperti yang dilakukan beberapa orang disitu. Bahkan saya menggunakan jaket di saat hari masih siang. Seperti yang saya bilang diatas walaupun ada matahari tapi suasananya teduh malahan cenderung berangin. Itu membuat saya makin semangat untuk cepat-cepat makan dan bobo-bobo cantik di mobil, hehehe.



Berikut hasil foto-foto disana:



[gallery type="columns" ids="4339,4338,4341,4340,4342,4352"]

Untuk tempat makan sendiri, sangat saya merekomendasikannya, makanannya enak. Mulai dari ikan bakar yang segar hingga tumis kangkung yang pedas. Namun harap diingat, dalam kamus saya untuk urusan perut hanya ada dua jenis rasa makanan, yaitu makanan enak dan makanan super enak :D. Hanya satu yang saat itu tidak kesampaian, yaitu menikmati nikmatnya es kelapa muda yang masih dalam batok. Mereka sedang kehabisan stok. Bahkan beberapa penjual disekelilingnya pun sedang kehabisan juga. Jadilah kami cukup menikmati segelas teh hangat yang segar. Soal harga, ya standard lah khas makan ikan bakar di pinggir pantai. Tidak bisa dibilang murah namun tidak mahal juga.





Jujur saya merekomendasikan pantai ini apalagi bagi mereka-mereka yang ingin menyepi di pinggir pantai di Yogyakarta. Saya pun belum tahu seandainya masih ada pantai lainnya yang lebih indah dan sepi dari pantai ini. Kalau ada boleh loh tinggalkan komen dibawah ini. Saya sedang kangen jalan-jalan ke Yogya. Oh ya, saya tidak tahu kondisi tempat ini sekarang seperti apa karena sudah hampir dua tahun yang lalu saya terakhir menjejak disana. Saya belum googling lagi. Bagi yang mengetahui updatenya dipersilahkan meninggalkan jejak di kolom komentar. Atau ada tempat menyepi lain versimu?



Regards,



sans-sign



DSC_0007_7



11.12.15

Desember 11, 2015

Desember Penuh Cinta

Nggak berasa tahu-tahu kita sudah ada di penghujung tahun 2015. Rasa-rasanya saya baru merasakan liburan akhir tahun eh sekarang sudah mau liburan lagi. Liburan ini memanglah satu yang selalu saya nanti-nanti tiap tahunnya. Karena hanya dimomen inilah (termasuk momen lebaran) saya dan suami mendapat libur yang amat panjang dari tempat kami bekerja. Kami bisa sama-sama leyeh-leyeh dirumah selama10 hari sambil bersilaturahmi kerumah keluarga. Cuman nggak enaknya, THR jadi seret.. ret.. ret. :D



Sedikit kilas balik tahun 2015 ini hidup saya nggak pernah datar sama dengan tahun-tahun yang sebelumnya. Ada saja yang baru. Kalau di tahun 2014 momen terbesar saya adalah menikah, di tahun 2015 ini saya tengah mengandung.



Baca Juga: Persiapan SanWa Si Calon Ibu


Yang saya syukuri dari tahun 2015 ini, saya diizinkan untuk menikmati waktu berdua dengan suami selama hampir 8 bulan sejak kami menikah. Kami tidak menunda kehamilan, namun memang saya berdoa jika Yang Diatas mengizinkan saya ingin menikmati dulu waktu pacaran berdua paling tidak sekitar 6 bulanan.



Awalnya memang ada perasaan kuatir dan merasa bersalah. Karena sesungguhnya 2 bulan setelah saya menikah saya sudah dikaruniai keturunan, namun Yang Diatas berkata lain. Janin yang masih berumur 4 minggu itu rupanya gugur. Entah apakah karena keinginan saya itu atau bukan. Namun saya menyadari kelihatannya itu memang bukan momen yang tepat untuk kami mulai bersiap-siap menambah tanggung jawab baru. Sekarang saya yakin, April 2015 adalah  momen yang tepat bagi kami di karunia keturunan. Saya dan suami pun terus berdoa agar kelahiran ini tepat pada waktunya.



 



Di Desember 2015 yang penuh cinta ini, sebagai manusia saya meminta kembali, berdoa, agar anak ini lahir tepat pada waktunya. Saya pun meminta dengan sangat spesifik, jika itu kehendak-Nya, anak ini dapat lahir di minggu-minggu awal tahun. Saya ingin menjadikannya momen indah diawal tahun 2016. Mengapa Desember ini saya sebut penuh cinta karena tidak hanya saya saja yang menantikan si buah hati melainkan juga setiap orang yang disekeliling saya menantikan dedek bayi lahir kedunia dengan cintanya masing-masing. Ahhh saya jadi merasa berbunga-bunga. Ini pun jadi menambah resolusi tahun baru saya untuk menjadi seorang ibu yang produktif bagi anak dan suami. Terlebih-lebih juga bagi cita-cita saya untuk bisa menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sekililing terutama Thesis saya bisa cepat selesai dan kegiatan ngeblog saya semakin lancar jaya!!!! :D



Inilah cerita Desember & Me, Mana Ceritamu?



Regards,



sans-sign



IMG_0746



10.12.15

Desember 10, 2015

Hari Libur = Me Time?

Ceritanya kemarin itu saya agak sedikit uring-uringan di rumah. Entah mengapa saya merasa suntuk dengan rutinitas yang tiada habisnya. Rasanya ingin sekali memiliki Me Time ataupun Quality Time hanya bersama suami di Hari Libur yang jarang dinikmati oleh pekerja kantoran seperti kami. Apalagi karena saat ini saya sedang hamil tua artinya makin mendekati due date dan bisa diartikan bahwa Me Time seperti sekarang-sekarang ini akan jarang terjadi karena ketambahan satu tanggung jawab baru.



Jadilah saya merencanakan hari libur pilkada serentak kemarin untuk keluar bersama suami belanja keperluan si dedek bayi yang masih belum kebeli dan menghabiskan sisa hari dengan nonton di bioskop. Namun rupanya yang terjadi justru kebalikannya. Suami terlalu lelah untuk keluar dan saya pun harus mencuci pakaian karena keterbatasan baju seragam kerja. Itu menghabiskan sepanjang pagi hingga sesudah makan siang. Saya merasa hari libur yang jarang sekali dirasakan ini jadi tidak dapat dipergunakan sebagai Me Time sama sekali.



Sehabis makan siang entah mengapa saya kesal. Saya tidak tahu mengapa saya sampai kesal dan kepada siapa saya merasa kesal. Rasanya semua orang ingin saya diemin. Sampai menjelang malam saya masih merasa kesal. Saya hanya mengelus-elus perut dan mengatur rencana kapan Me Time ala saya ini terpenuhi ditengah-tengah jadwal kegiatan yang tiada habisnya bahkan hingga menjelang due date kelahiran nantinya. Melihat agenda saya sendiri, setiap weekend penuh dengan aktifitas senam hamil, kontrol ke dokter, lembur di tempat kerja karena perlu transfer job dan menuntaskan meeting di akhir tahun, serta persiapan acara natal (astaaagggaaa sok sibuk banget yak, padahal saya cuman duduk manis, wakakakakak). Tambah gerah dan kesal lah saya, seakan-akan saya tidak akan punya Me Time lagi seumur hidup saya (lebay banget nggak siyh saya kemarin, okey blame the hormone :D).



https://instagram.com/p/_EM7-gRoK5/

Malam harinya, pas banget di rumah juga ada Jam Doa rutin, saya disadarkan. Hidup manusia per harinya pasti ada tujuannya. Kelihatannya saya terbawa perasaan dan sugesti bahwa sesudah memiliki anak nanti kehidupan “Pribadi dan Bebas” saya akan terusik. Disini saya rupanya sedang mengidentikkan Me Time dengan kehidupan “Pribadi dan Bebas”. Mungkin ini bagian dari was-was nya wanita hamil yang tidak saya sadari kali ya. Padahal setelah saya evaluasi hari libur saya kemarin ternyata membuat saya produktif.



Inilah hasil evaluasi saya terhadap hari libur kemarin. Pagi-pagi saya terbangun, saya sudah ngejogrok di depan laptop. Disitu saya bisa menghasilkan post blog harian saya. Tidak hanya itu saja, saya bisa membenahi seluruh media sosial yang terbengkalai, membenahi tema blog saya, belajar monetisasi blog dengan aplikasi sana-sini, dan upload-upload postingan di berbagai media sosial. Harusnya saya bersyukur karena akhirnya saya ada kesempatan menyelesaikan semua itu setelah di planning kan sejak lama. Disamping itu semua cucian dan pekerjaan rumah tangga lainnya pun terselesaikan serta bisa istirahat di sore harinya. Disitu saya sadar justru itulah Me Time saya. Suami saya juga begitu pengertian di hari libur kemarin sehingga dia membantu saya menjemur baju (pasalnya saya pun entah mengapa terlalu lelah untuk naik turun tangga) namun dia tetap menikmati istirahatnya dari hari-hari kerja yang melelahkan.



Bagi saya Hari Libur tetaplah identik dengan Me Time. Tapi Me Time bukanlah melulu tentang pribadi yang bebas keluyuran kemana-mana sendirian tanpa diganggu orang lain. Me Time bisa dihabiskan bersama orang-orang tercinta bahkan dengan kegiatan rutin sekalipun, yang penting happy dan produktif. Walau sekali-kali perlu kita merasakan suasana yang berbeda dari kegiatan rutin tersebut. Yang penting Me Time itu berkualitas. Me Time haruslah menjadi Quality Time terutama di hari libur. Lagian segala sesuatu ada waktunya. Pasti ada saatnya saya bisa Me Time sendirian, ada kalanya rame-rame dengan keluarga, ada kalanya bersama teman-teman kerja. Pasti!!! :)



Bagaimana denganmu? Seperti apakah Me Time versimu di kala hari libur?



Regards,



sans-sign



leyeh-leyeh



9.12.15

Desember 09, 2015

River Tubing di Kali Oyo

Ini merupakan lanjutan kisah perjalanan saya menyusuri Jogja dan Dieng, lebih tepatnya masih serangkaian perjalanan saat Cave Tubing di Goa Pindul. Jadi hari itu kami langsung membeli dua tiket yang pertama untuk Cave Tubing dan yang kedua River Tubing. Mohon jangan tanya saya berapa HTM nya karena sesungguhnya saya sudah lupa :D. Mungkin bisa di cari di mbah google saja.



Sesudah acara Cave Tubing dan foto-foto selesai, dengan kostum yang sama saat Cave Tubing, kami diajak pemandu ke base camp untuk menaiki mobil menuju pinggiran Kali Oyo. Awalnya saya berpikir bahwa kami akan benar-benar naik mobil seperti angkutan umum. Namun rupanya itu adalah sebentuk mobil bak terbuka. Jadi tidak hanya kelompok kami saja (yang berisi 4 orang) namun kami bercampur dengan kelompok lainnya didalam mobil itu dengan penuh sesak. Saya sampai terhimpit di pojokan. Perjalanan menaiki mobil bak terbuka itu cukup mendebarkan buat saya. Saya sudah seperti diajak offroad. Jalanan yang berbatu dan becek membuat mobil bak terombang-ambing kanan dan kiri. Belum harus menghindari ranting-ranting panjang yang melintang.



river tubing 1Akhirnya sampailah kami di pinggiran Kali Oyo namun pemandangan yang ada didepan saya tidak sesuai ekspektasi saya. Awalnya dalam perjalanan saya mulai deg-degan karena akan menghadapi arus kali yang cepat namun nyatanya, setelah melihat langsung, arusnya pelan ditambah kalinya pun sama-sama berwarna cokelat, sodara-sodara!!! Dipinggir Kali Oyo kami di briefing lagi oleh pemandu. Berhubung kalinya cokelat, kedalamannya pun tidak bisa kita prediksi, ditambah lagi banyak sekali bebatuan jadi kita harus selalu ada diatas ban dan saling berpegangan antara ban satu dengan yang lainnya. Itulah yang kami lakukan segera setelah kami masuk kedalam air. Dan yak, sesegera itu juga badan saya gatal-gatal. Sepanjang menyusuri Kali Oyo saya tak berhenti menggaruk badan saya. Kalau kaki saya keluarkan dari air ampun panasnya kena paparan matahari, tapi kalau saya masukan dalam air yang ada saya gatal-gatal tiada henti. Saya menyesal kenapa tidak menggunakan legging panjang saja. Disinilah saya kecewa dengan aktifitas tersebut. Ditambah lagi arus yang tidak terlalu deras dan pemandangan yang tidak terlalu menarik untuk dilihat membuat saya terkantuk-kantuk.



Ditengah-tengah perjalanan Kali Oyo, yang juga merupakan bagian dari River Tubing kita mengikuti kerumunan untuk turun di pinggiran sebuah air terjun. Nah disitulah saya merasakan segar sekali. Saya bisa membasuh tubuh saya yang gatal-gatal cuman airnya duingiiiiiinnnn jadinya yang dibasuh cuman dari kaki kebawah, hwehehehe. Disebelah air terjun ini juga ada tebing yang dipakai untuk main loncat-loncatan... ahahaha. Ya iya karena disini justru adrenalin kita terpacu, berani atau tidak untuk terjun dari tebing setinggi 5m. Selama jantung kita sehat dan tidak merasa sakit kita diizinkan loncat disitu. Namun saya tidak berani, jadi saya melewatinya termasuk rombongan saya yang lainnya.



Setelah asyik membasuh badan dari air terjun kami pun melanjutkan perjalanan River Tubing sampai selesai dan kembali ke base camp dengan menggunakan mobil bak yang nunggunya ampun deh lama banget. Durasi yang ditempuh dari awal masuk Kali Oyo hingga keluar lagi itu lumayan lama dan enak banget buat bobo siang. Kurang lebih ada loh 1 jam. Oh ya, kalau di Kali Oyo ini tidak terlihat ramai seramai saat di Goa Pindul berhubung lebar kalinya cukup besar dan panjang. Hanya pada saat mau start pertama saja kita harus tunggu giliran dan pada saat bermain air terjun.



river tubing 2



river tubing 4



  river tubing 3



river tubing 5



Intinya siyh main-main di River Tubing ini tidak begitu berkesan buat saya, cuman foto-fotonya saja yang saya senangi. Eh tapi saat sedang menunggu mobil bak untuk kembali ke base camp, mata saya sedikit disegarkan dengan hamparan sawah hijau yang tidak terlalu luas. Terlihat sangat teduh sekali.



river tubing 6



Kalau kamu sudah pernahkah bermain River Tubing ini? Yang sudah yuk di share :)



Regards,



sans-sign



river tubing 1

8.12.15

Desember 08, 2015

Ketika Ibu Hamil Sakit

Pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami yang namanya sakit, apapun itu dimulai dari sakit gigi sampai dengan sakit hati, Nggak pria, nggak wanita, nggak ibu hamil, nggak anak-anak, nggak orang-tua pasti mengalami yang namanya sakit.



Seminggu yang lalu saya absen ngeblog sesungguhnya karena saya sedang sakit. Dua hari saya tidak masuk kerja demi mengistirahatkan badan yang terasa kurang enak. Apalagi sedang hamil seperti ini tentunya bawaan saya jadi sensitif. Merasa badan meriang sedikit langsung istirahat karena takut terjadi apa-apa dengan si dedek bayi. (Sebenarnya siyh ketika nggak masuk kerja justru harusnya saya bisa pakai buat blogging. Berhubung banyak perlengkapan bayi yang belum saya beli. Jadilah saya hunting barang-barang tersebut selama saya tidak bekerja. Okey, ini hanya pernyataan pelengkap saja :D)



Anehnya saya merasa meriang tersebut saat terbangun pagi-pagi. Badan langsung nggak enak, sedikit sakit kepala terus batuk-batuk padahal segala jenis makanan lancar masuknya. Saya lumayan cukup waswas tapi mungkin ini karena saya terlalu capek bekerja. Hari pertama nggak masuk kerja sampai jam 9 pagi saya habiskan dengan tidur lalu makan lalu tidur lagi (menantu macam apa ini!!) dan minum air putih yang banyak. Saya hampir menyerah dengan ingin minum panadol karena sakit kepalanya sangat mengganggu. Namun saya tahan-tahan diri. Saat jam makan siang badan mulai terasa segar dan saya menghabiskan sisa hari dengan ceria. Eh, besokan paginya nggak enak badan lagi. Saya bingung. Ini karena saya memang malas bekerja atau apakah? Cuman memang mulai minggu lalu itu saya sudah mulai lebih susah tidur dimalam hari. Padahal sebelum tidur saya makan macam-macam biar ngantuk terlelap tapi tetap saja karena badan pegal-pegal alhasil tidur tidak lancar.



Di hari kedua nggak masuk kerja entah kenapa saya merasa kalau tidur saja badan malah tambah pegal-pegal. Saya memutuskan untuk mencari keringat dengan mengosongkan beberapa lemari untuk barang-barang si dedek bayi nantinya. Ehhh ternyata menjelang makan siang badan mulai enakan lagi. Saya jadi berpikir mungkin saya itu sakit bukan karena kerja fisik tapi karena kerja pikiran yang berlebihan. Hari itu sampai malam saya akhirnya tidak tidur hanya selonjoran saja kalau badan sudah mulai terasa pegal.



Lucunya keesokan harinya, pagi-pagi bangun tidur badan kembali nggak enak. Tapi saya tetap paksa ke kantor karena banyak pekerjaan yang harus segera saya selesaikan apalagi mendekati jadwal cuti seperti ini. Di kantor pun saya merasa pusing terus sehingga saya berulang kali masuk pantry untuk lebih banyak lagi minum air putih dan nyemil segala jenis cemilan yang saya bawa supaya nggak pusing. Ditambah lagi saya sedikit waswas karena perasaan saya gerakan si dedek bayi hari itu nggak seaktif biasanya. Nah, disini saya dimarahin teman saya. Ia mengatakan bahwa saya sakit karena ulah saya sendiri yang kecapekan dengan berbagai pikiran yang aneh-aneh. Okelah akhirnya sisa hari itu saya isi dengan pikiran positif dan pulang lebih awal.



[caption width="300" id="attachment_4305" align="aligncenter"]senam hamil IG: @sandrinetungka[/caption]

Hari sabtunya adalah hari saya kontrol kehamilan. Badan saya sudah vit, sehingga pagi-pagi saya tetap menyempatkan waktu untuk ikut senam hamil. Walau lelah, saya merasa jauh lebih rileks. Sore nya baru masuk keruangan dokter untuk kontrol. Disitu saya sempat mengutarakan bahwa saya habis meriang (dengan nada-nada kalau bisa dikasih obat aja gitu). Obgyn saya bertanya apakah saya mengukur suhu badan saya ketika saya merasa meriang tersebut. Tentunya jawaban saya tidak. Baru deh saya di ceramahi panjang lebar bahwa tidak selalu yang namanya meriang berarti suhu tubuh naik drastis. Menurutnya mungkin saja saya hanya kecapekan. Artinya pekerjaan fisik ataupun kondisi mental tidak seimbang dengan asupan makanan yang masuk dan istirahat yang cukup. Apalagi cuaca memang lagi tidak menentu. Bisa saja saya merasa meriang karena suhu lingkungan yang memang sedang hangat dan mempengaruhi badan saya. Obgyn saya pun berkata, saya tidak butuh obat tambahan. Tidak semua penyakit selesai dengan obat. Apalagi ibu hamil. Seminimal mungkin masuk asupan-asupan yang diluar hal-hal alamiah. Penyembuhan yang terbaik adalah tetap dari hal-hal yang alamiah bukan dari proses kimiawi.



Mendengar ceramah obgyn yang panjang ini membuat saya makin tenang. Mungkin memang saya sakit karena saya capek secara "mental". Terlalu banyak yang saya pikirkan menjelang persalinan sehingga itu menyerang tubuh saya sendiri. Bersyukur sekali bahwa itu tidak mempengaruhi bayi saya. Buktinya saat di USG minggu lalu, bayi saya lagi nguap kayak orang kekenyangan hahahahaha (kata mamas, mirip sama emaknya kalau kenyang nguap-nguap ngantuk :D).



Saya pun bersyukur dimasa-masa kehamilan ini saya justru dimudahkan dari segi kesehatan tubuh. Ada beberapa teman disekeliling saya yang juga sedang mengandung sering bolak-balik dokter karena berbagai keluhan kesehatan yang cukup berat sehingga perlu dikasih obat dan penguat berbagai jenis. Rumah sakit pun penuhnyaaaaa ampun-ampunan bahkan kalau bisa dibilang hampir persis seperti pasar crowdednya. Saya beruntung dan bersyukur, saya kerumah sakit atau dokter hanya untuk keperluan kontrol kehamilan bulanan dan resep yang diberikan pun hanya vitamin kehamilan satu jenis (walau itu harganya nggak murah juga ya bokkk).



Melalui curahan random saya ini saya cuman ingin memberitahukan bahwa setiap kita pasti pernah merasa sakit terutama di tengah pergantian cuaca seperti ini. Tapi apapun itu, mencegah untuk tidak menjadi sakit jauh lebih baik dari pada mengobati. Apalagi untuk ibu hamil. Menjaga kesehatan dengan asupan makanan yang bergizi, olahraga teratur, dengan istirahat dan kerja pikiran yang seimbang itu sangat perlu. Alhasil pulang dari dokter, karena saya juga sudah mendekati masa-masa lahiran, saya jadi semangat untuk menggerakan badan lebih lagi dan memasukkan sebanyak-banyaknya energi / pikiran positif. SEMANGAT SEHAT!!!



Regards,



sans-sign



senam hamil



26.11.15

November 26, 2015

Balada si Ibu Hamil SanWa

Selama kehamilan setiap calon ibu pasti menghadapi berbagai macam balada. Maklum, menurut beberapa artikel yang saya baca dan menurut obgyn saya, ada perubahan hormon yang terjadi selama masa-masa kehamilan sehingga wanita akan cenderung lebih sensitif dalam beberapa hal dalam hidupnya. Sekarang, ceritanya ini saya pengen curhat balada apa yang saya alami selama masa kehamilan ini. Hahaha boleh dong!! Berhubung ini kehamilan pertama saya, saya ingin meninggalkan jejak disini siapa tahu bisa menjadi cerita buat anak cucu saya kelak dan saling berbagi dengan yang lain :) :)



 bumil




  1. Si bumil dan gatal-gatal
    Semua ibu hamil pasti menderita hal ini (eh bener semua kan ya?? Ada yang tidak??). Pasalnya menurut cerita ilmiah obgyn saya, gatal-gatal ini terjadi karena ada peregangan otot kulit perut karena didalamnya ada si dedek bayi. Jadilah kalau gerah dikit saya pasti merasa gatal-gatal. Tidak kegerahan aja gatal, apalagi kepanasan wuihh gatalnya rrruuuaaarrrr biasaaaa. Kalau udah gatal-gatal begini pasti saya merasa tidak tahan untuk segera menggaruknya dan hasilnya langsung saja garuk pakai kuku. Rupanya itu tidak boleh dilakukan karena sesudah melahirkan nanti yang ada kulit perut akan timbul selulit (begitu kata ibu mertua saya). Jika gatal sebaiknya diusap-usap saja atau gunakan bedak (anjuran obgyn saya pun bukan digaruk namun dioles dengan bedak). Tapi ya namanya tidak tahan kadang saya suka langsung saja garuk-garuk tanpa sadar. Ujung-ujungnya diomelin suami deh :D
    .

  2. Si bumil dan thesis
    Ini sesungguhnya faktor kemalasan saya pribadi. Tepat sebelum saya menikah saya memang sedang melanjutkan studi magister di semester terakhir. Seharusnya sesudah menikah saya langsung mengerjakan thesis. Namun karena faktor M ini akhirnya ketunda terus sampai akhirnya sekarang saya sudah hamil tua. Giliran sudah mendekati due date begini baru saya sadar harus selesai secepatnya sehingga tidak mengganggu saat proses menyusui di tiga bulan pertama. Namun perjalanannya itu tidak mungkin sampai saat ini saya hanya berhasil menyelesaikan bab 1. Dosen pembimbing saya pun yang melihat kondisi saya juga merasa tidak mungkin bisa sidang dibulan Desember. Jadi beliau menyarankan di bulan Februari atau Maret. Tapi ya kebayang dong nanti repotnya, lagi nyusuin eh kepikiran thesis. Intinya saya lagi kalut. Thesis saya stagnan!!! *horor
    .

  3. Si bumil dan susah tidur
    Mmmm sebenarnya tidak susah-susah amat siyh buat saya. Ketika tidur saya tidak seperti cerita ibu kebanyakan yang sering terbangun karena faktor bayi yang menendang-nendang. Kalau saya justru bayinya ikutan tidur *dedek yang pengertian :). Kalau saya lebih kepada terbangun jauhhhhh lebih pagi dan sesudahnya tidak bisa tidur lagi. Ini dikarenakan badan yang pegal-pegal karena posisi tidur yang tidak nyaman. Hamil besar seperti ini membuat tidak bisa tidur terlentang karena membuat nafas tertahan, membuat sakit pinggang jika tidur menyamping ke kiri ataupun ke kanan. Serba salah memang tapi saya bersyukur kalau malam jadi gampang ketiduran. Saya tidak lagi tidur diatas jam 11. Jam setengah 10 kalau sudah selonjoran di tempat tidur pasti ketiduran. Dampak baiknya lagi saya bisa bangun pagi!!!!! :D (okey, i was not a morning person).
    .

  4. Si bumil dan kemanjaan
    Sekali-kali boleh dong manja (mencari pembenaran banget ini siyh). Yap, saya jadi gampang manja sama suami. Apa-apa minta dianterin, apa-apa minta diambilin, apa-apa minta dibeliin :D. Sudah sekian saja ceritanya. Intinya ya saya jadi manja ... hwehehehehe
    .

  5. Si bumil dan kelelahan
    Karena saya bekerja diruangan yang berada dilantai dasar jadilah tidak pernah naik turun tangga. Ini memang nilai positif karena sebaiknya ibu hamil jangan terlalu sering naik turun tangga di awal-awal kehamilan (bukan berarti tidak boleh lowh). Namun ini dia balik ke nomor 4, otot-otot kaki saya jadi manja. Naik tangga sedikit saya lelah ngos-ngosan. Jalan kaki dari tempat turun angkutan umum hingga keruangan saya pun rasanya seperti abis lari 5K. Apalagi kalau saya lihat-lihat niyh kenaikan berat badan saya justru cenderung berat di kaki. Badan saya dari perut keatas nampak tidak naik sesignifikan sebelum hamil (itu berarti 15kg larinya di perut ke kaki semuaaaa *bergidik). Jadilah kalau jalan atau berdiri sebentar saja saya kelelahan.
    .

  6. Si bumil dan doyan belanja
    Nah ini dia, selain saya doyan baca, saya jadi doyan belanja apa saja dimulai dari jajan-jajan cemilan hingga beli-beli barang keperluan dirumah. Pulang kantor itu rasanya pengen mampir melulu ke mana saja yang bisa mengeluarkan uang. Ada untungnya juga saya memiliki balada poin nomor 5. Rasa ingin mampir itu pasti kalah karena saya malas berjalan lama-lama. Tapi ya tangan tetap saja browsing untuk belanja online, mulai dari snack-snack, selai, alat menjahit, ATK, tas, dompet, sampai perlengkapan untuk si dedek bayi nantinya. Intinya, kalau tiap hari tidak ada yang belanjaan yang saya browsing rasanya hari saya kurang lengkap. Ahahaha, cuman untungnya saya tidak gampang kalap. Pasti saya lirik pundi-pundi saya dulu, cukup atau tidak sampai akhir bulan. Kalau pundi-pundi teriak tidak okey saya cukup cuci mata saja sekadar memuaskan keinginan doyan belanja ini.
    .

  7. Si bumil dan rasa waswas
    Rasa waswas adalah balada saya yang paling besar saat ini. Sebagai ibu muda dengan kehamilan pertama pastilah saya waswas menghadapi proses persalinan nantinya. Kalau lagi tidak ada kerjaan saya langsung deg-degan memikirkan proses persalinan nantinya. Bukan hanya itu saja, saya jadi kepikiran nanti sesudah cuti 3 bulan bayi saya bagaimana? Udah gitu tambah lagi waswas gimana kalau bayi saya nantinya hanya dekat dengan eyang-eyangnya dibanding oma-opanya karena faktor ketemu yang jarang (pastilah sesudah kembali bekerja saya akan menitipkan anak dirumah mertua saya). Kata orang biasanya cucu pertama dari kedua belah pihak (suami-istri) itu jadi rebutan. Dan masih ada lagi rasa was-was lainnya. Padahal ini tidak bagus buat ibu dan dedek bayi. Dedek bayi ini bisa merasakan apa yang ibunya rasakan dari dalam perut. Untuk itulah saya lagi getol-getolnya cari kelas senam hamil dan kalau bisa yang ada kelas hypnobirthingnya. Saya tergolong terlambat melakukan ini soalnya ini akhir tahun, saya takut banyak bolongnya karena keasikan liburan dan banyak undangan pernikahan di akhir mingg (*cari-cari alasan wae). Intinya sekarang ini saya sedang banyak meditasi untuk menenangkan diri dari rasa waswas dan terus "sibuk" sehingga saya tidak lagi terngiang-ngiang rasa waswas tersebut.



Pada akhirnya setiap habis mengalami balada tersebut saya mengucap syukur karena saya bisa dianugerahi kehamilan ini. Sampai minggu ke 33 kehamilan saya ini saya terkagum-kagum sendiri bahwa didalam perut saya ini berkembang seorang bayi yang menunggu dipersiapkan untuk melihat dunia. Ahhhh mama jadi nggak sabar ngelihat kamu dek. Sampai kita bertemu di awal tahun ya. Mudah-mudahan tepat pada waktunya :)



Regards,



sans-sign



bumil



25.11.15

November 25, 2015

Jelajah Dunia Buku

Dalam satu minggu belakangan ini saya sedang menikmati sebuah buku seri The Land of Stories yang ke-empat dengan judul Beyond The Kingdoms. Buku ini adalah karangan seorang pemain tv series barat "Glee" yang bernama Chris Colfer (if you are a glee fan like me you should know who he is and yup, he is a writer). Secara singkat seluruh kisah Land of Stories adalah kisah tentang sepasang anak kembar yang setengahnya merupakan keturunan peri dari dunia dongeng. Di dalam buku ini menceritakan bahwa dunia dongeng itu nyata dan kisah-kisah seperti Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty, dan kisah dongeng lainnya memang terjadi di dunia lain dan dibawa ke dunia manusia oleh para peri sehingga dijadikan cerita-cerita best seller oleh pengarang terkenal seperti Grimm bersaudara, Hans Chrisitian Andersen, dan lain sebagainya.



The Land of StoriesSaya tidak ingin berpanjang lebar tentang keseluruhan kisahnya, namun saya ingin menyoroti salah satu kisahnya dibuku yang ke-empat. Dikisahkan bahwa di buku ini sepasang anak kembar tersebut sedang ingin menyelamatkan pamannya yang selalu menggunakan topeng (atau disebut masked man) yang terobsesi untuk menguasai negeri dongeng dan juga negeri manusia dengan mengumpulkan sekelompok pasukan yang terjahat dari semua yang jahat. Namun pasukan ini bukan diambil dari negeri dongeng ataupun manusia. Pasukan ini ingin diambilnya dari para tokoh jahat yang dibacanya dari buku-buku cerita yang diterbitkan di dunia manusia. Sebut saja The Wicked Witch dalam cerita The Wizard of Oz, atau Frankenstein si monster, dan lain sebagainya. Paman ini percaya jika dengan berkumpulnya para tokoh jahat ini akan membuatnya berkuasa di dua dunia tersebut. Dan untuk mencapai tujuannya ia harus masuk kedalam setiap buku dengan meneteskan ramuan ajaib yang akan membentuk buku yang dibacanya menjadi sebuah portal untuk masuk ke dunia buku tersebut yang hidup.



Dipertengahan cerita paman ini berhasil memasuki dunia buku dari Wizard of Oz. Sepasang anak kembar yang ingin menyelamatkan pamannya ini pun ikut masuk kedalamnya demi mengembalikan pamannya ke jalannya yang benar. Sepasang anak kembar ini kemudian menjalani hari-hari hampir sama seperti yang dilalui oleh Dorothy si pemeran utama buku Wizard of Oz.



Walau saya belum selesai membacanya, namun saya jadi bertanya-tanya juga, apa rasanya kalau kita bisa masuk dan melihat langsung bahkan merasakan langsung kisah-kisah yang kita baca dalam buku yang kita gemari?



Sebagai seorang book addict sejak masih kecil, saya sangat menggemari kisah-kisah yang berbau dongeng atau science fiction. Kisah-kisah yang jarang atau bahkan tidak bisa ditemui di dunia nyata. Sehingga ketika membacanya saya menempatkan diri sebagai sang pemeran utama wanita dan membentuk perspektif sendiri akan buku yang saya baca. Untuk zaman sekarang ini memang telah banyak film yang diadaptasi dari buku-buku best seller sehingga pembaca akan dengan lebih mudah melihat proyeksi dari buku yang kita baca. Namun bagi saya pribadi kebanyakan film yang diadaptasi dari buku tersebut tidak bisa memuaskan khayalan proyeksi buku ciptaan saya sendiri.



Jikalau ramuan itu memang benar ada (namun saya tidak mengharapkannya karena itu pasti akan spooky berat - let the world be like it is), saya ingin melihat dan menyaksikan kisah dari buku serial The Land of Stories 1 ~ 4. Mengapa? Karena semua karakter dongeng yang saya kenal dari kanak-kanak hingga dewasa seperti ini ada didalamnya. Apalagi ada dunia peri yang identik dengan wanita dan pria berkilauan diliputi beraneka ragam warna yang dapat terbang kesana kemari dan melakukan magic. Pasti rasanya wow!!! Ditambah lagi kalau bisa berfoto bersama :D (narsisnya tetap dibawa). Tapi saya tidak ingin mengalami kisah-kisah adventurous yang ada didalamnya :D. Saya jadi teringat ketika mimpi saya untuk mengunjungi Disneyland terkabulkan (baca kisahnya disini). Saat itu hasrat saya ingin berfoto dengan semua tokoh kartun Disney dan para wanita dari negeri dongeng tersebut namun saya terlalu malu bersaing dengan anak-anak kecil saat ingin berfoto dengan Cinderella dan Belle (tokoh Beauty and the Beast). Jadilah saya hanya berhasil berfoto dengan karakter yang tidak berwujud manusia yaitu Goofy dan Pluto.



Bagaimana dengan kamu, jika ramuan itu ada, buku apa yang ingin kamu jelajahi?



Regards,



sans-sign



IMG_0609



About

authorHello, my name is Sandrine. I'm a working mom who loves to read and wander.
Learn More →



Total Tayangan Halaman