20.11.14

November 20, 2014

Jalan-jalan ke Hong Kong-Shenzhen-Macau - Hari 2

Masuk di hari kedua perjalanan bulan madu kami. Kalau mengikuti draft itinerary kami, hari kedua ini diisi dengan mengunjugi Ngo Ping di setengah hari pertama lalu di lanjutkan ke Disneyland di setengah hari sisanya. Tapi apa daya, kami terlalu terlena dengan kamar luas L'hotel Elan ini sehingga kami baru bangun pukul 8 pagi. Tidak terlalu bersalah banget siyh karena artinya di Jakarta baru pukul 7 pagi. Lagian kita lagi liburan kan ya. :D

Karena bangunnya tidak pagi lagi, ditambah kami menghabiskan waktu siap-siap yang sangggaaattttt lama, kami baru turun breakfast pukul 09.30. Ini menyebabkan jadwal kembali mundur. Saat resto breakfast tutup 10.30 kami baru beranjak naik lagi ke kamar untuk siap-siap melancong. Sampai kamar kami teringat bahwa kami butuh menukar HKD terlebih dahulu. Karena kami tidak ingin menukar dengan rate yang tidak bagus, kami langsung mengontak teman kami yang sedang tinggal dan bekerja di Hong Kong. Sekalian ingin bertemu akhirnya kami merombak itinerary hari kedua kami. Jadwal hari ke-2 kami hanya akan diisi dengan pertemuan dengan teman kami lalu dilanjutkan dengan menghabiskan hari di Disneyland.

16.11.14

November 16, 2014

Jalan-jalan ke Hong Kong-Shenzhen-Macau - Hari 1

Senin, 23 Agustus 2014, saya dan suami terbangun pukul 4 pagi dan mulai bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Sebenarnya pagi itu kami sedikit was-was karena kami tidak punya sama sekali e-ticket penerbangan dalam bentuk kertas. Semalaman kami coba print tapi tidak berhasil dan tidak sempat lagi print keluar. Kami memang teledor sampai H-10 jam keberangkatan kami lupa bahwa dokumen-dokumen perjalanan selain paspor belum dalam bentuk fisik. Kami saja baru beli koper H-12 jam keberangkatan dan baru packing H-8 keberangkatan. Bagi saya ini siyh keteteran pasti pas keberangkatan ada aja yang lupa. Terbukti saya lupa bawa obat :D



Jadwal take-off kami pukul setengah 9 pagi. Jadilah kami perlu sampai di bandara agar lebih aman maksimum pukul 7 pagi. Kami memang sudah melakukan check-in online tapi karena membawa bagasi dan juga boarding pass tidak bisa dicetak jadilah kami harus berangkat pagi. Target kami berangkat jam 5 pagi. Tapi nyatanya dengan santai kami baru berangkat jam 6 dan diantar mertua saya. Kami baru sadar bahwa itu hari senin. Apalagi setelah tol baru ke bandara dibuka, tol simatupang semakin hari semakin macet karena dipenuhi truk-truk hasil pengalihan. Kami benar-benar tidak memperhitungkan hal ini. Gara-gara macet ini juga saya tidak merasa pusing ketika makan dimobil sangking saya sudah senewen dan bercampur lapar.



Jam setengah 8 teng kami sampai di terminal 3 dan aman, kami masih bisa drop baggage dan print boarding pass. Tanpa tiket fisikpun bisa lewat pintu keberangkatan. Yang penting ada yang bisa membuktikan kita akan berangkat. Saya ya pakai ipad saja. Jam 8 kami siap boarding dan setengah 9 take off. Berhubung kami pakai tiket promo pastilah bukan direct flight. Kami harus transit di Kuala Lumpur. Dua jam perjalanan sampai ke KLIA 2 tidak begitu berasa karena kami sibuk makan. Makanan dari maskapai Air Asia itu enak juga ternyata dan tidak terlalu mahal asalkan kita harus pre-order saat kita book tiket. Saya memesankan kami makanan untuk seluruh penerbangan kami. Untuk ke KL ini saya memesan Nasi Goreng untuk mamas dan Nasi Lemak untuk saya.



Sesampainya kami di Kuala Lumpur kami berdua sempat kebingungan, pasalnya ini pertama kalinya kami menggunakan sistem transit. Kami kebingungan apakah perlu ambil bagasi dulu atau bagaimana. Akhirnya modal nekat mengikuti petunjuk yang ada di e-ticket kami langsung check-in di loket transit dan ternyata kami tidak perlu memikirkan bagasi kami. Bagasi akan langsung ditransfer ke penerbangan kami selanjutnya. Maafkan keudikan kami ya :D



[gallery type="thumbnails" ids="3410,3411,3413,3414,3415,3416"]

Baru kali itu kami, saya terkhususnya, menginjakkan kaki dibandara baru Kuala Lumpur yaitu KLIA II. Bandaranya cozy tapi memang tidak banyak yang dilihat disana menurut saya. Koridor menuju boarding gate juga agak monoton dan cenderung sepi, saya kurang suka. Tidak seperti Chan*i #ya iyalah#. Mungkin karena waktu itu bandaranya masih dalam proses perampungan sebelum grand opening kali ya. Tapi paling nggak, waktu kami sampai pas lagi ada rumah kebalik yang bisa kami pakai foto-foto :D.



Setelah dua jam transit kami kembali memasuki pesawat, take off menuju Hong Kong. Bagian ini niyh saya excited campur nervous, karena saya belum pernah berada dalam pesawat diatas dua jam. Duh, tegangnya bukan maiiiinnn. Mana selama perjalanan ke Hong Kong itu kurang mulus sama sekali, turbulance melulu. Hanya makan dan tidur yang menghibur. Untuk penerbangan ini saya dan mamas memesan jenis makanan yang sama yaitu Roast Chicken. Akhirnya, jam setengah 6 waktu hong Kong kami mendarat di Terminal II, Hong Kong International Airport. Yeayyy!!!!



Kesan pertama melihat HKIA, hmmmm sangat kaku dan gelap. Terlalu monoton. Kembali saya tidak suka suasananya. Udah gitu disisi sebelahnya ada bukit-bukit tinggi. Ditambah lagi untuk menuju terminal kedatangan cukup jauh, perlu menggunakan bus yang saat itu antrinnnnyyyyyaaaa nggak ketulungan karena banyak pesawat yang sehabis mendarat. Paling tidak yang menariknya adalah sangat tertib dan ada penjaganya sebelum naik bus kayak naik bus di halte trans jakarta itu. Nggak ada dorong-dorongan. Tapi sensasi sebelum mendarat itu loh, keren!! Karena HKIA seperti mengapung diatas air kayak bandara-bandara pesawat angkatan udara nya AS itu loh.



[gallery type="circle" ids="3417,3418,3419,3420,3421"]

Sampai terminal kedatangan kami langsung menuju tempat pengambilan bagasi. Tidak perlu waktu lama kami menunggu bagasi kami. Sebelum kami keluar area, ada salah satu corner informasi jika kita butuh informasi mengenai transportasi dan tempat-tempat wisata di Hong Kong. Langsung saja saya bertanya bagaimana meraih hotel kami. Mereka memberi petunjuk dengan lugasnya dan langsung menyarankan kami membuat octopus card untuk memudahkan transportasi kami.



Octopus card merupakan kartu serba guna seperti Flazz BCA atau sejenisnya yang dipakai untuk alat pembayaran di moda transportasi dan juga alat belanja. Sebenarnya ada paket octopus card + kereta express ke Hong Kong kota. Tapi setelah kami hitung biaya yang cukup tinggi dan waktu yang tidak terlalu jauh berbeda, kami tidak membeli paket itu dan memutuskan naik Cityflyer Airport Bus ke hotel sekalian ingin melihat pemandangan sekitar. Sekadar informasi berkeliling di Hong Kong untuk transportasi umumnya bisa menggunakan MTR, Citybus, atau Taxi. Silahkan klik masing-masing link untuk detailnya. Saya sendiri menyarankan naik MTR didalam kota untuk menghemat waktu karena tidak lama menunggu MTR nya. Tapi beberapa MTR yang juga jadi percabangan suka agak tricky sehingga terasa lebih lama daripada naik bus. Kalau lagi nggak macet naik bus di Hong Kong juga cepat.



[caption id="" align="aligncenter" width="1072"] MTR Route[/caption]

Pilihan kami tepat karena akhirrrnnnyyyyaaaa saya naik bus tingkat. Yeayyy!!!! (ketahuan udiknya). Busnya juga nyaman, bersih, dan dingin, serta aman. Koper kami taruh ditempat koper dibawah dan kami duduk di lantai dua. Koper dapat dipantau dari TV, karena didepan koper, ditaruh CCTV. Walau kami excited tetap kami harus jaga-jaga jangan sampai kami kelewatan turun.



[gallery type="rectangular" ids="3424,3396,3423,3425"]

Perjalanan menggunakan bus nomor 22 menuju shelter yang kami tuju, yaitu shelter MTR Ngau Tau Kok, memang lumayan lama sekitar 2 jam. Setelah turun halte kami masih kebingungan bagaimana meraih hotel kami. Kami merasa seperti orang tersasar pasalnya sekeliling kami terdiri dari gedung-gedung perkantoran bertingkat tidak seperti kawasan ramai wisatawan yang seperti kami lihat di TV. Bahkan kami sempat memasuki area perkantoran dan diliatin orang-orang karena kami bawa koper-koper besar di hari Senin. Wajar saja karena hotel yang kami pilih itu memang dikawasan "Industri" menurut reviewnya. Setelah jalan sana-sini menggeret koper dan bertanya akhirnya sampai juga. Sampai pintu depan hotel kami takjub, kerennn bangeettt. Untuk urusan hotel ini akan saya review terpisah saja ya, biar lebih afdol :D



Karena sampai hotel sudah kurang lebih jam setengah 9 malam, kami tidak berniat kemana-mana seperti draft itinerary kami. Kami hanya mau pergi cari makan lalu balik ke kamar hotel. Makanan pun hanya kami beli di Mc'D yang kami lewati saat mengarah ke hotel. Habis itu kami pelukan dan bobo deh... Hehehe... Ya, hanya seperti inilah kisah hari pertama kami.



Regards,



sans sign

12.11.14

November 12, 2014

Review Buku-buku SanWa

Halo, sedikit intermezo singkat ya.
(Ini adalah sticky post, post terbaru ada dibawah ya)



SanWa mulai masuk ke dunia review buku-buku yang menjadi koleksi SanWa.



Klik gambar berikut untuk masuk ke Perpustakaan SanWa.



[caption id="attachment_2937" align="aligncenter" width="800"]Perpustakaan SanWa | SanWa Library Perpustakaan SanWa | SanWa Library[/caption]

11.11.14

November 11, 2014

[Review] The Land of Stories (1)







Judul: The Land of Stories - The Wishing Spell
Penulis: Chris Colfer
Penerbit: Little, Brown and Company (Hachette Book Group, Inc.)
Tahun Terbit: 2012 [July 2013, 2nd Edition]
Tebal Buku:
ISBN: 031620157X [ISBN13: 9780316201575]
Rating SanWa:
Tanggal Mulai: 14 Oktober 2014
Tanggal Selesai: 28 Oktober 2014




"I will tell you about my past, or at least the past of someone I once was," the Evil Queen said. "But consider yourself warned. My Story is not one that ends with a happily-ever-after."



Bagi penyuka dongeng atau yang sering dikenal dengan nama "Fairy Tales" direkomendasikan untuk membaca buku ini. The Land of Stories karangan Chris Colfer merupakan perluasan dari dongeng-dongeng yang sudah kita kenal. Kita akan dibawa hanyut dengan kisah dongeng klasik yang sudah kita kenal sejak kecil. Buku ini ada untuk semua kalangan. Aman untuk anak-anak, menyenangkan untuk remaja, serta membawa memori untuk orang-orang dewasa. Buku ini termasuk buku Fantasi untuk Children. The Wishing Spell merupakan buku pertama dari trilogi The Land of Stories.



She returned carrying a large, old book with a dark emerald cover titled The Land of Stories in gold writing. Alex and Conner knew what the book was as soon as they saw it. If their childhood could be symbolized by an object, it was this book.



Buku The Land of Stories - The Wishing Spell menceritakan tentang perjalanan fantasi sepasang kembar bernama Alex dan Conner. Walaupun kembar, Alex dan Conner mempunyai perangai yang berkebalikan. Alex sangat tertutup dengan dunianya dan sangat menyukai dongeng. Sedangkan Conner berperangai sangat supel dan berpikir logis, serta suka tertidur dikelas sastra. Tapi mereka punya kesamaan yang sama yaitu perasaan sedih ditinggal mati ayahnya diusia yang terbilang dini dan harus ditinggal ibunya kerja yang tak kenal waktu demi menghidupi kebutuhan keluarga mereka.

Suatu saat, pada ulang tahun mereka yang ke-duabelas, nenek mereka menghadiahi suatu hadiah yang sangat dekat dengan kehidupan masa kecil mereka bersama mendiang ayah mereka. Hadiah itu adalah buku dengan judul "The Land of Stories". Buku ini yang membuat Alex dan Conner jatuh cinta dengan dunia dongeng. Walaupun begitu hanya Alex yang tetap menyukai dunia dongeng setelah ayah mereka meninggal. Tapi mereka tak menyangka bahwa buku itu menyedot mereka ke dunia yang berbeda dari dunia yang mereka tinggali. Dunia yang penuh dengan magic dan penuh dengan tokoh-tokoh dongeng yang dekat dengan mereka sejak kecil melalui buku.



"Have either of you ever heard of the Wishing Spell?" Froggy asked the twins.



Kebingungan mencari jalan keluar, seorang manusia kodok memberitahukan satu jalan keluar untuk mereka dapat kembali ke dunia mereka sendiri. Mereka perlu mencari benda-benda untuk menghidupkan mantra the Wishing Spell seperti yang ditunjukkan oleh seseorang dalam jurnal pribadinya. Pencarian The Wishing Spell sebelumnya telah dilakukan oleh salah satu orang di dalam dunia buku "The Land of Stories" untuk sampai ke dunia dimana Alex dan Conner tinggal.



"I know this may not make any sense, but thank you for always being there for me," Alex said. "You're the best friends I've ever had."



Pertemuan pertama Alex dan Conner dengan manusia kodok membawa mereka kedalam petualangan-petualangan fantasi yang mencengangkan mereka. Dunia baru yang sering mereka temukan dalam buku dapat mereka alami sendiri. Petualangan itupun membuka rahasia yang sangat mengagetkan sepasang kembar ini. Penasaran? Buku ini dapat dicari di toko-toko buku import ataupun dalam bentuk ebook.

Saya pribadi terkesan dengan buku ini. Saya--bahkan kita--terlalu mengenal dongeng seperti Snow White. Saya tidak menyangka bahwa Chris Colfer mampu membawa kisah Snow White lebih jauh sehingga kita seperti membaca kisah lanjutannya beserta dengan kisah-kisah dongeng klasik lainnya seperti Cinderella, Sleeping Beauty, dan lainnya. Tokoh-tokoh yang dihadirkan mampu menggambarkan bahwa kita sendiri seakan berinteraksi langsung dengan mereka padahal buku ini tidak diceritakan dari pola pandang orang pertama. Pemilihan karakter baru pun digambarkan dengan baik dan terkoneksi antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.

Dua review saya kutip dari halaman buku ini di amazon:






















Review terhadap buku ini bermacam-macam, itupun dikarenakan selera masing-masing orang. Tapi saya termasuk yang merekomendasikan buku ini. Buku ini sudah menjadi New York Time Bestselling Book sejak tahun 2012--sejak pertama terbitnya. Chris Colfer sendiri adalah seorang aktor yang pernah memenangkan Golden Globe melalui serial TV yang terkenal yaitu Glee. Ia mengaku bahwa buku ini sudah dimulai dibuatnya sejak ia kecil. Siapa sangka buku bagus lahir dari seorang aktor terkenal. Pasalnya ada kabar beredar bahwa ada rencana buku ini akan dijadikan dalam bentuk layar lebar. Wah kita tunggu saja kabar berikutnya.





Regards,











November 11, 2014

[Review] The Land of Stories (1)







Judul: The Land of Stories - The Wishing Spell
Penulis: Chris Colfer
Penerbit: Little, Brown and Company (Hachette Book Group, Inc.)
Tahun Terbit: 2012 [July 2013, 2nd Edition]
Tebal Buku:
ISBN: 031620157X [ISBN13: 9780316201575]
Rating SanWa:
Tanggal Mulai: 14 Oktober 2014
Tanggal Selesai: 28 Oktober 2014




"I will tell you about my past, or at least the past of someone I once was," the Evil Queen said. "But consider yourself warned. My Story is not one that ends with a happily-ever-after."



Bagi penyuka dongeng atau yang sering dikenal dengan nama "Fairy Tales" direkomendasikan untuk membaca buku ini. The Land of Stories karangan Chris Colfer merupakan perluasan dari dongeng-dongeng yang sudah kita kenal. Kita akan dibawa hanyut dengan kisah dongeng klasik yang sudah kita kenal sejak kecil. Buku ini ada untuk semua kalangan. Aman untuk anak-anak, menyenangkan untuk remaja, serta membawa memori untuk orang-orang dewasa. Buku ini termasuk buku Fantasi untuk Children. The Wishing Spell merupakan buku pertama dari trilogi The Land of Stories.



She returned carrying a large, old book with a dark emerald cover titled The Land of Stories in gold writing. Alex and Conner knew what the book was as soon as they saw it. If their childhood could be symbolized by an object, it was this book.



Buku The Land of Stories - The Wishing Spell menceritakan tentang perjalanan fantasi sepasang kembar bernama Alex dan Conner. Walaupun kembar, Alex dan Conner mempunyai perangai yang berkebalikan. Alex sangat tertutup dengan dunianya dan sangat menyukai dongeng. Sedangkan Conner berperangai sangat supel dan berpikir logis, serta suka tertidur dikelas sastra. Tapi mereka punya kesamaan yang sama yaitu perasaan sedih ditinggal mati ayahnya diusia yang terbilang dini dan harus ditinggal ibunya kerja yang tak kenal waktu demi menghidupi kebutuhan keluarga mereka.

Suatu saat, pada ulang tahun mereka yang ke-duabelas, nenek mereka menghadiahi suatu hadiah yang sangat dekat dengan kehidupan masa kecil mereka bersama mendiang ayah mereka. Hadiah itu adalah buku dengan judul "The Land of Stories". Buku ini yang membuat Alex dan Conner jatuh cinta dengan dunia dongeng. Walaupun begitu hanya Alex yang tetap menyukai dunia dongeng setelah ayah mereka meninggal. Tapi mereka tak menyangka bahwa buku itu menyedot mereka ke dunia yang berbeda dari dunia yang mereka tinggali. Dunia yang penuh dengan magic dan penuh dengan tokoh-tokoh dongeng yang dekat dengan mereka sejak kecil melalui buku.



"Have either of you ever heard of the Wishing Spell?" Froggy asked the twins.



Kebingungan mencari jalan keluar, seorang manusia kodok memberitahukan satu jalan keluar untuk mereka dapat kembali ke dunia mereka sendiri. Mereka perlu mencari benda-benda untuk menghidupkan mantra the Wishing Spell seperti yang ditunjukkan oleh seseorang dalam jurnal pribadinya. Pencarian The Wishing Spell sebelumnya telah dilakukan oleh salah satu orang di dalam dunia buku "The Land of Stories" untuk sampai ke dunia dimana Alex dan Conner tinggal.



"I know this may not make any sense, but thank you for always being there for me," Alex said. "You're the best friends I've ever had."



Pertemuan pertama Alex dan Conner dengan manusia kodok membawa mereka kedalam petualangan-petualangan fantasi yang mencengangkan mereka. Dunia baru yang sering mereka temukan dalam buku dapat mereka alami sendiri. Petualangan itupun membuka rahasia yang sangat mengagetkan sepasang kembar ini. Penasaran? Buku ini dapat dicari di toko-toko buku import ataupun dalam bentuk ebook.

Saya pribadi terkesan dengan buku ini. Saya--bahkan kita--terlalu mengenal dongeng seperti Snow White. Saya tidak menyangka bahwa Chris Colfer mampu membawa kisah Snow White lebih jauh sehingga kita seperti membaca kisah lanjutannya beserta dengan kisah-kisah dongeng klasik lainnya seperti Cinderella, Sleeping Beauty, dan lainnya. Tokoh-tokoh yang dihadirkan mampu menggambarkan bahwa kita sendiri seakan berinteraksi langsung dengan mereka padahal buku ini tidak diceritakan dari pola pandang orang pertama. Pemilihan karakter baru pun digambarkan dengan baik dan terkoneksi antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.

Dua review saya kutip dari halaman buku ini di amazon:






















Review terhadap buku ini bermacam-macam, itupun dikarenakan selera masing-masing orang. Tapi saya termasuk yang merekomendasikan buku ini. Buku ini sudah menjadi New York Time Bestselling Book sejak tahun 2012--sejak pertama terbitnya. Chris Colfer sendiri adalah seorang aktor yang pernah memenangkan Golden Globe melalui serial TV yang terkenal yaitu Glee. Ia mengaku bahwa buku ini sudah dimulai dibuatnya sejak ia kecil. Siapa sangka buku bagus lahir dari seorang aktor terkenal. Pasalnya ada kabar beredar bahwa ada rencana buku ini akan dijadikan dalam bentuk layar lebar. Wah kita tunggu saja kabar berikutnya.





Regards,











9.11.14

November 09, 2014

Jalan-jalan ke Hong Kong - Persiapan

Kalau sudah mulai ngomongin perihal jalan-jalan pasti saya semangattttt pakai banget, tapi kalau disuruh menuangkan hasil jalan-jalan saya sendiri kok ya agak kesusahan entah mengapa. Okelah, saya mulai aja post kali ini dengan hasil perjalanan saya dua bulan lalu alias perjalanan honeymoon yippie :D

Mempersiapkan pernikahan pastilah yang saya pikirin pertama Honeymoon. Maklum otak ini isinya jalan-jalan melulu, tapi jarang terealisasi, hehehehe. Bahkan kalau perlu saya menikah tamasya aja, lumayan kan duitnya buat trip yang panjang. :D

Awalnya wacana pergi ke Hong Kong ini hanya angan-angan karena melihat kenyataan sedang tidak ada promo dengan waktu book yang cukup mepet. Sehingga mamas memutuskan mempergunakan tiket ke Phuket yang sudah kita beli hampir setahun sebelumnya, sebelum kita merencanakan untuk menikah, sebagai honeymoon walaupun dilakukan satu bulan setelah pernikahan.

4.11.14

November 04, 2014

Kiat Mereview Buku





Sesungguhnya post ini ada bukan karena saya telah mereview banyak buku. Post ini ada untuk menjadi pengingat bagi saya bagaimana saya akan mengulas buku-buku yang telah saya baca sendiri. Saya sedang mencoba memasuki ranah ini. Saya sedang kilas balik ke diri saya beberapa tahun yang silam yang sangat suka membaca namun hampir pudar di makan waktu. Sekarang saatnya saya bangkit melihat dunia melalui rangkaian kata dan ingin membagikan pandangan pribadi saya atas buku-buku yang "sebisanya" saya baca.

Kalau ngomongin TBR, jangan ditanya jika buku-buku fisik dan buku-buku elektronik dikumpulkan mungkin dalam bentuk fisiknya ada satu rak setinggi dua kali tinggi badan saya, selebar rentangan tangan saya, dua bersaf buku. Mungkinkah saya membacanya dalam satu tahun tanpa menambahkannya? Rasanya tidak mungkin. Ketika ada buku baru yang saya tertarik pasti saya langsung membelinya walaupun kebanyakan disimpan. Ya, tapi tak apalah, saya sedang membuat dunia perpustakaan saya sendiri sebagai bekal untuk anak-anak saya kelak.

Terus apa yang kira-kira akan saya buat dalam review buku-buku yang saya baca? Berikut langkah-langkah versi saya sendiri.

Pertama ya pastinya membaca satu buku hingga tuntas tanpa lupa menandai bagian-bagian penting (quote) dari buku. Dulu saya selalu menandai buku fisik dengan melipat lipat ujung buku. Kok kayaknya sekarang saya rasa sayang ya buku dilipat-lipat. Kedepannya saya akan menggunakan post-it post-it pendek warna-warni yang akan menjadi penanda buku. Kalau untuk ebook pastilah memanfaatkan menu "Bookmark" dan "Highlight".

Kedua, setelah selesai membaca langsung dituangkan dalam blog dengan urutan (walau nggak baku):

  1. Judul Post Blog berisi tanda [Review Buku] untuk buku fisik Indonesia / terjemahan, atau [Review e-Book] untuk buku elektronik Indonesia / terjemahan, atau [Book Review] untuk buku fisik impor, atau [e-Book Review] untuk buku elektronik impor.
  2. Gambar Cover Buku (diambil dari goodreads) diikuti dengan Judul, Penulis, Penerbit, Tahun Terbit, Tebal buku, ISBN, Rating dari pribadi saya, Tanggal mulai baca, dan Tanggal selesai baca.
  3. Isi Review:


    • Memasukkan Quote dari prolog buku / bab 1,
    • Sedikit menjelaskan buku ini jenis buku apa, fiksi / non fiksi, dengan genre apa, dan target untuk siapa,
    • Memasukkan Quote dari bab awal buku,
    • Memberikan beberapa sinopsis singkat isi buku yang ada di awal-awal seperti pengenalan tokoh (siapa aja yang terlibat dalam buku) dan alur awal cerita,
    • Memasukkan Quote dari klimaks buku,
    • Memberikan sedikit alur yang membawa klimaks cerita,
    • Memasukkan Quote penutup buku,
    • Memberikan pertanyaan apa yang menjadi akhir buku dan yang menjadi anti klimaksnya,
    • Menceritakan pandangan pribadi tentang buku ini dilihat dari pemilihan tokoh, karakter tokoh, dan alur cerita,
    • Menceritakan beberapa pandangan singkat reviewer lain dari goodreads atau dari beberapa situs penjualan buku,
    • Menceritakan latar belakang kisah ini dari pandangan penulis dan penerbitnya (kalau ketemu),
    • Diselipkan beberapa gambar dari buku tersebut.


Ini siyh bukan struktur yang baku. Ini hanyalah panduan awal buat saya pribadi supaya punya ritme sendiri dalam mereview buku dan tidak terbengong-bengong saat mau mulai nulis di blog ini. Kalau ada update pasti diupdate juga. Saya juga terima beberapa masukan mengenai review buku ini. Berharap siyh tidak memberikan spoiler-spoiler buat pembacanya. Tapi sempat terpikir juga siyh membuat post yang memang isinya spoiler dan berpassword, yang ingin membacanya akan saya beri password. Tapi itu nanti dulu deh, yang ini aja belum mulai udah ada aja angan-angan lain. Hahaha.

Regards,














follow us in feedly

3.11.14

November 03, 2014

Saatnya Review Vendor Pernikahan SanWa (Part 2)

Melanjutkan post yang kemarin, saatnya saya membagi vendor-vendor saat resepsi saya. Maaf kalau agak panjang ya. Siapa tahu jadi inspirasi bagi yang akan menikah.

Resepsi

1.    Gedung: Gedung Puspa Pesona, Taman Anggrek Indonesia Permai, Taman Mini Indonesia Indah

Seperti pengalaman saya di post ini akhirnya kami menjalankan resepsi di Gedung Puspa Pesona, Taman Anggrek Indonesia Permai di daerah Taman Mini Indonesia Indah. Tapi jangan salah karena gedung ini tidak terletak didalam area TMII melainkan sepanjang jalan depan pintu 1 TMII. Gedung ini persis terletak di sebelah Tamini Square.



Menurut saya tempatnya strategis untuk orang-orang yang kebanyakan tinggal di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Cibubur, hingga Cibinong tapi memang kalau malam minggu macetnya itu tak tertahankan padahal jarak macetnya pendek banget. Mungkin karena jalanan setelah pintu tolnya kecil dan setiap mobil mengarah ke TMII yang membuat macet.



2.11.14

November 02, 2014

Saatnya Review Vendor Pernikahan SanWa (Part 1)

Inilah saatnya kita review beberapa vendor yang saya pakai untuk pernikahan Saya dan suami. Saya bagi jadi dua ronde ya, pertama pemberkatan dan kedua resepsi. Untuk post kali ini saya me-review vendor-vendor pada pemberkatan saya dulu.


Pemberkatan

1.   Gereja: GBII Agaphe, Pasar Rebo

Saya pribadi sebenarnya tidak satu keanggotaan gereja dengan Mamas. Saya menjadi anggota di GPIB Filadelfia Bintaro. Sejak memutuskan akan menjadi istri mamas, sudah otomatis saya akan ikut keanggotaan di geraja Mamas. Tidak hanya itu, orang tua mamas pun meminta agar kami dinikahkan di gereja tempat keanggotaan mamas.



img_3121

About

authorHello, my name is Sandrine. I'm a working mom who loves to read and wander.
Learn More →



Total Tayangan Halaman