27.6.14

Juni 27, 2014

Commuter oh Commuter

Kekejaman dunia perkeretaapian kurasa makin menggila. Sedang tidak membahas kekejaman dalam organisasinya (karena nggak tau juga dalamnya seperti apa 😝) tapi membahas pengguna moda yang termurah di jabodetabek ini. Sudah yang kesekian kalinya aku menuliskan hal ini, tapi selalu saja belum dapat menerimanya, selalu geleng-geleng kepala, dan tak jarang jadi pusing dibuatnya *lebay ga sih*.



Bagaimana tidak?! Aku menemukan beragam pola tingkah manusia (bahkan mungkin pola tingkahku sendiri) saat menghadapi moda ini. Setiap hari kejadian yang serupa terjadi tapi tersaji dengan berbeda dan terkadang unik. Apa sajakah itu? Ingin sedikit membagikan beberapa yang kuingat.



[instagram url=http://instagram.com/p/mXdnqoxoAq/?modal=true]



Pertama, kejadian ini terjadi baru kemarin. Aku seperti biasa naik CL dari UI Depok menuju Cikini pukul 6 sore. Pastinya aku tidak mendapat tempat duduk. Berdiri pada jam-jam seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Daripada bengong mendingan mainan Instagram dan blogwalking di tengah-tengah perjalanan. Sedang asyik-asyiknya menelusuri layar iPad (hal tersulit yg ku lakukan selama berdiri di kereta adalah membaca iPad yang jarang ku praktekan takut jatoh), ada yang berteriak, "Aduh Ibu!!!" dengan kencangnya. Spontan aku nengok kearah suara itu. Selidik punya selidik ternyata yang berteriak tersebut tidak jadi turun gara-gara ada ibu yang tiba-tiba naik ke gerbong sesaat sebelum pintu ditutup. Lucunya ibu yang naik itu nyelonong pergi tanpa kata disaat wanita yang berteriak tersebut terus ngedumel. Tidak tahu siapa yang salah dan tidak mau tahu juga, tapi ya ada yang seperti itu.



Kedua, ini adalah pengalaman ku sendiri hari Kamis yang lalu. Saat itu pulang kuliah yang kuharapkan adalah sampai dirumah dengan segera. Tapi ternyata aku harus menghadapi kenyataan kereta Manggarai - Tanah Abang datang sangat terlambat. Aku baru naik kereta tersebut jam 10 malam dari manggarai. Sesampainya di Tanah Abang penumpang sangat banyak imbas keterlambatan kereta sebelumnya. Awalnya, aku sudah waswas tidak dapat tempat duduk, tapi akhirnya dapat juga di gebong campur (yakinlah sudah tidak ada tempat di gerbong wanita pastinya).



Sudah setengah jalan aku tiba-tiba merasa mengantuk sehingga aku memutuskan memasukkan HP ku kedalam tas dan menutup mata sejenak dengan asumsi aku tidak akan kebablasan dan yakin distasiun berikutnya pun sudah akan terbangun. Tapi kenyataannya TIDAK! Aku kebablasan sodara-sodara!!! *pengumuman :(* Itupun tersadar karena tetanggaku berdiri, kaget melihat tetangga sebelah satunya lagi berubah orang dan melihat ke luar jendela kereta pas tiba di stasiun Rawa Buntu. Shock, aku kebat-kebit, ikut turun dari kereta takut kebawa ke stasiun berikutnya dan berharap ada kereta balik di jam yang sebenarnya sudah tidak ada kereta balik. Mau ga mau aku harus menaiki moda berpenumpang satu. Modal jadi lebih banyak cingggg... Padahal sebelumnya pacarku menyarankan ku naik taksi saja waktu aku masih menunggu kereta di manggarai agar tidak terlalu malam. Hmmm tau gitu aku ikuti sarannya saja daripada udah pulang hampir tengah malam malah naik taksi pula.



[instagram url=http://instagram.com/p/peLd-BxoFV/?modal=true]



Ketiga, ini terjadi sudah berminggu-minggu yang lalu. Saat itu hari Minggu siang menjelang sore aku perlu pergi kerumah pacar di daerah Pasar Rebo. Kereta Sudimara - Tanah Abang begitu lengang. Setibanya di Tanah Abang sesuai dugaan sebelumnya, saat kereta baru saja memasuki peron, aku sudah melihat penumpang-penumpang diluar berdesakkan. Kebayang lah ya. Aku yang menaiki gerbong wanita sudah bersiap-siap mengambil tempat di pojokan pintu keluar sehingga tidak terdorong arus dari belakang dan dari depan yang akan mengakibatkan susah turun. Ketika pintu terbuka aku "mempersilahkan" semua penumpang naik dan turun dahulu di pintu tempat aku menunggu. Menariknya saat aku melihat wanita-wanita berebutan untuk naik dan berlari menuju kursi-kursi kosong, suara orang marah membahana di gerbong, spontan saya nengok. Ternyata ada ibu-ibu bawa bayi lagi rebutan kursi sama wanita muda. Karena kursinya direbut si wanita muda yang ga mau kalah, spontan ibu-ibu itu marah-marah. Sesudah itu aku tidak mendengar lagi kelanjutannya karena harus buru-buru turun berganti ke kereta yang lain.



Keempat, yang ini aku alami sendiri. Memang sudah agak lama kira-kira 3 bulan yang lalu. Kejadiannya masih di stasiun Tanah Abang saat aku mau turun kereta. Saat itu aku belum punya siasat turun yang benar di Tanah Abang saat jam penuh. FYI, waktu itu aku pergi hari Sabtu--pasti mengerti maksudku. Jadilah sambil menunggu kereta berhenti aku berdiri tepat ditengah-tengah pintu dan paling depan pula siap menghadapi massa yang akan naik didepanku. Baru saja pintu dibuka dan kata-kata permisi siap ku lontarkan eh aku didorong dengan brutalnya dari belakang. Aku spontan kaget nyaris jatoh didepan massa *kalo beneran jatoh tuh kayak orang lagi crowdsurfing dari atas panggung ke penontonnya* tapi untungnya berhasil memijak tanah dan keluar dari kerumunan massa didepanku. Tapi aku tak suka didorong seperti itu, spontan aku marah sama ibu-ibu dibelakangku. Begini kira-kira percakapannya.



A (aku): Jangan dorong-dorong dong bu!
I (ibu2): Didorong belakangnya neng!
A: Ga mungkin bu, orang tangan ibu menggantung diudara terlihat habis dorong saya kok!
I: Abis kalo ga saya dorong, ga turun kita.
A: Tapi cara dorongnya ga begitu juga. Ibu juga ga bakal didorong brutal kayak gitu!! (dalam hati: tuh bener dia kan yang dorong)
I: *nyelonong pergi*



Well, well, well. Aku hanya bisa kesel dibuatnya dan berharap ga lagi-lagi lewat Tanah Abang di hari Sabtu bahkan Minggu. Mendingan naik bus kalau begitu.



Sepenggal kisah-kisah tersebut pasti pernah dialami beberapa orang bahkan mungkin termasuk anda yang membaca kisah ini. Dunia perkeretaapian kita sungguh 'kejam' jika aku boleh meminjam istilah itu. Entah mengapa, semakin hari semakin 'kejam' dan penuhhhh... prahara serta derita!!! Tarif yang murah mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Tapi attitude yang individualistis lah yang memperparahnya.



Bagaimana menurut pendapatmu?



Regards,



sans sign

10.6.14

Juni 10, 2014

In Love with Siloso Beach Resort

Pada Jumat, 21 Februari 2014 sekitar pukul 2 waktu Singapura, saya dan adik sampai di hotel bernama Siloso Beach Resort di Pulau Sentosa. Sesungguhnya saya bertanya-tanya ketika sampai, mengapa saya dan adik saya ditempatkan ditempat ini? Tapi mari simak ulasan saya dibawah ini. Pastinya akan menemukan hal tak terduga.
On Friday, 21st February 2014, at 2pm Singapore time, me and my sister arrived at Siloso Beach Resort as our hotel during our stay in Sentosa Island. At first, a lot of questions came into my head, why us who stayed in this place? But, let's read my review below. You'll find unexpected things.


Ketika pertama kali masuk lobby hotel ini tidak seperti bayangan hotel pada umumnya. Terlihat lobbynya kecil, suasananya sepi, sangat coklat, dan dikelilingi hutan yang pastinya sarat pepohonan. Bahkan resepsionisnya hanya ada satu, ditemani satu bell boy. Awalnya agak nggak meyakinkan ga siyh? Tapi, percaya tidak percaya saya merasa homy saat itu.
When I stepped first time at the lobby, it didn't look the same as usual hotel lobby. It was small, silence, chocolate lobby, surrounded with forest which  full of trees. Even there was only one receptionist and one bell boy. Wasn't it looked uninterested? But, believe it or not, I felt homy back there.


About

authorHello, my name is Sandrine. I'm a working mom who loves to read and wander.
Learn More →



Total Tayangan Halaman