20.11.14

November 20, 2014

Jalan-jalan ke Hong Kong-Shenzhen-Macau - Hari 2

Masuk di hari kedua perjalanan bulan madu kami. Kalau mengikuti draft itinerary kami, hari kedua ini diisi dengan mengunjugi Ngo Ping di setengah hari pertama lalu di lanjutkan ke Disneyland di setengah hari sisanya. Tapi apa daya, kami terlalu terlena dengan kamar luas L'hotel Elan ini sehingga kami baru bangun pukul 8 pagi. Tidak terlalu bersalah banget siyh karena artinya di Jakarta baru pukul 7 pagi. Lagian kita lagi liburan kan ya. :D

Karena bangunnya tidak pagi lagi, ditambah kami menghabiskan waktu siap-siap yang sangggaaattttt lama, kami baru turun breakfast pukul 09.30. Ini menyebabkan jadwal kembali mundur. Saat resto breakfast tutup 10.30 kami baru beranjak naik lagi ke kamar untuk siap-siap melancong. Sampai kamar kami teringat bahwa kami butuh menukar HKD terlebih dahulu. Karena kami tidak ingin menukar dengan rate yang tidak bagus, kami langsung mengontak teman kami yang sedang tinggal dan bekerja di Hong Kong. Sekalian ingin bertemu akhirnya kami merombak itinerary hari kedua kami. Jadwal hari ke-2 kami hanya akan diisi dengan pertemuan dengan teman kami lalu dilanjutkan dengan menghabiskan hari di Disneyland.

16.11.14

November 16, 2014

Jalan-jalan ke Hong Kong-Shenzhen-Macau - Hari 1

Senin, 23 Agustus 2014, saya dan suami terbangun pukul 4 pagi dan mulai bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Sebenarnya pagi itu kami sedikit was-was karena kami tidak punya sama sekali e-ticket penerbangan dalam bentuk kertas. Semalaman kami coba print tapi tidak berhasil dan tidak sempat lagi print keluar. Kami memang teledor sampai H-10 jam keberangkatan kami lupa bahwa dokumen-dokumen perjalanan selain paspor belum dalam bentuk fisik. Kami saja baru beli koper H-12 jam keberangkatan dan baru packing H-8 keberangkatan. Bagi saya ini siyh keteteran pasti pas keberangkatan ada aja yang lupa. Terbukti saya lupa bawa obat :D



Jadwal take-off kami pukul setengah 9 pagi. Jadilah kami perlu sampai di bandara agar lebih aman maksimum pukul 7 pagi. Kami memang sudah melakukan check-in online tapi karena membawa bagasi dan juga boarding pass tidak bisa dicetak jadilah kami harus berangkat pagi. Target kami berangkat jam 5 pagi. Tapi nyatanya dengan santai kami baru berangkat jam 6 dan diantar mertua saya. Kami baru sadar bahwa itu hari senin. Apalagi setelah tol baru ke bandara dibuka, tol simatupang semakin hari semakin macet karena dipenuhi truk-truk hasil pengalihan. Kami benar-benar tidak memperhitungkan hal ini. Gara-gara macet ini juga saya tidak merasa pusing ketika makan dimobil sangking saya sudah senewen dan bercampur lapar.



Jam setengah 8 teng kami sampai di terminal 3 dan aman, kami masih bisa drop baggage dan print boarding pass. Tanpa tiket fisikpun bisa lewat pintu keberangkatan. Yang penting ada yang bisa membuktikan kita akan berangkat. Saya ya pakai ipad saja. Jam 8 kami siap boarding dan setengah 9 take off. Berhubung kami pakai tiket promo pastilah bukan direct flight. Kami harus transit di Kuala Lumpur. Dua jam perjalanan sampai ke KLIA 2 tidak begitu berasa karena kami sibuk makan. Makanan dari maskapai Air Asia itu enak juga ternyata dan tidak terlalu mahal asalkan kita harus pre-order saat kita book tiket. Saya memesankan kami makanan untuk seluruh penerbangan kami. Untuk ke KL ini saya memesan Nasi Goreng untuk mamas dan Nasi Lemak untuk saya.



Sesampainya kami di Kuala Lumpur kami berdua sempat kebingungan, pasalnya ini pertama kalinya kami menggunakan sistem transit. Kami kebingungan apakah perlu ambil bagasi dulu atau bagaimana. Akhirnya modal nekat mengikuti petunjuk yang ada di e-ticket kami langsung check-in di loket transit dan ternyata kami tidak perlu memikirkan bagasi kami. Bagasi akan langsung ditransfer ke penerbangan kami selanjutnya. Maafkan keudikan kami ya :D



[gallery type="thumbnails" ids="3410,3411,3413,3414,3415,3416"]

Baru kali itu kami, saya terkhususnya, menginjakkan kaki dibandara baru Kuala Lumpur yaitu KLIA II. Bandaranya cozy tapi memang tidak banyak yang dilihat disana menurut saya. Koridor menuju boarding gate juga agak monoton dan cenderung sepi, saya kurang suka. Tidak seperti Chan*i #ya iyalah#. Mungkin karena waktu itu bandaranya masih dalam proses perampungan sebelum grand opening kali ya. Tapi paling nggak, waktu kami sampai pas lagi ada rumah kebalik yang bisa kami pakai foto-foto :D.



Setelah dua jam transit kami kembali memasuki pesawat, take off menuju Hong Kong. Bagian ini niyh saya excited campur nervous, karena saya belum pernah berada dalam pesawat diatas dua jam. Duh, tegangnya bukan maiiiinnn. Mana selama perjalanan ke Hong Kong itu kurang mulus sama sekali, turbulance melulu. Hanya makan dan tidur yang menghibur. Untuk penerbangan ini saya dan mamas memesan jenis makanan yang sama yaitu Roast Chicken. Akhirnya, jam setengah 6 waktu hong Kong kami mendarat di Terminal II, Hong Kong International Airport. Yeayyy!!!!



Kesan pertama melihat HKIA, hmmmm sangat kaku dan gelap. Terlalu monoton. Kembali saya tidak suka suasananya. Udah gitu disisi sebelahnya ada bukit-bukit tinggi. Ditambah lagi untuk menuju terminal kedatangan cukup jauh, perlu menggunakan bus yang saat itu antrinnnnyyyyyaaaa nggak ketulungan karena banyak pesawat yang sehabis mendarat. Paling tidak yang menariknya adalah sangat tertib dan ada penjaganya sebelum naik bus kayak naik bus di halte trans jakarta itu. Nggak ada dorong-dorongan. Tapi sensasi sebelum mendarat itu loh, keren!! Karena HKIA seperti mengapung diatas air kayak bandara-bandara pesawat angkatan udara nya AS itu loh.



[gallery type="circle" ids="3417,3418,3419,3420,3421"]

Sampai terminal kedatangan kami langsung menuju tempat pengambilan bagasi. Tidak perlu waktu lama kami menunggu bagasi kami. Sebelum kami keluar area, ada salah satu corner informasi jika kita butuh informasi mengenai transportasi dan tempat-tempat wisata di Hong Kong. Langsung saja saya bertanya bagaimana meraih hotel kami. Mereka memberi petunjuk dengan lugasnya dan langsung menyarankan kami membuat octopus card untuk memudahkan transportasi kami.



Octopus card merupakan kartu serba guna seperti Flazz BCA atau sejenisnya yang dipakai untuk alat pembayaran di moda transportasi dan juga alat belanja. Sebenarnya ada paket octopus card + kereta express ke Hong Kong kota. Tapi setelah kami hitung biaya yang cukup tinggi dan waktu yang tidak terlalu jauh berbeda, kami tidak membeli paket itu dan memutuskan naik Cityflyer Airport Bus ke hotel sekalian ingin melihat pemandangan sekitar. Sekadar informasi berkeliling di Hong Kong untuk transportasi umumnya bisa menggunakan MTR, Citybus, atau Taxi. Silahkan klik masing-masing link untuk detailnya. Saya sendiri menyarankan naik MTR didalam kota untuk menghemat waktu karena tidak lama menunggu MTR nya. Tapi beberapa MTR yang juga jadi percabangan suka agak tricky sehingga terasa lebih lama daripada naik bus. Kalau lagi nggak macet naik bus di Hong Kong juga cepat.



[caption id="" align="aligncenter" width="1072"] MTR Route[/caption]

Pilihan kami tepat karena akhirrrnnnyyyyaaaa saya naik bus tingkat. Yeayyy!!!! (ketahuan udiknya). Busnya juga nyaman, bersih, dan dingin, serta aman. Koper kami taruh ditempat koper dibawah dan kami duduk di lantai dua. Koper dapat dipantau dari TV, karena didepan koper, ditaruh CCTV. Walau kami excited tetap kami harus jaga-jaga jangan sampai kami kelewatan turun.



[gallery type="rectangular" ids="3424,3396,3423,3425"]

Perjalanan menggunakan bus nomor 22 menuju shelter yang kami tuju, yaitu shelter MTR Ngau Tau Kok, memang lumayan lama sekitar 2 jam. Setelah turun halte kami masih kebingungan bagaimana meraih hotel kami. Kami merasa seperti orang tersasar pasalnya sekeliling kami terdiri dari gedung-gedung perkantoran bertingkat tidak seperti kawasan ramai wisatawan yang seperti kami lihat di TV. Bahkan kami sempat memasuki area perkantoran dan diliatin orang-orang karena kami bawa koper-koper besar di hari Senin. Wajar saja karena hotel yang kami pilih itu memang dikawasan "Industri" menurut reviewnya. Setelah jalan sana-sini menggeret koper dan bertanya akhirnya sampai juga. Sampai pintu depan hotel kami takjub, kerennn bangeettt. Untuk urusan hotel ini akan saya review terpisah saja ya, biar lebih afdol :D



Karena sampai hotel sudah kurang lebih jam setengah 9 malam, kami tidak berniat kemana-mana seperti draft itinerary kami. Kami hanya mau pergi cari makan lalu balik ke kamar hotel. Makanan pun hanya kami beli di Mc'D yang kami lewati saat mengarah ke hotel. Habis itu kami pelukan dan bobo deh... Hehehe... Ya, hanya seperti inilah kisah hari pertama kami.



Regards,



sans sign

12.11.14

November 12, 2014

Review Buku-buku SanWa

Halo, sedikit intermezo singkat ya.
(Ini adalah sticky post, post terbaru ada dibawah ya)



SanWa mulai masuk ke dunia review buku-buku yang menjadi koleksi SanWa.



Klik gambar berikut untuk masuk ke Perpustakaan SanWa.



[caption id="attachment_2937" align="aligncenter" width="800"]Perpustakaan SanWa | SanWa Library Perpustakaan SanWa | SanWa Library[/caption]

11.11.14

November 11, 2014

[Review] The Land of Stories (1)







Judul: The Land of Stories - The Wishing Spell
Penulis: Chris Colfer
Penerbit: Little, Brown and Company (Hachette Book Group, Inc.)
Tahun Terbit: 2012 [July 2013, 2nd Edition]
Tebal Buku:
ISBN: 031620157X [ISBN13: 9780316201575]
Rating SanWa:
Tanggal Mulai: 14 Oktober 2014
Tanggal Selesai: 28 Oktober 2014




"I will tell you about my past, or at least the past of someone I once was," the Evil Queen said. "But consider yourself warned. My Story is not one that ends with a happily-ever-after."



Bagi penyuka dongeng atau yang sering dikenal dengan nama "Fairy Tales" direkomendasikan untuk membaca buku ini. The Land of Stories karangan Chris Colfer merupakan perluasan dari dongeng-dongeng yang sudah kita kenal. Kita akan dibawa hanyut dengan kisah dongeng klasik yang sudah kita kenal sejak kecil. Buku ini ada untuk semua kalangan. Aman untuk anak-anak, menyenangkan untuk remaja, serta membawa memori untuk orang-orang dewasa. Buku ini termasuk buku Fantasi untuk Children. The Wishing Spell merupakan buku pertama dari trilogi The Land of Stories.



She returned carrying a large, old book with a dark emerald cover titled The Land of Stories in gold writing. Alex and Conner knew what the book was as soon as they saw it. If their childhood could be symbolized by an object, it was this book.



Buku The Land of Stories - The Wishing Spell menceritakan tentang perjalanan fantasi sepasang kembar bernama Alex dan Conner. Walaupun kembar, Alex dan Conner mempunyai perangai yang berkebalikan. Alex sangat tertutup dengan dunianya dan sangat menyukai dongeng. Sedangkan Conner berperangai sangat supel dan berpikir logis, serta suka tertidur dikelas sastra. Tapi mereka punya kesamaan yang sama yaitu perasaan sedih ditinggal mati ayahnya diusia yang terbilang dini dan harus ditinggal ibunya kerja yang tak kenal waktu demi menghidupi kebutuhan keluarga mereka.

Suatu saat, pada ulang tahun mereka yang ke-duabelas, nenek mereka menghadiahi suatu hadiah yang sangat dekat dengan kehidupan masa kecil mereka bersama mendiang ayah mereka. Hadiah itu adalah buku dengan judul "The Land of Stories". Buku ini yang membuat Alex dan Conner jatuh cinta dengan dunia dongeng. Walaupun begitu hanya Alex yang tetap menyukai dunia dongeng setelah ayah mereka meninggal. Tapi mereka tak menyangka bahwa buku itu menyedot mereka ke dunia yang berbeda dari dunia yang mereka tinggali. Dunia yang penuh dengan magic dan penuh dengan tokoh-tokoh dongeng yang dekat dengan mereka sejak kecil melalui buku.



"Have either of you ever heard of the Wishing Spell?" Froggy asked the twins.



Kebingungan mencari jalan keluar, seorang manusia kodok memberitahukan satu jalan keluar untuk mereka dapat kembali ke dunia mereka sendiri. Mereka perlu mencari benda-benda untuk menghidupkan mantra the Wishing Spell seperti yang ditunjukkan oleh seseorang dalam jurnal pribadinya. Pencarian The Wishing Spell sebelumnya telah dilakukan oleh salah satu orang di dalam dunia buku "The Land of Stories" untuk sampai ke dunia dimana Alex dan Conner tinggal.



"I know this may not make any sense, but thank you for always being there for me," Alex said. "You're the best friends I've ever had."



Pertemuan pertama Alex dan Conner dengan manusia kodok membawa mereka kedalam petualangan-petualangan fantasi yang mencengangkan mereka. Dunia baru yang sering mereka temukan dalam buku dapat mereka alami sendiri. Petualangan itupun membuka rahasia yang sangat mengagetkan sepasang kembar ini. Penasaran? Buku ini dapat dicari di toko-toko buku import ataupun dalam bentuk ebook.

Saya pribadi terkesan dengan buku ini. Saya--bahkan kita--terlalu mengenal dongeng seperti Snow White. Saya tidak menyangka bahwa Chris Colfer mampu membawa kisah Snow White lebih jauh sehingga kita seperti membaca kisah lanjutannya beserta dengan kisah-kisah dongeng klasik lainnya seperti Cinderella, Sleeping Beauty, dan lainnya. Tokoh-tokoh yang dihadirkan mampu menggambarkan bahwa kita sendiri seakan berinteraksi langsung dengan mereka padahal buku ini tidak diceritakan dari pola pandang orang pertama. Pemilihan karakter baru pun digambarkan dengan baik dan terkoneksi antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.

Dua review saya kutip dari halaman buku ini di amazon:






















Review terhadap buku ini bermacam-macam, itupun dikarenakan selera masing-masing orang. Tapi saya termasuk yang merekomendasikan buku ini. Buku ini sudah menjadi New York Time Bestselling Book sejak tahun 2012--sejak pertama terbitnya. Chris Colfer sendiri adalah seorang aktor yang pernah memenangkan Golden Globe melalui serial TV yang terkenal yaitu Glee. Ia mengaku bahwa buku ini sudah dimulai dibuatnya sejak ia kecil. Siapa sangka buku bagus lahir dari seorang aktor terkenal. Pasalnya ada kabar beredar bahwa ada rencana buku ini akan dijadikan dalam bentuk layar lebar. Wah kita tunggu saja kabar berikutnya.





Regards,











November 11, 2014

[Review] The Land of Stories (1)







Judul: The Land of Stories - The Wishing Spell
Penulis: Chris Colfer
Penerbit: Little, Brown and Company (Hachette Book Group, Inc.)
Tahun Terbit: 2012 [July 2013, 2nd Edition]
Tebal Buku:
ISBN: 031620157X [ISBN13: 9780316201575]
Rating SanWa:
Tanggal Mulai: 14 Oktober 2014
Tanggal Selesai: 28 Oktober 2014




"I will tell you about my past, or at least the past of someone I once was," the Evil Queen said. "But consider yourself warned. My Story is not one that ends with a happily-ever-after."



Bagi penyuka dongeng atau yang sering dikenal dengan nama "Fairy Tales" direkomendasikan untuk membaca buku ini. The Land of Stories karangan Chris Colfer merupakan perluasan dari dongeng-dongeng yang sudah kita kenal. Kita akan dibawa hanyut dengan kisah dongeng klasik yang sudah kita kenal sejak kecil. Buku ini ada untuk semua kalangan. Aman untuk anak-anak, menyenangkan untuk remaja, serta membawa memori untuk orang-orang dewasa. Buku ini termasuk buku Fantasi untuk Children. The Wishing Spell merupakan buku pertama dari trilogi The Land of Stories.



She returned carrying a large, old book with a dark emerald cover titled The Land of Stories in gold writing. Alex and Conner knew what the book was as soon as they saw it. If their childhood could be symbolized by an object, it was this book.



Buku The Land of Stories - The Wishing Spell menceritakan tentang perjalanan fantasi sepasang kembar bernama Alex dan Conner. Walaupun kembar, Alex dan Conner mempunyai perangai yang berkebalikan. Alex sangat tertutup dengan dunianya dan sangat menyukai dongeng. Sedangkan Conner berperangai sangat supel dan berpikir logis, serta suka tertidur dikelas sastra. Tapi mereka punya kesamaan yang sama yaitu perasaan sedih ditinggal mati ayahnya diusia yang terbilang dini dan harus ditinggal ibunya kerja yang tak kenal waktu demi menghidupi kebutuhan keluarga mereka.

Suatu saat, pada ulang tahun mereka yang ke-duabelas, nenek mereka menghadiahi suatu hadiah yang sangat dekat dengan kehidupan masa kecil mereka bersama mendiang ayah mereka. Hadiah itu adalah buku dengan judul "The Land of Stories". Buku ini yang membuat Alex dan Conner jatuh cinta dengan dunia dongeng. Walaupun begitu hanya Alex yang tetap menyukai dunia dongeng setelah ayah mereka meninggal. Tapi mereka tak menyangka bahwa buku itu menyedot mereka ke dunia yang berbeda dari dunia yang mereka tinggali. Dunia yang penuh dengan magic dan penuh dengan tokoh-tokoh dongeng yang dekat dengan mereka sejak kecil melalui buku.



"Have either of you ever heard of the Wishing Spell?" Froggy asked the twins.



Kebingungan mencari jalan keluar, seorang manusia kodok memberitahukan satu jalan keluar untuk mereka dapat kembali ke dunia mereka sendiri. Mereka perlu mencari benda-benda untuk menghidupkan mantra the Wishing Spell seperti yang ditunjukkan oleh seseorang dalam jurnal pribadinya. Pencarian The Wishing Spell sebelumnya telah dilakukan oleh salah satu orang di dalam dunia buku "The Land of Stories" untuk sampai ke dunia dimana Alex dan Conner tinggal.



"I know this may not make any sense, but thank you for always being there for me," Alex said. "You're the best friends I've ever had."



Pertemuan pertama Alex dan Conner dengan manusia kodok membawa mereka kedalam petualangan-petualangan fantasi yang mencengangkan mereka. Dunia baru yang sering mereka temukan dalam buku dapat mereka alami sendiri. Petualangan itupun membuka rahasia yang sangat mengagetkan sepasang kembar ini. Penasaran? Buku ini dapat dicari di toko-toko buku import ataupun dalam bentuk ebook.

Saya pribadi terkesan dengan buku ini. Saya--bahkan kita--terlalu mengenal dongeng seperti Snow White. Saya tidak menyangka bahwa Chris Colfer mampu membawa kisah Snow White lebih jauh sehingga kita seperti membaca kisah lanjutannya beserta dengan kisah-kisah dongeng klasik lainnya seperti Cinderella, Sleeping Beauty, dan lainnya. Tokoh-tokoh yang dihadirkan mampu menggambarkan bahwa kita sendiri seakan berinteraksi langsung dengan mereka padahal buku ini tidak diceritakan dari pola pandang orang pertama. Pemilihan karakter baru pun digambarkan dengan baik dan terkoneksi antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.

Dua review saya kutip dari halaman buku ini di amazon:






















Review terhadap buku ini bermacam-macam, itupun dikarenakan selera masing-masing orang. Tapi saya termasuk yang merekomendasikan buku ini. Buku ini sudah menjadi New York Time Bestselling Book sejak tahun 2012--sejak pertama terbitnya. Chris Colfer sendiri adalah seorang aktor yang pernah memenangkan Golden Globe melalui serial TV yang terkenal yaitu Glee. Ia mengaku bahwa buku ini sudah dimulai dibuatnya sejak ia kecil. Siapa sangka buku bagus lahir dari seorang aktor terkenal. Pasalnya ada kabar beredar bahwa ada rencana buku ini akan dijadikan dalam bentuk layar lebar. Wah kita tunggu saja kabar berikutnya.





Regards,











9.11.14

November 09, 2014

Jalan-jalan ke Hong Kong - Persiapan

Kalau sudah mulai ngomongin perihal jalan-jalan pasti saya semangattttt pakai banget, tapi kalau disuruh menuangkan hasil jalan-jalan saya sendiri kok ya agak kesusahan entah mengapa. Okelah, saya mulai aja post kali ini dengan hasil perjalanan saya dua bulan lalu alias perjalanan honeymoon yippie :D

Mempersiapkan pernikahan pastilah yang saya pikirin pertama Honeymoon. Maklum otak ini isinya jalan-jalan melulu, tapi jarang terealisasi, hehehehe. Bahkan kalau perlu saya menikah tamasya aja, lumayan kan duitnya buat trip yang panjang. :D

Awalnya wacana pergi ke Hong Kong ini hanya angan-angan karena melihat kenyataan sedang tidak ada promo dengan waktu book yang cukup mepet. Sehingga mamas memutuskan mempergunakan tiket ke Phuket yang sudah kita beli hampir setahun sebelumnya, sebelum kita merencanakan untuk menikah, sebagai honeymoon walaupun dilakukan satu bulan setelah pernikahan.

4.11.14

November 04, 2014

Kiat Mereview Buku





Sesungguhnya post ini ada bukan karena saya telah mereview banyak buku. Post ini ada untuk menjadi pengingat bagi saya bagaimana saya akan mengulas buku-buku yang telah saya baca sendiri. Saya sedang mencoba memasuki ranah ini. Saya sedang kilas balik ke diri saya beberapa tahun yang silam yang sangat suka membaca namun hampir pudar di makan waktu. Sekarang saatnya saya bangkit melihat dunia melalui rangkaian kata dan ingin membagikan pandangan pribadi saya atas buku-buku yang "sebisanya" saya baca.

Kalau ngomongin TBR, jangan ditanya jika buku-buku fisik dan buku-buku elektronik dikumpulkan mungkin dalam bentuk fisiknya ada satu rak setinggi dua kali tinggi badan saya, selebar rentangan tangan saya, dua bersaf buku. Mungkinkah saya membacanya dalam satu tahun tanpa menambahkannya? Rasanya tidak mungkin. Ketika ada buku baru yang saya tertarik pasti saya langsung membelinya walaupun kebanyakan disimpan. Ya, tapi tak apalah, saya sedang membuat dunia perpustakaan saya sendiri sebagai bekal untuk anak-anak saya kelak.

Terus apa yang kira-kira akan saya buat dalam review buku-buku yang saya baca? Berikut langkah-langkah versi saya sendiri.

Pertama ya pastinya membaca satu buku hingga tuntas tanpa lupa menandai bagian-bagian penting (quote) dari buku. Dulu saya selalu menandai buku fisik dengan melipat lipat ujung buku. Kok kayaknya sekarang saya rasa sayang ya buku dilipat-lipat. Kedepannya saya akan menggunakan post-it post-it pendek warna-warni yang akan menjadi penanda buku. Kalau untuk ebook pastilah memanfaatkan menu "Bookmark" dan "Highlight".

Kedua, setelah selesai membaca langsung dituangkan dalam blog dengan urutan (walau nggak baku):

  1. Judul Post Blog berisi tanda [Review Buku] untuk buku fisik Indonesia / terjemahan, atau [Review e-Book] untuk buku elektronik Indonesia / terjemahan, atau [Book Review] untuk buku fisik impor, atau [e-Book Review] untuk buku elektronik impor.
  2. Gambar Cover Buku (diambil dari goodreads) diikuti dengan Judul, Penulis, Penerbit, Tahun Terbit, Tebal buku, ISBN, Rating dari pribadi saya, Tanggal mulai baca, dan Tanggal selesai baca.
  3. Isi Review:


    • Memasukkan Quote dari prolog buku / bab 1,
    • Sedikit menjelaskan buku ini jenis buku apa, fiksi / non fiksi, dengan genre apa, dan target untuk siapa,
    • Memasukkan Quote dari bab awal buku,
    • Memberikan beberapa sinopsis singkat isi buku yang ada di awal-awal seperti pengenalan tokoh (siapa aja yang terlibat dalam buku) dan alur awal cerita,
    • Memasukkan Quote dari klimaks buku,
    • Memberikan sedikit alur yang membawa klimaks cerita,
    • Memasukkan Quote penutup buku,
    • Memberikan pertanyaan apa yang menjadi akhir buku dan yang menjadi anti klimaksnya,
    • Menceritakan pandangan pribadi tentang buku ini dilihat dari pemilihan tokoh, karakter tokoh, dan alur cerita,
    • Menceritakan beberapa pandangan singkat reviewer lain dari goodreads atau dari beberapa situs penjualan buku,
    • Menceritakan latar belakang kisah ini dari pandangan penulis dan penerbitnya (kalau ketemu),
    • Diselipkan beberapa gambar dari buku tersebut.


Ini siyh bukan struktur yang baku. Ini hanyalah panduan awal buat saya pribadi supaya punya ritme sendiri dalam mereview buku dan tidak terbengong-bengong saat mau mulai nulis di blog ini. Kalau ada update pasti diupdate juga. Saya juga terima beberapa masukan mengenai review buku ini. Berharap siyh tidak memberikan spoiler-spoiler buat pembacanya. Tapi sempat terpikir juga siyh membuat post yang memang isinya spoiler dan berpassword, yang ingin membacanya akan saya beri password. Tapi itu nanti dulu deh, yang ini aja belum mulai udah ada aja angan-angan lain. Hahaha.

Regards,














follow us in feedly

3.11.14

November 03, 2014

Saatnya Review Vendor Pernikahan SanWa (Part 2)

Melanjutkan post yang kemarin, saatnya saya membagi vendor-vendor saat resepsi saya. Maaf kalau agak panjang ya. Siapa tahu jadi inspirasi bagi yang akan menikah.

Resepsi

1.    Gedung: Gedung Puspa Pesona, Taman Anggrek Indonesia Permai, Taman Mini Indonesia Indah

Seperti pengalaman saya di post ini akhirnya kami menjalankan resepsi di Gedung Puspa Pesona, Taman Anggrek Indonesia Permai di daerah Taman Mini Indonesia Indah. Tapi jangan salah karena gedung ini tidak terletak didalam area TMII melainkan sepanjang jalan depan pintu 1 TMII. Gedung ini persis terletak di sebelah Tamini Square.



Menurut saya tempatnya strategis untuk orang-orang yang kebanyakan tinggal di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Cibubur, hingga Cibinong tapi memang kalau malam minggu macetnya itu tak tertahankan padahal jarak macetnya pendek banget. Mungkin karena jalanan setelah pintu tolnya kecil dan setiap mobil mengarah ke TMII yang membuat macet.



2.11.14

November 02, 2014

Saatnya Review Vendor Pernikahan SanWa (Part 1)

Inilah saatnya kita review beberapa vendor yang saya pakai untuk pernikahan Saya dan suami. Saya bagi jadi dua ronde ya, pertama pemberkatan dan kedua resepsi. Untuk post kali ini saya me-review vendor-vendor pada pemberkatan saya dulu.


Pemberkatan

1.   Gereja: GBII Agaphe, Pasar Rebo

Saya pribadi sebenarnya tidak satu keanggotaan gereja dengan Mamas. Saya menjadi anggota di GPIB Filadelfia Bintaro. Sejak memutuskan akan menjadi istri mamas, sudah otomatis saya akan ikut keanggotaan di geraja Mamas. Tidak hanya itu, orang tua mamas pun meminta agar kami dinikahkan di gereja tempat keanggotaan mamas.



img_3121

23.10.14

Oktober 23, 2014

Tips belajar bahasa asing

Lagi blogwalking dan tetiba menemukan tulisan ini milik mba Lorraine. Baca ini jadi semangat lagi belajar bahasa Inggris lebih lagi dan mencomot ide mya Lorraine untuk belajar vocab lewat Post-It. Bukan tidak memanfaatkan gadget, tapi ada penelitiaan yang pernah kubaca, seseorang lebih bagus mengingatnya saat menuliskannya sendiri. Akhirnya juga menelurkan ide menjadikan lingkungan sekitarku dengan English Day setiap hari Jumat. Belum dilempar siyh ke forum group kantor, ya mudah-mudahan terealisasi demi kelancaran berbahasa Inggris.
Yuk-yuk disimak post berikut...

22.10.14

Oktober 22, 2014

Resepsi yang Ingin "Diulang"

Selesai pemberkatan sebenarnya sudah lega tapi masih ada satu tanggung jawab lagi yaitu Resepsi. Sebelum mempersiapkan pernikahan saya sempat bertanya-tanya apakah gunanya Resepsi? Bukankah kalau sudah sah dimata agama dan hukum ya sudah sah jadi suami istri? Pertanyaan-pertanyaan ini mencuat karena saya pribadi awalnya pengen punya konsep nikah tamasya. Selain itu uang pun tidak banyak kebuang dan bisa ditabung untuk beli rumah.

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab juga. Resepsi ada sebagai tanda ucapan syukur bahwa dua insan telah dipersatukan oleh Tuhan. Kebahagiaan itu sepatutnyalah ditularkan pada orang-orang terdekat kita dan orang-orang yang ada disekeliling kita terutama keluarga besar kita. Ya, akhirnya melihat lagi kondisi kedua keluarga besar yang memang besar binggitttzzzz itu. Kalau tidak diadakan resepsi, wew kebayang deh bakal jadi perbincangan hangat berkepanjangan. (Walaupun begitu balik lagi ke pribadi dan keluarga masing-masing apakah perlu mengadakan resepsi atau tidak).

20.10.14

Oktober 20, 2014

'Till Death Do Us Part


Father, I said 'till death do us part
I want to mean it with all of my heart




Inilah dua penggal kalimat yang menjadi komitmen kami calon pengantin pada tanggal 16 Agustus 2014 yang lalu. Sandrine Jezabel Biagiotti Tungka resmi bersanding dengan Yuswa Agung Hariyanto. Ketika prosesi pemberkatan selesai, kami berdua rasanya legaaa sekali. Penantian panjang dan doa kami terjawab dengan terpasangannya cincin yang ditukarkan ke jari manis tangan kanan kami dan janji pernikahan yang kami ucapkan sepenuh hati dalam hati kami.



Dan rasa lega itu juga berasal dari..... saya bisa menghafalkan janji pernikahan saya dan mengucapkannya tanpa salah. Hahahahahaha. Jangan salah ya, bukan berarti saya tidak menghayati janji pernikahan saya. Justru dengan hafalan ini saya sedang mengawal diri saya dari improvisasi-improvisasi yang justru akan kelihatan semakin tidak jelas maknanya pada hari H.



Di dalam pernikahan Kristiani, pemberkatan adalah istilah dari akad nikah. Dan tanda "sah" adalah tanda peneguhan pemberkatan sesudah tukar cincin dan ucapan janji pernikahan. Prosesi Janji Pernikahan ini lah yang membuat saya tidak tenang sejak H-1 minggu pemberkatan. Apalagi H-1 hari pemberkatan. Nervous nya itu nggak karuan, lantaran baru malam itu saya membuat janji pernikahan. Artinya H-12 jam saya baru memikirkan janji pernikahan seperti apa yang harus di ucapkan nantinya. But everything went well :).



16.10.14

Oktober 16, 2014

Prewedding Berkelas Tidak Selalu Mahal

Kalau ngomongin foto saya selalu excited. Bukan seorang photographer melainkan hanyalah seorang penikmat foto. Paling suka kalau udah lihat gambar-gambar pemandangan indah. Begitu juga dengan foto-foto prewedding. Saya demen bangeeetttt lihat sudut pandang fotografernya dalam mengambil gambar. Mau indoor ataupun outdoor, kalau tema dan pengeditan gambarnya cukup menarik pasti mata saya betah melahap segala jenis fotonya.

Berhubung dalam persiapan ingin menikah juga, sejak bulan februari saat-saat menentukan budget saya dan--yang kala itu--calon suami mulai searching paket-paket prewedding bahkan sampai datang ke pameran pernikahan. Cukup mencengangkan bahwa hasil-hasil foto prewedding outdoor yang saya nilai sangat bagus dan wah itu memiliki harga paket mahal-mahal 0_O. Dengan dompet tipis kami calon pengantin kami sempat menyerah untuk mengambil paket yang indoor saja sesuai dengan budget yang ada dan memadukan dengan foto-foto travelling kami yang ala kadarnya dan di edit sebisanya.

Bagi kami ini drama. Tapi yang-kala-itu-calon-suami saya teringat bahwa salah satu saudaranya melakukan prewedding dengan dibantu teman gereja yang sudah sangat kenal dekat dengan kami. Menurut sang saudara, hasil fotonya memuaskan baik outdoor maupun indoor. Akhirnya coba menghubungi pria yang bernama Aris Christian dan orangnya langsung mengiyakan untuk membantu kami membuat foto prewedding outdoor. Kami senang sekali karena rate-nya masuk budget kami (sebenarnya orangnya tidak menetapkan tarif karena profesinya memang bukan seorang fotografer melainkan membantu saudara-saudara dekatnya saja).

15.10.14

Oktober 15, 2014

Deg-deg-ser Lamaran

Setiap pasangan yang akan menikah pasti melalui prosesi ini. Jangan bayangkan bahwa yang disebut LAMARAN hanyalah berbentuk acara formal yang dihadiri kedua keluarga untuk meminta menikahkan anaknya. Prosesi lamaran saat-saat sekarang ini memiliki banyak variasi. Ada yang berbentuk pertukaran cincin. Ada yang hanya dihadiri keluarga inti dan dilakukan di restoran sambil makan malam bersama. Ada pula yang hanya dilakukan dua insan yang biasanya terjadi sambil Candle Light Dinner. Tapi apapun bentuknya, saya yakin semua perasaan capeng sama, ga pria ga wanita, semua merasakan yang namanya Deg-deg-kan, nervous pasti melanda saat akan melamar atau saat-saat akan dilamar.

Bagaimana dengan saya dan calon suami kala itu? Owh tentu mengalami perasaan yang sama. Sesungguhnya saat pertemuan keluarga inti pertama kalinya, ketika menyinggung-nyinggung masalah lamaran tidak ada desiran aneh dihati saya. Mengapa? Ya, yang pasti karena hubungan saya sudah direstui dua keluarga inti untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Tapi nyatanya menjelang hari H lamaran jantung mulai berdetak lebih kencang.

[gallery type="rectangular" ids="3788,3795"]

14.10.14

Oktober 14, 2014

Duo SA Menjejak Sentosa (Hari 3)

Akhirnya sampai di hari yang terakhir. Tandanya liburan berakhir. Saya paling tidak suka jikalau liburan sudah pada hari terakhirnya. Rasanya pengen nambah, nambah, dan nambah terus. Apalagi masih banyak tempat-tempat yang saya kepo-in. Tapi apa daya, time is running. Pastilah mencapai hari terakhir liburan.

Terus apa yang dilakukan dong di hari ketiga? Keceriaan kami kakak-beradik ditutup dengan mengunjungi tempat-tempat nan cozy dan ciamik. Walaupun nggak banyak, berikut ini detailnya.

1.  Breakfast at the hotel

Ya, sama aja siyh sama hari kemarin. Menunya pun masih kisaran yang sama.



2.  Speed down the Luge and enjoy the Skyride

Ini seru menurut saya. Kita naik Skyride dan ditutup dengan naik Luge, selayaknya go cart tapi tanpa mesin. Luge mengandalkan gaya gravitasi untuk melintasi treknya karena memang bentuk treknya menuruni lembah. Menaiki dua atraksi ini sama saja seperti naik Skyride untuk pergi Skiing lalu berselancar di es hanya kita lakukan ini di iklim tropis aka panas.



Oktober 14, 2014

Duo SA Menjejak Sentosa (Hari 2)

Day twooooo!!! Yeay!!! Excited banget saya untuk hari ke-2 ini karena akan melakukan berbagai aktifitas yang belum pernah di lakukan sebelumnya. Langsung aja ya saya deskripsikan.



1. Breakfast di hotel.



Seperti yang tertulis di post saya mengenai hotel tempat kami menginap, kembali kami mengunjungi Alfresco Cafe untuk sarapan pagi. Sesungguhnya kami keluar kamar cukup siang. Kami terlalu terlena dengan empuknya kasur sehingga kesiangan. Walaupun begitu dengan ritme makan pagi kami  yang cukup cepat, kami tidak terlambat untuk mengikuti acara selanjutnya. Menu sarapan yang disediakan pun ya ala ala buffet seperti layaknya hotel berbintang manapun. Menu yang disajikan cenderung western yang isinya daging asap, sosis, telur, dan roti. Untuk minuman pun ya seputar es jeruk, teh, dan kopi. Kalau dessert pastinya buah-buahan. But I like 'em. Ya iyalah, secara saya jarang-jarang makan yang begituan di rumah :D.



[gallery type="rectangular" ids="2546,2194"]

7.10.14

Oktober 07, 2014

Duo SA Menjejak Sentosa (Hari 1)

Akhirnya saya balik lagi menggarap post yang tertunda hampir 7 bulan. Udah kayak kehamilan aja ya, hahahaha. Sesuai dengan post saya Second Trip to Sentosa Island inilah saya akan membagi pengalaman saya. Jadi mulai niat membagi hal ini lagi sebenarnya setelah membaca blogpost mak Murtiyarini ini.


Seperti tertulis di master post ini, kami duo kakak-beradik, Sandrine & Angellica siap mengarungi Sentosa, Singapura. Pukul 2 pagi, kami dibangunkan mama untuk bersiap-siap karena antrian kamar mandi mencapai angka 4 orang, aka semua anggota rumah akan mandi dipagi hari. Ya secara kami akan diantar kedua orang tua kami ke bandara lalu mereka akan melanjutkan perjalanan ke kantor jadi sekali jalan lah.


Berhubung ini termasuk program FAM, jadilah yang dibayar tiket pesawat secara gratis hanya saya. Adik saya perlu membayar tiket pesawat sendiri. Saya pergi ke Singapura dengan menggunakan SQ atau terkenal dengan nama Singapore Airlines dengan waktu keberangkatan pk. 9.20 pagi dan adik saya, atas nama penghematan, saya dan keluarga belikan Air Asia dengan penerbangan pk. 7 pagi - karena itu yang paling murah xixixixixi. Adik saya dihantar duluan ke Terminal 3 lalu saya ke Terminal 2. Ohya, Adik saya ini baru pertama kalinya lowh ke luar negeri. Jadi pasti kebayang lah reaksi excitednya saat pertama dengar akan diajak ke Singapura.


24.9.14

September 24, 2014

Yes, We Are Ready

Judul diatas adalah kalimat yang saya dan suami katakan saat keinginan kami untuk menikah kami ceritakan kepada masing-masing orang tua. Awal bulan Januari 2014 kami mengutarakan keinginan kami dan Puji Tuhan semua menyetujui walau banyak pertanyaan-pertanyaan yang menguji keyakinan kami. Tentu ada pertanyaan semacam itu karena kami berdua sebetulnya sama-sama tengah memiliki banyak kesibukan #biardikatainsoksibuk#. Dari perbincangan ini dimulailah serangkaian persiapan:



1.   Pertemuan dua keluarga

Kala itu di bulan Februari (jujur tanggalnya lupa :D), dua keluarga inti bertemu saling berkenalan dan mengutarakan keinginan masing-masing untuk menikahkan kedua anak manusia ini. Dalam pertemuan itu disimpulkan bahwa pernikahan ini akan dilakukan dengan tema nasional (tidak merujuk ke suatu adat tertentu) dikarenakan kami berdua berasal dari dua suku yang berbeda, Mamas (panggilan untuk yang kala itu adalah calon suami saya) dari Jawa dan saya dari Manado (disinilah Bhinneka Tunggal Ika di uji).



img_0608





Walaupun begitu keluarga calon mempelai pria meminta agar tetap ada penentuan tanggal menurut penanggalan Jawa sebagai tanda menghormati keluarga besar dari mempelai pria yang bisa dikatakan masih mengikuti adat yang ada - sekalipun keluarga Mamas sudah modern. Serta diputuskan juga bahwa kami akan menikah di bawah naungan gereja Mamas dan diteguhkan di gedung gereja tersebut (GBII Agape - Pasar Rebo)



22.9.14

September 22, 2014

Our Wedding Journey

Inilah saatnya membagi pengalaman saya mempersiapkan pernikahan saya sendiri yang telah berlangsung satu bulan yang lalu. Yeaayyy!! Sengaja saya tidak membagikan saat-saat mempersiapkannya karena ya sudah pasti sibukkkkk #BANYAK ALASAN BINGITSSSSS#. Nah, setelah ditampar dengan artikel dari blog ini, saya menyempatkan membagi apa yang perlu saya bagi yang sekiranya bisa bermanfaat bagi orang yang membaca blog saya.



So, apa aja siyh yang mau saya bagiin tentang pernikahan saya? Karena pernikahannya sudah lewat saya tidak akan membaginya perbulan tetapi membaginya sebagai berikut:



4.9.14

September 04, 2014

My First Trip, BALI!!!!

Mengenang masa lalu, tidak selamanya buruk. Masa lalu yang indah penuh kenangan bisa dijadikan penyemangat atau motivasi diri melangkah ke masa yang akan datang. Seperti saat ini, saya ingin mengenang jalan-jalan pertama saya yaitu ke Bali saat saya masih duduk di bangku kuliah Politeknik tingkat 2 - kira-kira sudah hampir 7 tahun yang lalu.



Saya masih termasuk orang yang lugu saat itu. Orang yang pingin banget jalan-jalan tapi ga tau caranya gimana dan akhirnya memutuskan ga usah cari tau. Termasuk orang yang, okey lah kalo ga bisa jalan-jalan ga akan terjadi apa-apa pada diri saya.



Tapi kesempatan itu tiba-tiba saja datang. Tante dan om dari mama mengajak saya dan adik ke Bali sekalian merayakan ulang tahun tante disana. Pokoknya wuiiiihhh lah. Beberapa minggu menjelang keberangkatan saya langsung deg deg ser, excited campur gugup. Excited karena sudah belasan tahun saya tidak pernah jalan-jalan (kecuali pergi retreat ke puncak) dan gugup karena sudah belasan tahun pula saya tidak pernah naik pesawat terbang (saat itu Air As*a baru mulai dikenal dengan penerbangan super murahnya dan lagi marak juga kecelakaan pesawat dari maskapai lainnya).



5.7.14

Juli 05, 2014

iPhoneography Community

Gara-gara postingan teman saya tadi siang, membuat hati saya tergelitik untuk merealisasikan niat saya menulis tentang suatu komunitas foto yang pastinya sudah terkenal, sudah banyak orang yang tahu, bahkan mungkin saja sudah banyak yang mereviewnya *tapi saya belum cari hehehehe*. Terlepas dari itu semua, saya sudah didorong untuk menuliskannya dan akhirnya benar-benar terjorok malam hari ini.
Blame my friend for his post this morning, I am tingled to execute my long intention in writing about a particular well-known photo community, which most people already know, even have reviewed about them *but i haven't search the reviews xixixixi*. Ahead of that, I have been pushed to write it and really forced to do that this night.



Nama komunitas yang akan saya sharingkan - dari judulnya sudah kebayang - yaitu komunitas iPhonesia yang sangat populer didunia instagram. Kita tahu mobile photography menjadi sesuatu hal yang kian marak. Pecinta Instagram makin menggila dengan kehadiran smartphone yang tersedia untuk setiap segmen. Mengatasi 'kegaringan' aplikasi dan sebagai wadah yang mengikat hobi, hadirlah beragam komunitas fotografi sebagai wadah seluruh fotografer untuk semakin mengembangkan sayapnya.
The community I will share about - we can see from the title - is iPhonesia which very popular in Instagram world. We know that mobile photography is an famous hobby now a days. Instagram lovers is everywhere with a high demand of smartphone for every segmentation. Coping with the "crispiness" of application and as a place to tighten people in same hobby, various photography communities are presented to all photographer to broaden their wings.



IG: @iphonesiaPic courtesy of: iPhonesia



Begitu pula dengan iPhonesia. Saya sedang tidak ingin membahas sejarahnya karena saya sendiri belum pernah meminta izin untuk 'mewawancarai' founder dari komunitas ini. Hanya yang saya perhatikan dan amati, komunitas ini ada untuk mengakomodir pengguna iDevices dalam mengembangkan smartphone yang mereka miliki termasuk skill fotografinya. Dan pastinya untuk nambah temen sesama penggemar fotografi.
And so does iPhonesia. I am not lecturing the history of this community because I haven't asked for permission to 'interview' the founder. But since I observe, this community accommodates all iDevices lovers in utilizing their smartphone including leveling up their photography skill. And of course to widen the friendship among them.



Lalu bagaimana saya bisa kenal komunitas ini? Selama saya join di Instagram (duh udah lupa juga kapan pertama kali gabung) saya ga terlalu antusias menggunakan aplikasi ini. Ya memang sudah sejak lama saya mengagumi dunia fotografi. Tapi saat itu hanya sebatas angan belaka dengan dalih saya tidak punya kamera yang canggih. Hingga suatu saat lagi iseng explore foto-foto popular page mengarahkan saya ke salah satu akun Instagram. Cukup terkesima saya dibuatnya. Sebuah device sekelas hp bisa menghasilkan kualitas gambar yang tak kalah ciamiknya dengan kamera SLR. Sehingga saya makin mengidamkan memiliki salah satu dari jenis iDevice yang akhirnya tercapai dengan membeli iPad Mini.
And how did I know this community? As long as I joined Instagram back then (very sorry I forgot when was the first time I joined) I was not as excited as I'm using the application now. Indeed, I've loved photography for a very long time. But it was just a dream with an excuse that I didn't afford to buy a sophisticated camera. Until one day I was searching through Instagram popular page and found this particular Instagram account. I was quite amazed with this account. A device in cellphone category can produce a high quality pictures no less beautiful to SLR camera. Because of that I have ambition to buy at least one iDevice which now have been fulfilled with iPad Mini.



Setelah beli, saya langsung gabung komunitas ini. Tapi saya belum berani menunjukkan diri saya. Saya hanya mengamat-amati kegiatan iPhonesia melalui milis ataupun Instagram. Tidak ada satupun partisipasi saya. Hingga dibulan Maret 2014 saya terdorong mengikuti salah satu programnya yang bernama #ileague yang akan dilakukan pada bulan April 2014. Saya termotivasi untuk belajar kreatif membuat foto bagus dari iDevice saya.
After I have my own iDevice, I immediately join iPhonesia. But at first I didn't have enough courage to show myself. I just watch their activities through mailing list or Instagram. I did not participate at all. Until March 2014, my own self pushed me to follow one of its program called #ileague which would be held on April 2014. I have the sudden motivation to learn to be more creative in creating  great photos through my iDevice.



Tidak jarang saya minder dengan hasil foto para master #ileague yang memiliki banyak followers dan ratusan bahkan ribuan likes tiap fotonya. Tapi dari situ saya sedikit-sedikit punya keinginan untuk semakin belajar. Foto saya masih jauh dari kriteria #iphonesiaoftheday tapi memiliki kesempatan menyimak grup line #ileague yang penuh pengetahuan baru akan iphoneography dan instagram sangat mengesankan. Walau bolong-bolong saya masih diijinkan ikut ileague hingga di bulan Juli ini, yeayyyy. Tekad saya di bulan Juli ga boleh ada bolong 8D *meskipun begitu sudah ada bolong satu saya kemarin^^*.
Somehow, I was inferior when seeing the pictures taken by the #ileauge master which already have so many followers even hundreds or thousands of likes for their photos. But through that I was eager in learning a bit, a bit, and a bit more. My own photograph was still far away from the #iphonesiaoftheday criteria but having a chance to be part of the #ileague line group which full of new knowledge of iphoneography and Instagram is very impressive. Although many absent in posting I am still allowed to join #ileague until this July, yeayyyy. I have a strong determination to finish July #ileague without absent *although I already absent one yesterday^^*.



[instagram url=http://instagram.com/p/p5tNrBrg_k/?modal=true]
Pic courtesy of: iPhonesia



Salah satu master dengan IG @mahadewa menjadi salah satu inspirasi saya. Kutipan tagline andalannya dalam situs yang dibangungnya sendiri, “The best camera is the one that’s with you ~ Chase Jarvis", menyadarkan saya yang selalu minder menggunakan iPadMini sebagai device untuk bersa(nd)ing dengan iPhone-iPhone terbaru yang semakin canggih. Masalahnya bukan pada canggihnya kamera tapi sejauh mana kita bisa mengembangkan kamera yang kita miliki.
One of the master with IG @mahadewa is one of my inspiration. His best quote in his own site, "The best camera is the one that’s with you ~ Chase Jarvis", reminds me to use my iPadMini to max to biting with the newer and more sophisticated iPhone. The problem is note the camera but how far we can utilize what we really have.



[instagram url=http://instagram.com/p/p0PXqOrg6t/?modal=true]
Pic courtesy of: iPhonesia



So, happy photo posting ya guys. Dari situlah jendela dunia terbuka untuk di eksplorasi.
So, happy photo posting guys. Those are the windows of the world to be explored.



Regards,



sans sign

27.6.14

Juni 27, 2014

Commuter oh Commuter

Kekejaman dunia perkeretaapian kurasa makin menggila. Sedang tidak membahas kekejaman dalam organisasinya (karena nggak tau juga dalamnya seperti apa 😝) tapi membahas pengguna moda yang termurah di jabodetabek ini. Sudah yang kesekian kalinya aku menuliskan hal ini, tapi selalu saja belum dapat menerimanya, selalu geleng-geleng kepala, dan tak jarang jadi pusing dibuatnya *lebay ga sih*.



Bagaimana tidak?! Aku menemukan beragam pola tingkah manusia (bahkan mungkin pola tingkahku sendiri) saat menghadapi moda ini. Setiap hari kejadian yang serupa terjadi tapi tersaji dengan berbeda dan terkadang unik. Apa sajakah itu? Ingin sedikit membagikan beberapa yang kuingat.



[instagram url=http://instagram.com/p/mXdnqoxoAq/?modal=true]



Pertama, kejadian ini terjadi baru kemarin. Aku seperti biasa naik CL dari UI Depok menuju Cikini pukul 6 sore. Pastinya aku tidak mendapat tempat duduk. Berdiri pada jam-jam seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Daripada bengong mendingan mainan Instagram dan blogwalking di tengah-tengah perjalanan. Sedang asyik-asyiknya menelusuri layar iPad (hal tersulit yg ku lakukan selama berdiri di kereta adalah membaca iPad yang jarang ku praktekan takut jatoh), ada yang berteriak, "Aduh Ibu!!!" dengan kencangnya. Spontan aku nengok kearah suara itu. Selidik punya selidik ternyata yang berteriak tersebut tidak jadi turun gara-gara ada ibu yang tiba-tiba naik ke gerbong sesaat sebelum pintu ditutup. Lucunya ibu yang naik itu nyelonong pergi tanpa kata disaat wanita yang berteriak tersebut terus ngedumel. Tidak tahu siapa yang salah dan tidak mau tahu juga, tapi ya ada yang seperti itu.



Kedua, ini adalah pengalaman ku sendiri hari Kamis yang lalu. Saat itu pulang kuliah yang kuharapkan adalah sampai dirumah dengan segera. Tapi ternyata aku harus menghadapi kenyataan kereta Manggarai - Tanah Abang datang sangat terlambat. Aku baru naik kereta tersebut jam 10 malam dari manggarai. Sesampainya di Tanah Abang penumpang sangat banyak imbas keterlambatan kereta sebelumnya. Awalnya, aku sudah waswas tidak dapat tempat duduk, tapi akhirnya dapat juga di gebong campur (yakinlah sudah tidak ada tempat di gerbong wanita pastinya).



Sudah setengah jalan aku tiba-tiba merasa mengantuk sehingga aku memutuskan memasukkan HP ku kedalam tas dan menutup mata sejenak dengan asumsi aku tidak akan kebablasan dan yakin distasiun berikutnya pun sudah akan terbangun. Tapi kenyataannya TIDAK! Aku kebablasan sodara-sodara!!! *pengumuman :(* Itupun tersadar karena tetanggaku berdiri, kaget melihat tetangga sebelah satunya lagi berubah orang dan melihat ke luar jendela kereta pas tiba di stasiun Rawa Buntu. Shock, aku kebat-kebit, ikut turun dari kereta takut kebawa ke stasiun berikutnya dan berharap ada kereta balik di jam yang sebenarnya sudah tidak ada kereta balik. Mau ga mau aku harus menaiki moda berpenumpang satu. Modal jadi lebih banyak cingggg... Padahal sebelumnya pacarku menyarankan ku naik taksi saja waktu aku masih menunggu kereta di manggarai agar tidak terlalu malam. Hmmm tau gitu aku ikuti sarannya saja daripada udah pulang hampir tengah malam malah naik taksi pula.



[instagram url=http://instagram.com/p/peLd-BxoFV/?modal=true]



Ketiga, ini terjadi sudah berminggu-minggu yang lalu. Saat itu hari Minggu siang menjelang sore aku perlu pergi kerumah pacar di daerah Pasar Rebo. Kereta Sudimara - Tanah Abang begitu lengang. Setibanya di Tanah Abang sesuai dugaan sebelumnya, saat kereta baru saja memasuki peron, aku sudah melihat penumpang-penumpang diluar berdesakkan. Kebayang lah ya. Aku yang menaiki gerbong wanita sudah bersiap-siap mengambil tempat di pojokan pintu keluar sehingga tidak terdorong arus dari belakang dan dari depan yang akan mengakibatkan susah turun. Ketika pintu terbuka aku "mempersilahkan" semua penumpang naik dan turun dahulu di pintu tempat aku menunggu. Menariknya saat aku melihat wanita-wanita berebutan untuk naik dan berlari menuju kursi-kursi kosong, suara orang marah membahana di gerbong, spontan saya nengok. Ternyata ada ibu-ibu bawa bayi lagi rebutan kursi sama wanita muda. Karena kursinya direbut si wanita muda yang ga mau kalah, spontan ibu-ibu itu marah-marah. Sesudah itu aku tidak mendengar lagi kelanjutannya karena harus buru-buru turun berganti ke kereta yang lain.



Keempat, yang ini aku alami sendiri. Memang sudah agak lama kira-kira 3 bulan yang lalu. Kejadiannya masih di stasiun Tanah Abang saat aku mau turun kereta. Saat itu aku belum punya siasat turun yang benar di Tanah Abang saat jam penuh. FYI, waktu itu aku pergi hari Sabtu--pasti mengerti maksudku. Jadilah sambil menunggu kereta berhenti aku berdiri tepat ditengah-tengah pintu dan paling depan pula siap menghadapi massa yang akan naik didepanku. Baru saja pintu dibuka dan kata-kata permisi siap ku lontarkan eh aku didorong dengan brutalnya dari belakang. Aku spontan kaget nyaris jatoh didepan massa *kalo beneran jatoh tuh kayak orang lagi crowdsurfing dari atas panggung ke penontonnya* tapi untungnya berhasil memijak tanah dan keluar dari kerumunan massa didepanku. Tapi aku tak suka didorong seperti itu, spontan aku marah sama ibu-ibu dibelakangku. Begini kira-kira percakapannya.



A (aku): Jangan dorong-dorong dong bu!
I (ibu2): Didorong belakangnya neng!
A: Ga mungkin bu, orang tangan ibu menggantung diudara terlihat habis dorong saya kok!
I: Abis kalo ga saya dorong, ga turun kita.
A: Tapi cara dorongnya ga begitu juga. Ibu juga ga bakal didorong brutal kayak gitu!! (dalam hati: tuh bener dia kan yang dorong)
I: *nyelonong pergi*



Well, well, well. Aku hanya bisa kesel dibuatnya dan berharap ga lagi-lagi lewat Tanah Abang di hari Sabtu bahkan Minggu. Mendingan naik bus kalau begitu.



Sepenggal kisah-kisah tersebut pasti pernah dialami beberapa orang bahkan mungkin termasuk anda yang membaca kisah ini. Dunia perkeretaapian kita sungguh 'kejam' jika aku boleh meminjam istilah itu. Entah mengapa, semakin hari semakin 'kejam' dan penuhhhh... prahara serta derita!!! Tarif yang murah mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Tapi attitude yang individualistis lah yang memperparahnya.



Bagaimana menurut pendapatmu?



Regards,



sans sign

10.6.14

Juni 10, 2014

In Love with Siloso Beach Resort

Pada Jumat, 21 Februari 2014 sekitar pukul 2 waktu Singapura, saya dan adik sampai di hotel bernama Siloso Beach Resort di Pulau Sentosa. Sesungguhnya saya bertanya-tanya ketika sampai, mengapa saya dan adik saya ditempatkan ditempat ini? Tapi mari simak ulasan saya dibawah ini. Pastinya akan menemukan hal tak terduga.
On Friday, 21st February 2014, at 2pm Singapore time, me and my sister arrived at Siloso Beach Resort as our hotel during our stay in Sentosa Island. At first, a lot of questions came into my head, why us who stayed in this place? But, let's read my review below. You'll find unexpected things.


Ketika pertama kali masuk lobby hotel ini tidak seperti bayangan hotel pada umumnya. Terlihat lobbynya kecil, suasananya sepi, sangat coklat, dan dikelilingi hutan yang pastinya sarat pepohonan. Bahkan resepsionisnya hanya ada satu, ditemani satu bell boy. Awalnya agak nggak meyakinkan ga siyh? Tapi, percaya tidak percaya saya merasa homy saat itu.
When I stepped first time at the lobby, it didn't look the same as usual hotel lobby. It was small, silence, chocolate lobby, surrounded with forest which  full of trees. Even there was only one receptionist and one bell boy. Wasn't it looked uninterested? But, believe it or not, I felt homy back there.


25.3.14

Maret 25, 2014

Second Trip to Sentosa Island

Hiii guysssss. Yo.. yo.. what's up!

Sudah sebulan sejak perjalanan terakhir saya ke negeri orang. Tapi tentunya dengan cerita yang sangat berbeda. Mengapa? Karena ini memang berbeda!!!
It's been a month since my last trip going abroad. But of course that was a different story. Why? Because that was definitely different.



Dua minggu yang lalu saya memasukkan post saya yang sudah pernah live di kompasiana ke blog ini. Bukan sesuatu yang kebetulan saya memindahkannya. Ini terkait dengan post saya hari ini. Karena post itulah (terima kasih kepada kompasiana) saya bisa menelurkan post hari ini. Dari post yang berjudul, "Satu Dollar di Pulau Sentosa" saya bisa menikmati keindahan 3 hari 2 malam di Pulau Sentosa!!!
Two weeks ago I posted my old post in kompasiana to this blog. That was not a coincidence I moved that to here. That was has a relation with this post. Because of that post (thanks to kompasiana) I can write this one. From a post entitled, "One Dollar in Sentosa Island" I could enjoy 3 days 2 nights in Sentosa Island!!!



16.3.14

Maret 16, 2014

Satu Dollar di Pulau Sentosa

Saya teringat postingan saya di kompasiana yang berjudul sama dengan diatas. Saya mempunyai niat untuk mempostingkan diblog saya lagi. Selamat menikmati ya.





Teringat perjalanan saya satu tahun silam di bulan April, saya diberi kesempatan mengunjungi negara berslogan “Majulah Singapura” selama 3 malam dari kantor. Memang tujuan utama adalah menghadiri seminar, tapi tak lepas dari jalan-jalan. Jangan berpikir terlalu jauh. Walaupun tersedia waktu jalan-jalan bukanlah waktu yang lama. Ini hanyalah perjalanan bisnis. Yang pasti, waktu sesingkat itu cukup untuk sedikit mengenal negara tersebut.


Hari terakhir di Singapura saya hanya memiliki 3 jam untuk bersenang-senang sedari subuh (baca: jam 6 pagi karena masih gelap). Awalnya saya kebingungan apa yang hendak saya lakukan pagi itu. Apakah cukup di hotel saja dan menikmati sarapan ataukah berkeliling melihat kota singapura yang terdekat dari hotel? Pilihan yang cukup rumit bagi saya karena: 1. Saat itu saya mulai meriang; 2. Ingin melihat sudut lain dari Singapura yang belum saya lihat malam sebelumnya; 3. Apakah yang bisa dinikmati dari tempat wisata disingapura pada pukul 7 pagi?; 4. Kasur dihotel sangat menggoda saya yang notabene baru tertidur pukul 2 pagi sehabis jalan-jalan di malam sebelumnya.


Setelah melihat peta singapura yang isinya cukup lengkap dengan jam operasional tempat-tempat wisata, saya memutuskan untuk bersiap-siap menuju Pulau Sentosa. Saya yakin yang terbersit dalam pikiran adalah, apakah mungkin menikmati Pulau Sentosa dalam waktu 3 jam PP hotel.


Bagi saya itu mungkin, walaupun minimalis. Jika orang bertanya sudahkah mengunjungi pulau sentosa, jawaban saya sudah. Sudahkah melihat Universal Studio, jawaban saya pun sudah. Sudahkah saya melihat patung Merlion besar khas Singapura, jawabanku lagi-lagi sudah. Sudahkah saya melihat Tiger Sky Tower, tetap sudah jawaban saya. Ditambah lagi, dengan $1 Singapura saya bisa menikmati kesemuanya diatas.


Eiiittt… jangan berpikir yang terlalu jauh dahulu. Seperti yang saya katakan ini minimalis. $1 Singapura tetaplah $1, tidak mungkin bisa menikmati trip berharga puluhan dolar mengitari satu pulau sentosa kecuali hasil menang undian. Walau begitu, bukan berarti saya tidak menikmati. Bagi orang seperti saya yang notabene jarang sekali travelling, ini menjadi pengalaman tersendiri yang membawa keceriaan.


Sooo, apa dong yang saya lakukan kala itu?


1.   Sesampainya di stasiun MRT HarbourFront saya tidak berpindah ke stasiun di Vivo City yang menuju Pulau Sentosa. Ini semata bukan karena saya tidak mau, melainkan saya tidak tahu pada awalnya. Sehingga saya menyusuri Sentosa Broadwalk.


1386232904201929612

Sentosa Boardwalk

2. Walau belum ada toko yang buka, Sentosa Broadwalk dapat dinikmati keindahan dan kebersihannya. Sangat tenang dan teduh sekali dipagi hari sembari melihat kapal-kapal yang lalu lalang dan ornamen-ornamen Sentosa Broadwalk yang apik. Saat itu saya jadi membayangkan seandainya saya berada disana malam hari, apa yang akan saya nikmati. Maybe someday.


3. Sebagai orang awam yang mondar-mandir airport, saya sangat excited melihat travelator berjejeran rapih di Sentosa Broadwalk. Apalagi sepi, sehingga bebas berfoto ria.


4. Walau perjalanan ini saya lakukan sendiri, saya dapat melihat dan mengabadikan gerbang bertulisan “Sentosa” dari dekat.


5. Sesampainya di pintu gerbang Pulau Sentosa, tepat saat baru dibuka pada pukul 7 pagi, saya tukarkan $1 dengan tiket masuk pulau. Lalu mulailah perburuan foto di area Pulau Sentosa.


6. Tidak mau kalah dengan yang lain, walaupun sendiri, saya mengabadikan diri saya sendiri didepan globe Universal Studio. The power of selca.


13862330102109031253

Universal Studio Singapore

7. Sebenarnya saya ingin sedikit basah-basahan di floor fountain yang ada disana. Tapi apa daya, saya sedang meriang, sehingga saya gantikan hanya dengan mengabadikannya.


8. Sangat wajib berfoto di depan Merlion. Walaupun dilakukan sendiri, foto di depan Merlion tetap banyak dan dari berbagai arah, sudut, dan area. Merlion itu begitu besar sehingga memungkin terfoto dari beberapa area tersebar disana.


1386233163702450587

Patung Merlion

9. Hanya melihat Tiger Sky Tower dan tidak menaikinya. Waktu pastilah tidak cukup. Ini masih menjadi impian saya untuk melihat Singapura dari ketinggian. Jadi abadikan terlebih dahulu.


10. Sedikit berkeliling dan mengabadikan keindahan Butterfly Park and Insect Kingdom. Saya sangat cinttaaaa tempat ini. Sangat indah dan menawan.


11. Menikmati lampion-lampion yang tersebar disana walau di pagi hari. Tetap menarik untuk difoto karena sangat detil pencitraannya.


12. Akhirnya saya kembali pulang menggunakan Sentosa Express, yang gratis. Disinilah saya baru tahu Sentosa Express adalah penghubung antara HarbourFront dan Pulau Sentosa. Dan saya merasa beruntung karena saya hanya menghabiskan $1 pagi itu menikmati Sentosa Boardwalk yang sepi dibandingkan membayar $3 menaiki Sentosa Express dari VivoCity.


1386233342256714943

Sentosa Express

Mungkin bagi sebagian besar orang tidak banyak yang bisa dinikmati. Tapi nyatanya bisa. Dua belas hal tersebut diatas dapat dilakukan dalam waktu 3 jam saja dan sudah terhitung waktu perjalanan dari dan menuju hotel di daerah Beach Rd. Perjalanan bisnis tidaklah terlihat melelahkan.


Hanya saya masih memiliki segudang keinginan berkunjung kesana lagi. Songs of the Sea adalah salah satu atraksi yang menjadi wishlist saya dikemudian hari. Semoga dapat diwujudkan dalam waktu dekat.


Selamat menikmati perjalanan anda - dalam bentuk apapun itu.



Regards,


sans sign



5.2.14

Februari 05, 2014

[Review] Kreatif Sampai Mati



Judul: Sila Ke-6: Kreatif Sampai Mati
Penulis: Wahyu Aditya
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 330 halaman
ISBN 978-602-8811-99-6




Rating oleh Sandrine: 4.5/5
Selesai: 26 January 2014



Adalah sebuah buku Motivasi dan Inspirasi dari seorang aktivis animasi dan desain yang mendirikan Kementrian Desain Republik Indonesia (Belum / Tidak Sah) atau  lebih dikenal dengan singkatan #KDRI. Judul "Kreatif Sampai Mati" benar-benar menunjukkan bahwa buku ini lahir dengan pemikiran yang kreatif, dikemas sangat kreatif, untuk memberikan stimulus bagi setiap pembaca yang "sesungguhnya" kreatif.







Kreatif Sampai Mati memiliki 18 Bab atau didalamnya disebut "Butir". Butir yang di tulis pemilik akun twitter @maswaditya tidak berurutan satu dengan yang lainnya. Masing-masing butir memiliki independensi nya sendiri-sendiri namun jika teraplikasi seluruhnya akan membawa dampak yang besar dan mengubah paradigma kreatif bagi sebagian besar orang saat ini menurut sang penulis.





Halaman-halaman pertama buku ini berisi serangkaian komplemen dari beberapa orang ternama dan orang-orang sukses dibidangnya. Salah satu nya adalah Andy F. Noya, Host Kick Andy, yang memberikan komentar pada sampul belakang buku, "Melalui buku ini, Wadit memprovokasi kita untuk melahirkan pemikiran-pemikiran kreatif sekaligus tindakan nyata. Wadit memberikan jawaban tentang kreativitas secara jujur. Di zaman yang sangat kompetitif seperti sekarang ini, kreativitas merupakan kunci menuju sukses. Selamat Membaca!"




Rasa takut adalah musuh besar kreativitas. (hal. 7)




IMG_0526





@maswaditya menjabarkan arti kreatifitas dari pengalaman pribadinya sendiri. Ia menceriterakan bagaimana awal kiprahnya dalam menggunakan kreativitasnya untuk menciptakan dunia kreatifnya di tempat kerjanya sendiri agar ia tak jenuh bekerja walau sering menginap di kantor. Dicontohkan pula beberapa pelaku kreatif dari Indonesia dan mancanegara dimana mereka dengan berpikir kesegala arah dapat menghasilkan apa yang mereka impikan secara kreatif. Sebut saja Firman Widyasmara, Damon Albarn & Jamie Hewlett, Pak Tino Sidin, dan beberapa tokoh lainnya.




Kreativitas perlu keberanian - henry matisse (hal. 184)






Buku ini mengajak kita sebagai manusia biasa berpikir secara kreatif dimanapun bidang yang kita tekuni dan kemanapun kita pergi. Sebagai manusia yang ingin melatih kreativitas sepatutnyalah untuk berpikir out of the box dan mampu merekam dan me-remix yang ada disekeliling kita.



Menurut saya, semua hal yang kita inginkan harus didapat dengan cara menemukan minat (passion) dan ... melatih minat tersebut terus menerus. Berlatih merekam dan me-remix berulang-ulang. Bukan dalam hitungan bulan, tetapi bertahun-tahun. Berlatih sesuai minat itu berbeda rasanya dengan berlatih karena terpaksa. Ada energi lebih yang kita rasakan, seolah lupa akan waktu. (hal. 49)




Tepat seperti Andy F. Noya katakan bahwa jawaban kreativitas itu terlihat dari seluruh bagian buku tersebut. Pertama, terlihat dari halaman cover buku. Buku ini memiliki 2 sampul buku yang dapat pembaca ubah sesuka hati mereka. Dan uniknya, sampul kedua memberikan ruang kepada pembaca untuk menjadi kreatif dengan mengkreasikan sampul yang diinginkan oleh pembaca itu sendiri. Pembaca bebas menuliskan atau menggambarkan apa saja pada sampul kedua sehingga memberikan sampul yang unik dari si pembaca.





Cover  Cover 2




Kedua, penggunaan warna yang beragam, variasi jenis tulisan, gambar-gambar / gambar contoh yang disuguhkan tentunya menambah daya tarik buku ini. Tidak hanya menjelaskan secara teoritis tapi dapat menunjukkan praktik kreatif melalui hasil-hasil cetakan-nya. Tentunya buku ini dilengkapi dengan berbagai quotes menarik dari orang-orang terkenal.





Penggunaan kata atau kalimat dari judul setiap butir dengan kreatifnya dikemas menjadi suatu kesimpulan setiap isi Butir layaknya pasal dalam undang-undang sehingga mudah untuk diingat oleh pembaca. Contohnya: "Rangkul Keterbatasan" yang ada pada butir 7 atau "Introvert itu Cool!" pada butir 9. Dan lain sebagainya.





Tersurat dalam salah satu butir proses penggodokan Sila Ke-6 sehingga akhirnya dapat dikumandangkan kepada Rakyat. Menelurkan salah satu ide kreatif @maswaditya untuk buku ini bukanlah proses yang pendek bak mendapat wangsit secara tiba-tiba. Tapi butuh perjalanan panjang dengan feedback dari orang-orang sekitar yang bisa dibilang tidak sedap. Tapi pada akhirnya, feedback itulah yang "menyadarkan otaknya yang terbelenggu dalam kabut".





Membaca buku ini sangat menyadarkan saya pribadi akan artinya menjadi kreatif dimanapun saya ditempatkan. Bagaimana denganmu? Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk siapa saja.





IMG_0531





Regards,












follow us in feedly

12.1.14

Januari 12, 2014

Memburu Sunrise di Sikunir







Sabtu, 4 Januari 2014 silam, saya bersama pacar dan beberapa rekan sekerja memutuskan untuk berlibur ke Dataran Tinggi Dieng. Tujuan utama kami adalah menikmati matahari terbit dari Sikunir. Setelah sebulan mencari dan mencari tahu, kami yang mayoritas bertubuh kerempeng dan takut dingin ini (kecuali pacar saya tentunya) memantapkan hati untuk mencari suasana baru di Sikunir.Pukul 3.30 pagi kami sudah bangun dan mulai bersiap-siap untuk memulai perjalanan di pukul 4.00 pagi. Ini kami lakukan demi melihat matahai terbit. Yang pastinya, kami susah sekali untuk beranjak dari tempat tidur kami. Meringkuk adalah posisi favorit kami untuk mengatasi dinginnya dieng. Padahal suhu menunjukkan hanya 13 derajat celcius. Belum ada bandingannya jika perjalanan ini kami lakukan saat musim kemarau, yang menurut informasi dapat mencapai titik 0 derajat celcius. Nggak kebayang banget seperti apa dinginnya Dieng di musim kemarau.


About

authorHello, my name is Sandrine. I'm a working mom who loves to read and wander.
Learn More →



Total Tayangan Halaman