12.11.13

November 12, 2013

Commuter Keras Bung!











Courtesy: Tender Indonesia

Commuter Line, kata-kata yang tidak asing di telinga penduduk Jakarta Bogor Tangerang. Pasalnya, inilah angkutan yang sangat dimanfaatkan masyarakat untuk menghidari macet berjam-jam di jalan-jalan ibukota. Termasuk diriku. Setiap hari, kurang lebih 3 jam sehari kuhabiskan didalam gerbong kereta ataupun peronnya.





Saya terbilang pemain baru dalam dunia percommuteran karena sebelumnya terbiasa sewa kos-kosan demi menghemat waktu. Tapi seiring berkembangnya kebutuhan, keputusan untuk kembali ke rumah orang tua dilaksanakan demi masa depan.




Sudah beberapa bulan ini setiap pulang kantor dan kuliah menggunakan commuter line. Pada awal-awal, commuter line masih terlihat manusiawi dimataku. Jam pilihan pulangku saat itu adalah kereta kedua dari terakhir jalur Bogor-Tanah Abang. Mengapa? Karena saat itulah saat yang sangat indah untuk bertemu dengan tempat duduk yang empuk di gerbong wanita, aka... kosong, tapi tidak sampai terlalu malam dirumah. Saat-saat itupun, menaiki kereta pk.8.00 malam dari tanah abang masih terhitung manusiawi. Walaupun penuh, kaki masih leluasa bergerak kesegala arah.




Bagaimana dengan sekarang? Bisa kukatakan, beberapa hal telah berubah. Saat-saat pulang jam 9.30 malam berubah menjadi kelelahan luar biasa. Satu bulan belakangan ini, kereta yang kunaiki pukul 9.30 malam, tidak pernah sepi penumpang. Tidak pernah aku mendapat tempat duduk, baik itu di gerbong wanita dan di gerbong umum. Kalau ingin dapat tempat duduk perlu naik kereta pk. 10.00 malam dari Tanah Abang, terkadang pun, pk. 10.00 malam ini masih berebutan dengan penumpang lain.




Begitupun kemarin malam. Kondisiku sangat tidak fit. Keadaan peron kereta Tanah Abang - Serpong/Parung Panjang penuh dengan orang-orang yang pulang bekerja. Sungguh ramai. Padahal jam sudah menunjukkan pk. 09.15. Semua orang ini menunggu kereta yang sama. Pada awalnya aku begitu panik melihatnya. Kondisi tubuhku begitu lemas. Aku jadi begitu kuatir untuk tidak dapat tempat duduk.




Kenyataannya pun, aku pasti tidak akan dapat tempat duduk di gerbong manapun. Jadi aku memutuskan untuk naik di pintu gerbong wanita paling belakang, dan mengambil tempat persis sebelah pintu masinis. Voila, aku berhasil. Disaat penumpang sedang rebutan tempat duduk, aku langsung berdiri ditempat yang ingin kutempati.




Pemandangan aneh yang kudapat dari tempatku berdiri, ada dua wanita yang rebutan tempat duduk dengan ukuran sangat kecil. Sebut saja si merah dan si ungu. Yang aku lihat sebenarnya si Merah yang duduk duluan dengan space yang sedikit lega. Baru si ungu memaksa duduk di space yang lebih kecil. Si ungu merasa tidak bisa duduk dengan nyaman sehingga ia terus memundurkan pantatnya untuk dapat tempat duduk yang layak. Ini membuat si merah kesal. Akhirnya si merah bangkit dari tempat duduknya dan mengambil tempat disebelah kiriku dan langsung duduk bersila dilantai dengan muka yang tak bersahabat. Di tempatku berdiri aku hanya bisa membatin, "Commuter memang keras Bung!".




Baru saja kereta jalan, aku dapat cerita menarik lain dari pacarku yang sedang menaiki Commuter jurusan Tanah Abang - Bogor. Sambil duduk aku ketawa-ketawa sendiri membaca bbm darinya. Pasalnya, Ia melihat kenyataan yang cukup lucu. Saat memasuki stasiun Sudirman, pacarku yang duduk di kereta, melilhat bagaimana seorang bapak yang belum cukup tua berebutan tempat kosong dengan seorang wanita muda (yang sudah tidak begitu muda) dari dua arah berlawanan. Mereka berdua berlari-lari dari arah pintunya masing-masing. Menurut keteranga pacarku, wanita itu yang sampai duluan, tapi direbut sang bapak itu. Pacarku hanya geleng-geleng kepala ditempat duduknya, hingga tidak tega dan memberikan tempat duduknya pada wanita tersebut.




Aku yang mendapat bbm tersebut hanya bisa ketawa sekaligus miris. Membatin kembali, "Commuter memang keras Bung!" Ya, kata-kata ini memang benar. Jakarta sudah keras, kemacetan pun keras, tetapi commuter pun tidak mau ketinggalan. Ia ikut keras. Kerasnya commuter berasal dari orang-orang yang cukup keras didorong keletihan mereka ditempat kerja sehingga tidak peduli lagi dengan sesama makhluk sosial lainnya.




Jujur, akupun lumayan susah belajar untuk menjadi orang yang "rendah hati" di tengah-tengah situasi seperti ini. Keletihan dan keadaan commuter yang tidak mendukung, menjadi pemicu untuk bertindak individualis. Tapi kalau bukan dimulai dari kita, siapa lagi yang dapat membuat commuter menjadi lebih bersahabat?




Regards,



28.10.13

Oktober 28, 2013

Backpacker-wanna-be di Bandung

Beberapa hari yang lalu yaitu tanggal 12 April 2013 hingga 14 April 2013, saya berkeliling kota Bandung bersama pacar. Mengapa Bandung, padahal sudah beberapa kali ke tempat ini? Karena dekat dan kami belum pernah melihat kawah putih :D. Pada travelling kali ini kami sepakat berlibur ala backpacker (selain ingin mencoba, keadaan dompet juga menipis, tetapi kami butuh liburan). Persiapan yang dibutuhkan sebelum keberangkatan sungguh rumit. Pasalnya kami berdua yang terbiasa enak saat travelling, disaat akan mencoba backpacker malah kelimpungan sendiri. Pertama mengenai hotel, begitu susah mencari hotel yang low budget. Kedua, kami tergoda menggunakan mobil selama di Bandung, karena Bandung terkenal dengan kerumitan jalannya. Ketiga, mencari waktu untuk mengurusi travelling ini sangat susah dikarenakan kesibukan kerja kami. Akhirnya, voila, kami pun berangkat ke dan kembali dari Bandung ala backpacker.




Jumat, 12 April 2013






Sejak beberapa hari sebelumnya, kami sepakat berangkat menggunakan Cipaganti travel yang ada di Detos. Niat siyh berangkat dengan travel jam 6 tapi karena banyak kendala akhirnya berangkat pk. 08.00 malam sepulang kerja. Sekitar pukul 11.00 malam kami sampai di Pasteur, dan melanjutkan perjalanan menggunakan taksi ke Chez-Bon Backpacker Hostel. Hostel ini kami pilih dikarenakan murah harganya walaupun harus berbagi ruangan dengan orang lain. Ya, namanya juga Hostel. Tapi saya sungguh merekomendasikan hostel ini karena bersih, memiliki servis yang ramah, free wifi dengan koneksi cepat, serta air panasssss. Yang jelas kamar pria dan wanita berbeda.

Selain itu letaknya di jalan BRAGA yang membuat saya mati-matian memperjuangkan hostel ini kepada pacar saya. Tapi berhubung ini hostel, jangan mengharapkan anda memiliki kamar mandi sendiri ataupun TV sendiri. Didalam kamar hanya terdapat bunk-bed dan loker serta ber-AC. Kamar mandi dan TV adalah fasilitas bersama. Namun tak perlu kuatir, hostel ini sangat bersih dan rapih. Jangan kaget saat melihat tempat ini, karena hostel ini terletak di lantai dua dari Kopi Oey di jalan Braga. Jalan masuknya pun kecil dengan plang yang kecil juga, terkesan seperti masuk diskotik (:D). Eit, tenang saja, hostel ini sangat-sangat "halal" disertai satpam yang super ramah. So why not staying in a hostel if you just want to wander around.





Sabtu, 13 April 2013




Malam sebelumnya kami bersepakat untuk keluar dari hostel pukul 6 pagi. Tapi kenyataannya kami baru keluar hostel pukul setengah 7 (ngaret sedikit :D). Berjalan sedikit ke arah jalan Asia Afrika kemudian naik damri menuju Leuwi Panjang. Di Leuwi Panjang, kami naik ELF L300 menuju Ciwidey yang berpenumpang 16 orang. Bayangkan 16 orang!!!!! Dan seninya adalah, saat kami naik angkutan ini pukul 7 pagi, penumpang sudah kurang lebih 10 orang tapi baru berjalan pukul 7.45 menunggu sampai 16 orang.




Sampai di Ciwidey pukul 9 pagi. Lalu kami naik angkot berwarna kuning ke arah kawah putih. Awalnya angkot ini tidak mau di charter karena tidak banyak orang, tapi pukul 09.30 angkot sudah berisi 7 orang, sehingga kami sepakat untuk charter saja dengan harga 10 orang, karena sudah sangat lama menunggu (bayangkan ada 2 orang sebelum saya yang sudah sampai di ciwidey pukul setengah 8 pagi). Daripada kelamaan mendingan sedikit mahal deh. Menurut aa supir angkotnya, biasanya penuh di pukul 10 pagi.




Jadi yang mau kesana, disarankan baru sampai ciwidey pukul 10 pagi supaya charter angkotnya dengan harga murah dan sudah keliling ke kawah putih, situ patenggang, dan kebun strawberry. Saya pun menyarankan untuk charter angkot saja dibandingkan naik angkot dengan ongkos biasa, karena naik angkot ditengah jalan di ciwidey itu sangat susah dan lama, armada angkotnya sedikit.




Perjalanan 30 menit ke kawah putih sungguh tidak terasa, karena disuguhkan pemandangan lembah dan gunung sepanjang perjalanan yang begitu indah dan menyejukkan. Kami sebagai orang Jakarta yang selalu melihat kemacetan dan menghirup polusi merasa sangat segar di perjalanan. Di Kawah Putih pun kami cukup senang karena cuaca cukup cerah sehingga airnya pun terlihat biru kehijau-hijauan. Hanya sayang setengah jam kemudian mulai terlihat mendung, kabut belerang pun mulai keluar sehingga membuat sesak nafas. Memang sebaiknya cukup 15 menit saja berada dekat di kawasan kawah putih sesuai dengan petunjuknya karena membahayakan pernafasan.




Bandung




Setelah selesai berfoto-foto ria, hujan tiba-tiba mengguyur sehingga mengharuskan kami kembali ke angkot charteran dan langsung berangkat ke Situ Patengang. Awalnya sedih juga melihat kondisi cuaca sehingga tidak bisa menikmati kesejukan kebun teh dan situ disaat cerah. Tapi setelah menunggu sambil makan siang, kami bisa berfoto-foto dengan background kabut yang menyegarkan (cenderung dingin sih) walaupun mendung sambil menyeberang ke batu cinta.




Setelah puas kami pun kembali ke Ciwidey. Sebelumnya kami berencanan ke kebun strawberry tapi karena kami terlalu lama menunggu hujan reda sehingga waktu pun tidak mencukupi. Pukul 4 sore kami sampai ciwidey, pukul setengah 7 malam kami baru sampai lagi ke Leuwi Panjang karena berbagai macam hal: angkot elf L300 kami mengalami ban gembos ditengah jalan ditambah lagi macet yang luar biasa dijalan kopo dengan kondisi hujan deras dan pengap didalam L300 yang mengangkut 17 orang!!!




Akhirnya pukul 8 malam kami sampai kembali di Braga setelah muter-muter dengan angkot sampai Dago dan Bandung Indah Plaza. Di Braga kami memutuskan nonton Oblivion di Braga City Walk lalu merencanakan hunting foto di Braga setelah nya. Tapi karena film baru selesai pukul 12 malam kami sudah tidak punya kekuatan lagi sehingga kami memutuskan untuk balik ke hostel dan beristirahat.




Minggu, 14 April 2013




Hari ini karena kecapean kami baru siap sekitar jam 8 pagi lalu dilanjutkan breakfast di hostel. Breakfast di Hostel ini pun sebenarnya standard yaitu hanya telur dan roti yang kita buat sendiri ditambah teh ataupun kopi panas. Tapi tetap menyenangkan serasa breakfast ala orang-orang kulit putih di Eropa.




Lalu kami mampir sebentar di Museum Konferensi Asia Afrika pukul 10 pagi. Setelah itu lanjut untuk pulang kembali ke Jakarta menggunakan Prima Jasa dari Leuwi Panjang pukul 12 siang. Pukul 3 sore kami sudah sampai Jakarta.




Begitulah perjalanan kami, walaupun sebentar cukup menyenangkan dan dapat berkenalan dengan 5 orang baru hasil dari charter angkot ke Kawah Putih. Backpacker ternyata menyenangkan juga dan berseni.








Regards,



sans-sign

 



NB: I'll update with more photos later. Happy reading ^^


Oktober 28, 2013

Perjalanan Singkat di Singapura

Tidak menyangka sudah satu tahun berlalu sejak perjalanan dinas pertama kali ke Singapura. Sungguh menyenangkan mendengar bahwa diriku diberi kesempatan berangkat ke negeri tetangga. Apalagi setelah bos mempercayakan diriku berangkat ke Malaysia satu bulan sebelumnya.








Singkat cerita, perjalanan bisnis ini dimulai dengan sangat menyenangkan. Aku dijadwalkan untuk berangkat pada hari Minggu, 25 Maret 2012 dengan penerbangan sore. Ternyata tante bersama om dan anaknya sedang trip ke Singapura. Aku mengetahuinya saat bertemu saudara di gereja pagi sebelum keberangkatan. Akhirnya sepulang dari gereja aku langsung menghubungi tante ku dan kami janjian untuk bertemu sesaat setelah aku sampai di Singapura.




Trip kali ini aku menggunakan penerbangan Garuda. Pelayanan yang ramah disertai dengan makanan yang sedap membuat perjalananku selama di pesawat begitu menyenangkan. Setiba di Changi International Airport dan dimulai dari sinilah aku terkagum-kagum dengan Singapura. Airport nya begitu besar sehingga saat turun aku sedikit kebingungan, bagaimana caraku menuju pintu depan airport ini untuk mencari taksi *udik ya 8D*. Eh ternyata ketemu orang Indonesia juga yang juga lagi berbicara dengan temannya bahwa untuk menuju lobby supaya lebih cepat menggunakan kereta penghubung airport. Aku yang tak sengaja menguping mengikuti petunjuknya. Sesampai di loket imigrasi aku masih tak berhenti terkagum-kagum dengan Changi sampai tersadar bahwa aku harus menghubungi tante. Setelah kuhubungi kami memutuskan bertemu di Marina Bay Sands setelah aku check-in di hotel.




Dari airport aku langsung menuju hotel. Diperjalanan, kembali aku terkagum dengan negara ini, bersih, teratur, dan tidak macet. Jalan-jalan kuperhatikan dan kondisi langit masih cerah cenderung mendung padahal waktu sudah menunjukkan jam 6 sore.




Sampai hotel (yang dengan udiknya aku memperhatikan conveyor membawa tas ku naik dari undakan tangga bawah hingga tangga atas ke arah lobby hotel) dan check-in di Park Royal hotel aku kembali menggunakan taksi menuju Marina bay sands masih dengan terkagum-kagum melihat jalanan disana walau sedang gerimis. Supir taksinya pun baik. Kami berbincang sedikit tentang Jakarta dan Singapur.




Sampailah aku di Marina Bay Shopping Center bertemu dengan tante, om , dan sepupu kecilku. Kuakui mall yang sangat indah dan megah. Ada sungai kecil dalam mall dengan gondola nya yang super bersih dan Kasino dengan penataan mall yang sangat apik beserta toko-toko yang berkelas seperti Louis Vuitton mall. Sesampainya disana kami langsung makan di food court. Aku memesan bakmi khas Singapura. Setelah makan dilanjutkan ke SkyPark Marina. Ini yang tak terduga, aku tidak menyangka akan melihat lampu-lampu Singapur dari ketinggian di malam hari. Yah walau begitu tiket hanya untuk melihat lampu-lampu malam ini begitu mahal.




Dikarenakan waktu pun sudah hampir tengah malam, kami berniat pulang. Aku dihantar tanteku terlebih dahulu ke hotel, ingin beristirahat sebentar kemudian tante ku pulang ke hotel tempatnya menginap. Lalu aku melanjutkan diri berpose disetiap sudut kamar hotelku.




Hari selanjutnya, seminar dimulai. Kurasa perihal seminar tak perlu kuceritakan. Mungkin hanya sedikit berbagi saja. Aku bertemu orang-orang pintar dari Panasonic Group termasuk 2 orang Indonesia dari Batam. Hari pertama seminar ini ditutup dengan makan bersama di Restaurant tempat ku (tempat para peserta seminar) menginap. Bisa dibilang buffetnya cukup sedap dengan beragam variasi makanan. Sama halnya seperti kita ke Kempinsky atau Shangrila di Jakarta. Tapi kumpulan sushi nya enak sekali.




Setelah makan malam, banyak peserta ingin jalan-jalan mengelilingi Singapura. Aku entah kenapa sedang tidak berselera untuk jalan-jalan jadi hanya jalan-jalan disekitar hotel termasuk beli oleh-oleh di Mustafa yang letaknya hanya disebelah hotel tempat ku menginap. Padahal waktu malam itu pun masih panjang.




Hari kedua, hari terakhir seminar. Aku bekerjasama dengan orang-orang yang luar biasa punya posisi diperusahaannya dan benar-benar mengerti tentang manufaktur. Aku kagum dengan mereka. Saat sudah jam pulang, rata-rata dari peserta seminar pulang malam itu, berbeda dengan diriku yang pulang keesokan harinya. Aku sempat bingung kemana aku menghabiskan malam ini. Sehingga memutuskan untuk melihat Singapore Flyer. Sebenarnya ada yang menyinggung-nyinggung mengenai Sentosa Island tapi aku lebih tertarik ke Singapore Flyer. Maka itu pulang seminar, aku menuju hotel terlebih dahulu meminimalisir barang bawaanku lalu pergi lagi.




Aku menuju Suntec City Mall menggunakan taksi (padahal jika menggunakan MRT lebih murah dan sama cepatnya, sayang aku belum ngeh saat itu, aku pikir masih lebih cepat dengan taksi). Sebelum menuju Singapore Flyer, aku kelilingi mall tersebut dan makan malam sebentar. Serta melihat Singapore Fountain of Wealth yang menjadi bagian mall tersebut, yang tercatat sebagai fountain terbesar di dunia versi Guiness Book of Record tahun 1998. Disaat hujan sudah mulai reda, waktu pun sudah menunjukkan pukul 6 sore (dengan cuaca masih cerah) aku jalan kaki menuju Singapore Flyer yang letaknya dekat dengan mall tersebut.




Tiket yang dibeli cukup mahal untuk ukuran orang Indonesia :D tapi sudah di singapura mengapa tidak menikmatinya. Flyer ini berputar 1x dengan durasi 45 menit. Menyenangkan juga menikmati Singapur dikala malam sendirian tapi kayaknya akan lebih menyenangkan jika ada yang menemani. Kalo foto-foto susah juga :D.








Singapore Flyer aku ingin sekali melihat esplanade dari luar kemudian melihat Merlion kecil lalu menyusuri sungai dengan River Taxi. Jadilah seperti yang terjadi. Turun dari Singapore Flyer berfoto dengan fountain kecil lalu menyusuri marina Double Helix Bridge lalu kembali untuk berjalan melewati Marina Bay Floating Stadium menuju Esplanade dan kemudian sampai di Fullerton menuju Merlion Park melihat patung Merlion kecil. Barulah dari Merlion Park ini menggunakan Taxi River ke Clarke Quay. Hanya ada satu hal yang terlewatkan, aku terlambat menyaksikan fountain show di Marina Bay. Setelah aku naik Taxi River, fountain shownya mulai. Karena jarak pandang cukup jauh jadi tidak dapat melihat dan mendengarkan dengan jelas. Padahal ingin sekali!!!! Dan hal lain yang terlewatkan adalah, aku tidak menyusuri jalan di Rafles karena aku keburu membeli tiket Taxi River hingga Clarke Quay. Aku hanya bisa menikmati Raffles road dari perahu dan sudah tidak punya kekuatan untuk berjalan kaki balik ke Raffles.




Sampai Clarke Quay yang terlihat dimana-mana adalah bar. Tapi yang menarik perhatianku adalah fountain nya yang menarik dengan warna-warni cemerlang serta permainan G-Max Reverse Bungy. Kita perorang atau perkelompok ditempatkan dalam dudukan dalam lingkaran kemudian dilemparkan ke langit lalu balik lagi layaknya bungy jumping (ya mungkin kayak trampolin hanya lompatannya ini lebih tinggiiiiii!!!!). Ingin sekali menaikinya hanya sayang harganya begitu mahal dan ngeri juga liatnya ya dilempar seperti itu walaupun dalam kapsul. Mungkin kayak bermain histeria di Dufan.




Akhirnya aku kelelahan juga dan teringat aku belum beli oleh-oleh yang banyak jadinya aku berniat kembali ke hotel dan berbelanja di Mustafa. Aku  berjalan mencari MRT dan lama sekali tidak ketemu padahal menurut peta stasiun MRT nya dekat dari Clarke Quay. Peta bolak-balik kubaca dan mulai curiga aku sudah nyasar karena yang aku liat dikiri kanan adalah pertokoan walau halte bus sering kulewati (tapi aku tidak mau mengambil resiko naik bus dimalam hari saat aku tidak tau rutenya). Hingga akhirnya aku sadar aku salah baca peta!!!! Tapi untungnya MRT disana tersebar dimana-mana jadi tetap ketemu MRT juga. MRT yang kutemukan  dekat dengan gereja katolik yang menurutku megah (tapi masih megahan Cathedral di Jakarta 8D). Uniknya selama mencari dimana MRT tersebut aku menemukan Museum Filateli Singapura. Karena sudah malam jadi pastilah tidak buka. Tapi selalu jadi angan-angan, ingin sekali masuk ke Museum ini.




Dan dimulai lah pengalaman pertamaku naik MRT. Dengan udiknya aku bertanya kepada petugas di stasiun, lalu dengan lamanya aku membaca daftar harga dan tujuan untuk membeli kartu MRT padahal banyak yang antri (orang singapura berjalan sangat cepat dan melakukan apapun dengan cepat makanya kagok dan deg-degan juga takut disangka orang aneh malam-malam begitu). Walau begitu naik MRT juga aku walaupun aku salah menggunakan pintu keluar sehingga agak sedikit jauh menuju hotel. Terowongan MRT begitu banyak jadinya kebingungan deh. Singkat cerita aku belanja dulu di mustafa, kemudian ke SeVel sebelah hotel lalu kembali ke hotel. FYI harga satu botol air putih 1.5L di hotel Singapura begitu mahal (hotelku memberi charge $5 Singapur per botol), kalau beli di Seven Eleven yang lagi promo sekitar $2 (tetep aja mahal siyh untuk ukuran orang Indonesia yang memiliki air melimpah).




Sampai hotel tengah malam lewat dikit aku langsung packing dan hitung-hitung uang sisa. Tapi badan mulai merasa tak enak. Meriang menyerangku. Walau begitu aku tetap memikirkan besok pagi sebelum pulang akan kemana. Tadinya aku ingin makan pagi di hotel dulu trus jalan ke orchard road. Tapi aku berpindah haluan. Setelah bangun pagi di hari ke-3 (dan hari kepulangan), aku bergegas mandi lalu meluncur ke Sentosa Island!!!! Memang pusat-pusat wisata di sana buka diatas jam 8. Tapi pulau sentosanya sendiri sudah buka dari jam 7. Jadi kenapa tidak. Dibandingkan ke Orchard yang mallnya belum buka dipagi hari (apalagi hari itu hari kerja).






So, go to Sentosa Island menggunakan MRT, dan hanya 15 menit perjalanan. Untuk ke Sentosa pemberhentian terakhir MRT adalah HarbourFront Station lalu dari situ bisa menggunakan monorail Sentosa Express ke Sentosa yang hanya 5 menit perjalanan, atau menggunakan kereta gantung yang pagi-pagi seperti itu belum buka, atau berjalan kaki menyusuri Sentosa boardwalk. Aku memilih jalan kaki, karena boardwalknya sungguh indah dan rapih serta besar disertai travelator lowh kalo capek berjalan kaki.






Sampe pintu gerbang sentosa, aku langsung membeli tiket mengelilingi sentosa sebesar $1 (kalo naik Sentosa express bayar $3 sekalian dengan masuk sentosa Island). Ternyata baru masuk ketemu orang-orang Indonesia lagi jalan-jalan (karena sampai sentosa jam 7 pagi jadi masih sepi pengunjung). Didalam Sentosa island aku hanya bisa foto-foto di pintu masuknya saja seperti pintu masuk Universal Studio, patung Merlion, ataupun sekadar lookout di Imbiah melihat butterfly park dan melihat singapore skyline bergerak naik. Tadinya aku mau naik skyline tersebut tapi aku takut gambling, takut tidak keburu balik untuk check out dan terlambat naik pesawat. Alhasil hanya melihat. Aku pun jadi sempat menyesal, kenapa tidak ke sentosa di malam hari sebelumnya. Kalau ke Sentosa aku bisa menonton pertunjukkan Songs of The Sea. Well yeah, pada akhirnya itu menjadi bagian rencana travel selanjutnya.
auto32    auto54




Balik dari sentosa aku menggunakan Sentosa Express menuju HarbourFront (kalau jalan kaki terlalu lama dan jauh). Kalau kita menggunakan kereta ini dari Sentosa island tidak dikenakan charge apapun. Jadi hanya untuk berfoto di Sentosa Island dari harbour front dan kembali kesana hanya $1 :D.






Perjalanan pulang dimulai, aku kembali ke hotel dan check out. Sampai di airport pun hampir ngepas (flight ku jam 12.00 siang dan aku baru sampai bandara jam 11.00 kurang sedikit, untungnya masih bisa check-in) bahkan disuruh jalan cepat atau naik kereta sama petugas check-in nya karena boarding gatenya paling jauh. Walau begitu aku tetap masih keburu menukar uang. Setelah duduk dalam boarding gate aku baru sadar, aku benar-benar meriang. Tambahannya, waktu baru take off udara dalam pesawat dingin sekali karena suhu diluar pesawat sangat tinggi dikarenakan hujan. Tapi setelah ditiduri beberapa lama lalu makan hidangan yang disediakan meriangku sedikit mereda. Akhirnya tibalah aku di Jakarta dengan senyum ceria.
Photo49  




Regards,

sans-sign
Oktober 28, 2013

Turn Your Short Business Trip to A Memorable One

April 2012, satu tahun yang lalu, kesempatan datang kembali kepadaku mengunjugi negara tetangga, Singapura. Pastinya untuk business trip. Tapi bukannya aku senang, jujur aku tidak ingin. Mengapa? Karena kala itu aku dikirim untuk presentasi di depan puluhan orang dari berbagai negara di asia pasific. Ditambah lagi namanya juga business trip, hanya boleh semalam disana, berangkat penerbangan malam setelah kantor, begitu pun pulangnya langsung setelah seminar. Tambah tidak semangatlah aku untuk berangkat kala itu. But it turned good to me. Why?








Pertama, aku bisa merasakan penerbangan singkat menggunakan Singapore Airlines. Bilang saja saya udik, tapi itu kali pertama naik pesawat super besar dengan kecepatan super tinggi, duduk di samping emergency exit yang tidak bisa lihat view diluar (walaupun ga bisa dilihat juga karena penerbangannya jam 7 malam), dikeliling penumpang-penumpang asing, makanan yang super sedap, serta penerbangan gratis tentunya. I can say it was great!!!




Kedua, hotel tempatku menginap ternyata di depan salah satu pertokoan yang menjual buku-buku bekas dengan kondisi bagus serta murah. Itu berarti aku bisa hunting buku. Dan itu yang kulakukan pada keesokan harinya. Dikarenakan penerbangan pukul 10 malam jadilah selesai seminar pukul 5 sore aku kembali ke hotel bersama beberapa peserta seminar lainnya menggunakan shuttle bus yang disediakan penyelenggara lalu keliling-keliling Bras Basah Complex membeli buku murah. Owh great!!!







Ketiga, untuk yang pertama kali aku bisa menikmati kamar hotel ditengah malam dikarenakan aku harus mempersiapkan bahan presentasiku. Walau mengantuk cukup menyenangkan, karena kamarnya colorful walaupun kecil. TV yang disediakan TV LED 32" walaupun tidak sempat dinyalakan. Duduk di meja kerja hotel sambil begadang berasa seperti seorang executive muda yang super sibuk. Xixixixi....



Photo6





Keempat, tumben-tumbenan tidak selera makan pagi. Ya jelaslah, mau presentasi didepan orang-orang yang memiliki bahasa berbeda dengan kita jelas bikin penuh perut dengan kegugupan. Setiap menit itu berharga sekali. Eh tapi habis presentasi  banyak yang ngajak tukeran kartu nama (walaupun presentasinya jelek banget.. hehehehe). Berasa menjadi orang penting sekali-kali menyenangkan juga loh. :D




Kelima, dikelilingi orang-orang sebangsa yang sangat mendukung saat mau presentasi rasanya tak ternilai. Peserta seminar yang dari Indonesia nya cukup banyak. Padahal belum pernah bertemu sebelumnya tapi disana tidak ada rasa sungkan sama sekali malah saling berbagi kelakar dan mereka udah pada bos-bos semua.




Keenam, bisa liat Singapore National Library dari luar, soalnya jam 5 udah tutup. Yang ternyata juga library nya ternyata didepan hotel tempatku menginap dan sebelahan sama Bras Basah Complex. Tapi keren bokkkkk. Udah dimasukkin daftar, mengunjungi Singapura harus mengunjungi perpustakaan ini. Walau dijamin pasti ribet biar bisa masuk. Still, must be on my list.


Ketujuh, akhirnya bisa liat juga yang namanya Bugis Junction dan menyusuri pasar di Bugis sekalian beli oleh-oleh. Tempat kongkow yang cozy menurutku, karena dipenuhi eksekutif muda yang necis dengan pakaian kerjanya. Tapi jangan ketipu sama barang-barang yang dijual disana ya, karena menurutku sama seperti yang setiap kita lihat di Jakarta seperti Tanah Abang or Mangga Dua (bahkan lebih bagus di Jakarta). Serunya, sangking asyiknya menyusuri bugis street tau-tau udah sampe Little India dengan kondisi kelelahan.

Kedelapan, ngelewatin depan istana negaranya Singapura. Well, only the gate, but still I saw it in only a short period of time though in the dark from my taxi. Terus ngeliatin lampu-lampu semarak di orchard road,walaupun tergoda banget untuk mampir di Ion. Yah apa daya, kaki sudah tak kuat melangkah. Padahal tadinya dari Little India rencana mau naik MRT ke orchard sambil keliling-keliling. Tapi kakinya udah ga kuat banget,sakit karena menggunakan sepatu yang salah serta barang bawaan yang sudah terlalu berat sama oleh-oleh. Tips: walau business trip,pakai sepatu resmi senyaman mungkin dan bawa barang seringkes mungkin.




Kesembilan, bisa nikmatin Changi airport yang luas, dan penuh karpet-karpet yang elegan itu. GI aja kalah!!!





Photo46




Kesepuluh, kembali ke Jakarta dengan SQ, welcome good food!!!!




Overall, if we can feel every minute of our short trip, every scene around us, and every step we take in a limited of time, SHORT BUSINESS TRIP even the boring one can add one new experience of our travel diary and open new perspective of travelling. It's always worth the price.


 


Happy Travelling!!!!!




 



Regards,


sans-sign

24.5.13

Mei 24, 2013

Seberapa Tertantang Dirimu?

Melihat kembali blog saya dari atas hingga kebawah sesudah mengalami perubahan besar cukup membuat saya tercengang. Pasalnya, saya menyadari satu bagian yang ternyata menjadi titik kelemahan saya beberapa tahun belakangan ini. Inilah yang membuat saya kembali merenung di depan layar monitor:

"Tantangan Membaca Tahun 2013: Sandrine telah membaca 0 buku dari tujuan 12 buku." Sadis memang, belum menghabiskan 1 bukupun hanya dari 12 buku saja. Padahal jika ditilik kebelakang, sampai saya lulus SMA, sudah kurang lebih 200an buku yang saya habiskan dari berbagai genre dimulai dari novel, komik, dan buku motivasi (untuk hal ini buku pelajaran tidak masuk hitungan karena yang saya baca hanya sepenggal-sepenggal saja).






Tapi sekarang kemana rasa ingin tahu itu pergi? Kelihatannya tergantikan dengan facebook, twitter, path, instagram, serta socmed lainnya. Tidak menyalahkan kehadiran socmeds tersebut, tapi bagi saya pribadi waktu yang dihabiskan didepan media-media sosial tersebut mengalahkan keinginan untuk beranjak dari tempat tidur memilih buku untuk dibaca yang sudah lama bertengger di rak buku saya. Waktu-waktu didepan media sosial pun mengalahkan gerak jari saya memilih ratusan e-book yang selalu saya beli ataupun unduh didalam player saya. Semua buku ataupun e-book ini hanya aksi dari pengeluaran uang saja tanpa ada reaksi dari mata yang jelalatan pada ribuan kata.

Saya sampai melupakan "2013 Reading Challenge" yang saya ungkapkan sendiri di awal tahun 2013 ini. Tahun lalu saya juga membuat reading challenge yang sama dan berhasil membaca beberapa buku walau tidak lebih dari 10 selama satu tahun--perihal ini saya tidak mencantumkan dalam goodreads saya. Sehingga ini memotivasi saya untuk kembali menjalankan reading challenge di tahun ini. Tapi akhir-akhir ini saya selalu menyalahkan waktu. Saya terus berkata, "saya tidak punya waktu", "pekerjaan saya menyita waktu saya", "sekarang saya sudah kuliah", "saya sudah tak sendiri lagi", dan berbagai macam alasan lain.

Tapi benarkah itu semua halangan?

Saya jadi berpikir, itulah TANTANGAN!

Tantangan tidak akan ada jika tidak ada halangan. Saya perlu mendeskripsikan semua tantangan saya:

1. Saya terus berpikir bahwa pekerjaan saya menyita waktu saya --> berarti saya harus belajar memanage waktu saya

2. Saya terus berpikir bahwa saya tak sendiri lagi --> selain memanage waktu saya, paling tidak ajaklah pasangan untuk belajar membaca. Jika tidak suka, saat pasangan nonton, kenapa kita tidak membaca.

3. Saya terus bepikir bahwa sekarang saya sudah kuliah --> membacalah text book dengan tekun, textbook tetap adalah buku untuk memperluas wawasan dan menambah ilmu yang dapat dibagikan kepada orang lain.

4. Saya terus berpikir bahwa saya tidak punya waktu --> ini sangat serius, buatlah jadwal harian serinci mungkin. Kesukaan saya adalah membaca novel, berarti paling tidak saya harus memberi paling tidak 2 jam seminggu untuk membaca novel, 2 jam seminggu untuk membaca buku motivasi, dan 4 jam seminggu membaca textbook (tetap ini lah prioritas utama saya), serta luangkan waktu sedikit membaca koran supaya tidak kuper perharinya. Paling tidak 30 menit.

5. Saya ingin terus banyak menulis --> menulis dapat dilakukan kalau kita banyak membaca.

Jadi tidak ada alasan lagi untuk membuat telur saya tidak pecah. Yang menjadikan itu halangan berubah menjadi tantangan. Starting now I dare myself to read at least one book in a month, aaaaannnyyyy kind of books. How about you?

Regards,










follow us in feedly

1.1.13

Januari 01, 2013

Malaysia I Was in Lost (Part 2)



Walaupun terlihat tenang diluar, aku nervous berat. Kontak pertama yang kudapat dari Indonesia tidak bisa kuhubungi. Hampir 2 jam aku menunggu ditempat yang salah itu. Di pikiran terbersit rasa kesal. Mungkin seminar itu dibatalkan tapi hanya aku yang tidak diberitahu. Terbersit juga rasa takut, kalau memang dibatalkan masakkan aku hanya tinggal di hotel selama 3 hari, yang notabene hotel itu jauh dari mana-mana, cari makan murah susah, dan kondisi keuangan sangat menipis karena habis untuk deposit.







Singkat cerita, dengan penuh rasa terima kasih dari rekan-rekanku dikantor, aku berhasil mendapatkan nomor yang harus kuhubungi. Setelah ku telpon, betapa kagetnya aku karena aku akan dijemput bukannya pergi sendiri ke tempat seminar yang ternyata dipindah itu. Jadi perlukah aku kesal? Yang penting sekarang dapat kabar baik.




Akhirnya yang menjemputku datang. Dan jujur saja, dia seorang pria jepang tampan. Aku kira yang menjemputku tadinya adalah seorang supir, tapi ternyata yang menjemputku langsung sang bos penyelenggara seminar dengan mobil priusnya yang wow. Wooohhh. Kekesalanku makin teredam.




Ternyata setelah diberitahu, semua itu memang kesalahan dari penyelenggara seminar. Ada perubahan tempat seminar dan hotel, tapi hanya aku yang tidak diberitahu. Mereka sangat mencari-cari diriku dari pagi tapi tak ketemu. Anehnya mereka sempat menghubungiku di hotel tempatku menginap pertama, tapi kata pihak hotel tidak ada namaku. Hmmm, sungguh aneh.




Pendek kata, akhirnya aku bisa seminar walaupun jadinya datang telat di hari pertama. Setelah hari pertama seminar, pihak penyelenggara mengadakan welcome dinner di salah satu restoran dekat dengan hotel. Tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata, tapi aku sangat senang kala itu. Makanannya pun enak. Kenalan pun bertambah. Dari yang sebaya hingga yang lebih tua. Bahkan ada satu cerita yang sangat kuingat kala itu.








Saat itu aku berkenalan dengan salah satu peserta seminar berasal dari Jepang, tapi ternyata pernah tinggal lama di Australia. Dia dulunya bekerja di Panasonic juga. Tapi karena kegigihannya untuk belajar Bahasa Inggris di Australia (ya dengan kumpulan biaya pribadi dia ke Australia selama 2 tahun hanya untuk belajar bahasa Inggris, dengan membawa ijazah bachelor seorang engineer) dia dipercaya membuka pabrik Panasonic di Inggris. Wew. Disitu aku belajar bahwa nothing is impossible if we wanna work a little harder, of course in God's will.




Keesokan harinya seminar kembali diadakan, hingga waktu yang ditentukan. Bahkan foto bersama pun sudah menjadi kewajiban. Yang sangat menyenangkan adalah ketika pulang, aku ingin sekali jalan-jalan dengan kenalan baruku Ms. Hang. Sebenarnya keinginanku adalah melihat menara kembar itu walaupun tidak bisa masuk sampai keatas karena sudah malam dan sudah tutup (saat sedang membicarakan jalan-jalan waktu sudah menunjukkan pk. 06.00 sore tetapi matahari masih sangat terik, di sana matahari terbit pk. 07.00 pagi dan terbenam pk. 07.00 malam). Tapi berhubung menurut orang-orang lumayan jauh dari tempat itu ya kita memutuskan tidak jadi karena kita hanya berdua wanita, walaupun aku kecewa.




Mungkin kekecewaan itu terlihat di mata rekan dari orang jepang yang menjemputku kemarin. Akhirnya dia mau mengantarku ke twin tower bersama Ms. Hang dan meminta dua teman laki-laki teman seminar kami untuk menemani kami hingga hotel.








Dan voila, sampailah kami di twin tower, dinner di Dome, foto-foto disana, kemudian ke sunway pyramid foto-foto walaupun mallnya sudah tutup, dan diantar kedua teman lelaki itu sampai hotel lagi. Benar-benar baik mereka.

DSCF0426   DSCF0488


Dan keesokan harinya aku sudah harus kembali ke Jakarta. Penerbangannya pk. 09.30 pagi yang mengharuskanku berangkat dari hotel pk. 06.00 pagi menggunakan taksi eksekutif, dengan sinar matahari belum sama sekali tampak. Wihhhh......





Sungguh perjalanan bisnis ini memang istimewa. Dari Kesasar hingga Keceriaan nampak. Memang selama disana tidak ada tempat-tempat wisata yang dikunjungi, tapi cukup banyak pelajaran dan keceriaan yang kudapat. Aku berharap suatu hari nanti bisa balik dan menikmati segala tempat wisata yang ada disana.

Regards,

sans-sign

About

authorHello, my name is Sandrine. I'm a working mom who loves to read and wander.
Learn More →



Total Tayangan Halaman