Apa Siyh Produktif Itu?

by - Senin, November 16, 2015

Sehabis blog walking beberapa hari terakhir ini tetiba saya jadi ingin menulis mengenai Produktifitas. Dari salah satu post blogwalking saya, saya dapat link yang mengarah ke post lama (post di awal tahun) dari mba Alodita. Post ini membuat saya sangat tertampar. Mengapa? Karena justru saya merasa diperbudak aktifitas tapi kok tidak produktif sama sekali sebagai seorang pekerja ataupun sebagai seorang istri. Saya selalu ngerasa kehabisan waktu tapi mencapai hasil apa-apa, tidak menikmati apa-apa, tidak merasakan kualitasnya di hal terkecil yang saya lakukan sekalipun.



Membaca artikel mba Alodita tadi saya jadi tersadar bahwa saya terlalu banyak mau ini dan itu, semua-mua ingin dilakukan tapi nyatanya tidak ada yang beres hanya kecapean aja ditambah banyak printil-printil yang harusnya tidak saya lakukan. Apalagi niyh saya jadi ngebayangin aktifitas tiada henti yang akan saya lakukan sesudah punya anak nantinya. Saya tidak ingin mempunyai kehidupan yang hanya rutinitas belaka tapi tidak produktif. Bagi saya kurangnya produktifitas itu sama saja dengan tidak mensyukuri dan menikmati hidup.



Menurut kamus besar bahasa Indonesia:




"produktif/pro·duk·tif/ a 1 bersifat atau mampu menghasilkan (dalam jumlah besar): perkebunan itu sangat --; 2 mendatangkan (memberi hasil, manfaat, dan sebagainya); menguntungkan: tabungan masyarakat dapat dipinjamkan kembali untuk keperluan --; 3 Ling mampu menghasilkan terus dan dipakai secara teratur untuk membentuk unsur-unsur baru: prefiks meng- merupakan prefiks yang --;"




Dari pengertian itu jelas bahwa menjadi produktif berarti bisa memberikan manfaat entah buat diri sendiri ataupun buat orang lain dan dilakukan secara terus-menerus. Untuk itulah saya jadi menyadari bahwa menjadi produktif berarti butuh pengaturan diri kearah yang lebih disiplin. Untuk mengarah ke kehidupan yang produktif saya mulai bertekad mengorganisir hidup saya dengan sebuah Planner. Yup, yup... P-L-A-N-N-E-R alias buku agenda!!! Kalau bahasa zaman saya SMP dulu itu sama dengan organizer itu lowh... Sebenarnya sebagai seorang pekerja saya sudah bergonta-ganti buku agenda, dari yang tebal kemudian yang tipis kemudian mulai digital hingga balik lagi ke yang tradisional. Kali ini saya bertekad memiliki buku agenda setipis mungkin dikombinasikan dengan penggunaan gadget.



New PictureNah ini adalah bagian yang tricky. Kenapa tetap pakai gadget? Karena untuk beberapa hal saya masih perlu yang mobilitas. Contohnya kalau mau transfer uang lewat ATM, akan lebih menyulitkan jika saya harus membuka buku agenda saya ketimbang membuka gadget. Namun ini yang perlu diperhatikan, saat membuka gadget perlu batasan. Seperti kata mba Alodita perlu ada batasan bahkan untuk memeriksa email sekalipun. Kalau mba Alodita bertekad untuk mengurangi penggunaan gadget saat weekend demi quality time bersama keluarga, saya yakin saya pun bisa asalkan saya punya tekad untuk mematuhi isi agenda saya sendiri.



Eitsss.. jangan berpikir kalau ini artinya hidup terlalu diatur-atur dan membatasi ruang gerak ya. Bagi orang seperti saya, pengaturan yang baik justru bikin saya tidak stres atau mumet sendiri. Justru kalau tidak ada koridor pengaturan tersebut saya cenderung jadi reckless. Namun tidak juga saya jadi saklek dengan aturan yang saya buat sendiri. Saya hanya ingin lebih disiplin dan produktif untuk masa depan saya dan keluarga. Saya belum tahu seberapa riwehnya nanti saat punya anak. Mudah-mudahan agenda saya dapat berjalan sampai seterusnya dan membantu saya mencapai seluruh cita-cita saya dan keluarga kearah yang lebih bermanfaat.



Bagaimana denganmu? Seperti apa produktifitas untukmu?



Regards,



sans-sign



New Picture



You May Also Like

15 Comments